Artikel

Suku Lanny: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal di Papua Pegunungan

Wamena - Papua Pegunungan menyimpan ragam budaya yang kuat dan berakar — salah satunya suku Lani (sering disebut Lani atau Lanny), yang mendiami wilayah pegunungan tengah termasuk Kabupaten Lanny Jaya dan sekitarnya. Kehidupan masyarakat Lani memadukan kearifan tradisional, struktur kekerabatan yang rapat, serta adaptasi terhadap arus pendidikan dan pembangunan modern.

Asal-usul, bahasa, dan wilayah

Suku Lani termasuk kelompok etnik yang bahasa dan budayanya berdekatan dengan rumpun Dani—dituturkan di kampung-kampung seperti Ninabua (Distrik Tiom) serta desa-desa di Lanny Jaya. Peta bahasa resmi mencatat Bahasa Lani sebagai bahasa daerah yang masih hidup di sejumlah kampung pegunungan. Informasi sebaran bahasa ini penting untuk program pendidikan dan pelestarian budaya lokal.

Kehidupan sehari-hari: pertanian, babi, dan gotong royong

Ekonomi rumah tangga Lani masih sangat bergantung pada pertanian subsisten: ubi jalar dan umbi-umbian adalah makanan pokok, sementara babi memegang peran sosial-ekonomi dalam ritual adat, mas kawin, dan pertukaran status antar keluarga. Pekerjaan berat dan pembangunan honai biasanya dikerjakan bersama—menegaskan nilai gotong royong di lingkungan pegunungan yang geografisnya menantang.

Baca juga: Rumah Adat Papua: Jenis, Fungsi, Keunikan dan Filosofi

Honai: arsitektur lokal yang cerdas

Rumah tradisional honai adalah ciri visual paling dikenal dari masyarakat pegunungan. Honai dirancang untuk menahan cuaca dingin: atap jerami tebal, dinding kayu dua lapis, pintu rendah, serta ruang perapian di tengah sebagai pusat kehangatan dan interaksi sosial. Struktur ini bukan sekadar adat estetis — melainkan hasil kearifan teknis nenek moyang yang mempertimbangkan fungsi, keamanan, dan iklim.

Ritual Bakar Batu (Barapen), lebih dari sekadar makan bersama

Bakar batu (dikenal juga sebagai barapen atau bakar batu) adalah ritual memasak batu panas yang menjadi momen sosial penting: merayakan panen, menyambut tamu, hingga mempererat jaringan antarkampung. Ritual ini memadukan makanan, doa, dan lagu—menjadi sarana penguatan identitas komunitas. Studi akademis menempatkan acara makan bersama semacam ini sebagai ekspresi nilai spiritual dan solidaritas komunitas Lani.

Narasi personal: suara dari Tiom

Untuk menghadirkan perspektif lokal, sejumlah laporan media dan rilis lokal merekam suara tokoh adat serta warga. Saat TNI menggelar kegiatan bakar batu di pedalaman Lanny Jaya, seorang kepala suku menyatakan sambutan hangatnya kepada tamu: ia mengatakan, “kami akan selalu mendoakan untuk Bapak-Bapak TNI”, menunjukkan tradisi keramahtamahan sekaligus praktek doa syukur dalam upacara adat. Kutipan ini tercatat dalam liputan kegiatan di Tiom.

Tokoh adat lain, Ketua LMA Lanny Jaya, Tias Kogoya, menegaskan peran pemimpin adat dalam menjaga keamanan dan persatuan kampung: ia mengimbau warga “jangan mudah terpengaruh ajakan-ajakan dari kelompok luar”, mendorong ketahanan sosial dan dukungan terhadap pembangunan lokal. Pernyataan seperti ini merefleksikan bagaimana pemimpin adat kini aktif berkomunikasi dengan pemerintah dan masyarakat luas untuk menjaga stabilitas di daerah pegunungan.

Baca juga: Honai: Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Khas Papua yang Sarat Makna Budaya

Pendidikan, agama, dan tantangan akses

Masuknya misi gereja dan program pemerintah telah membawa sekolah dan layanan kesehatan ke sebagian wilayah Lani, sehingga banyak anak muda yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota terdekat. Namun keterbatasan infrastruktur, jarak antarkampung, dan ketersediaan tenaga pengajar masih menjadi hambatan nyata. Di tengah itu, agama Kristen kini hidup berdampingan dengan praktik-praktik adat—menunjukkan adaptasi budaya yang berlangsung selektif dan kontekstual.

Pelestarian budaya dan pariwisata berkelanjutan

Upaya dokumentasi bahasa, festival budaya, dan kerja sama antara pemerintah daerah, tokoh adat, serta lembaga non-pemerintah menjadi kunci pelestarian. Promosi pariwisata budaya berpotensi membuka ekonomi lokal, tetapi harus dirancang sensitif: menghargai persetujuan komunitas, mencegah komodifikasi ritual, dan memastikan manfaat ekonomi kembali ke masyarakat.

Suku Lani adalah salah satu wajah utama Papua Pegunungan: masyarakat yang menjaga honai, merayakan bakar batu, memuliakan perempuan sebagai pusat keluarga, dan terus menavigasi perubahan zaman. Mendengarkan narasi langsung dari warga, dari ucapan kepala suku hingga imbauan LMA, membantu pembaca memahami bahwa pelestarian budaya harus berjalan bersama peningkatan akses pendidikan dan infrastruktur, dengan komunitas selalu menjadi pusat keputusan.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 2,523 kali