Dari Irian Jaya: Hingga Berubah Menjadi Papua
Wamena — Perjalanan panjang nama “Papua” menyimpan kisah sejarah yang menarik dan sarat makna. Dahulu wilayah ini dikenal dengan berbagai sebutan, mulai dari Nieuw Guinea pada masa kolonial Belanda hingga Irian Barat dan kemudian berubah menjadi Irian Jaya setelah bergabung dengan Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, semangat untuk kembali pada identitas asli masyarakatnya mendorong perubahan nama menjadi Papua. Perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah geografis, tetapi juga simbol kebangkitan jati diri, penghargaan terhadap budaya lokal, dan pengakuan atas sejarah panjang perjuangan masyarakat di ujung timur Indonesia.
Sejarah Awal Penamaan Irian
Wilayah paling timur Indonesia yang kini dikenal sebagai Papua memiliki sejarah panjang dalam penamaan. Sebelum dikenal dengan nama “Irian Jaya”, daerah ini memiliki beragam sebutan, baik dari penduduk lokal maupun dari bangsa asing. Kata “Papua” sendiri telah muncul sejak era penjelajahan bangsa Eropa pada abad ke-16. Beberapa catatan menyebutkan bahwa istilah “Papua” berasal dari kata “Papuwah” dalam bahasa Melayu Tidore, yang berarti “tidak bersatu” atau “rambut keriting”, mengacu pada ciri fisik penduduk Melanesia di wilayah tersebut.
Namun, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945, nama “Papua” sempat digantikan dengan sebutan “Irian”. Nama ini menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan integrasi wilayah tersebut ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Asal Nama “Irian” dan Maknanya
Istilah “Irian” pertama kali dipopulerkan oleh tokoh nasional asal Biak, Frans Kaisiepo, pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tepatnya tiga tahun sebelum Konferensi Meja Bundar (KMB) yakni pada Juli 1946 digelar Konferensi Malino di Sulawesi .Menurut versi lokal, “Irian” berasal dari singkatan bahasa Biak, yaitu “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland yang merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti- Netherland. Yang diusulkan dalam pertemuan komite suku di Tobati, Jayapura. Namun, ada juga sumber yang menyebut bahwa kata “Irian” berasal dari bahasa Biak yang berarti “tanah yang panas” atau “tanah yang disinari matahari”. Hal ini mengacu pada cuaca gerah tersebut yang cenderung panas. Bisa juga dari nama Iri-an yang berarti proses memanas yakni bentuk metafora terhadap wilayah yang Tengah memasuki zaman baru.
Baca juga: Kabupaten Jayawijaya: Sejarah, Geografi, dan Potensi Alam Papua Pegunungan
Nama “Irian” kemudian diresmikan oleh pemerintah Indonesia sebagai bagian dari perjuangan diplomatik untuk mengembalikan wilayah tersebut dari tangan Belanda. Setelah melalui proses panjang, termasuk Trikora (Tri Komando Rakyat) yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961, wilayah itu akhirnya bergabung dengan Indonesia secara resmi pada tahun 1969 setelah Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat).
Perubahan Nama Menjadi Irian Jaya
Setelah resmi menjadi bagian dari Indonesia, Presiden Soeharto menetapkan nama wilayah tersebut sebagai “Irian Jaya” pada tahun 1973. Nama ini melambangkan semangat pembangunan dan kejayaan (Jaya) di tanah Irian. Pada masa Orde Baru, istilah “Irian Jaya” digunakan secara luas untuk menyebut seluruh wilayah yang kini meliputi Provinsi Papua dan Papua Barat.
Kemudian karena letaknya yang bersebelahan dengan East New Guinea atau Papua Nugini, tepatnya berada disebelah baratnya, nama Irian kemudian disandingkan dengan arah mata angin tersebut. Sebutan Irian Barat digunakan sejak tahun 1963 hingga tahun 1973. Namanya kemudian berganti menjadi Irian Jaya atas perintah Presiden Soeharto yang menggunakannya sebagai nama resmi, kala meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport.
Nama ini juga menjadi simbol kebanggaan nasional dalam kerangka pembangunan di wilayah timur Indonesia. Banyak proyek besar dan program pemerintahan menggunakan istilah “Irian Jaya” untuk menggambarkan semangat kemajuan di kawasan tersebut.
Kembalinya Nama “Papua”
Setelah bertahan hampir 30 Tahun tepatnya saat memasuki Era Reformasi, muncul dorongan kuat dari masyarakat lokal untuk mengembalikan identitas asli mereka, termasuk dalam hal nama daerah. Masyarakat merasa nama “Papua” lebih mencerminkan jati diri, budaya, dan sejarah asli wilayah tersebut..
Akhirnya, melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, pemerintah Indonesia secara resmi mengganti nama “Provinsi Irian Jaya” menjadi “Provinsi Papua.” Perubahan tersebut tidak lepas dari instruksi dan regulasi yang disetujui oleh presiden saat itu yaitu, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keputusan Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan nama Papua yang bermula dari tuntutan sejumlah kelompok masyarakat untuk mengganti nama Irian jaya sebagai penanda masuknya Era Reformasi.
Kemudian Selanjutnya pada tahun 2004, Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia. Bagian timur tetap menggunakan nama Papua, sementara bagian barat menjadi Irian Jaya Barat yang kemudian berganti nama menjadi Papua Barat.
Baca juga: Profil Wamena, Ibu Kota Jayawijaya: Sejarah, Geografi, dan Demografi
Di akhir tahun 2022, wilayah Papua akhirnya terbagi menjadi enam provinsi. Keenamnya adalah Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah, Provinsi Papua Pegunungan, dan Provinsi Papua Barat Daya. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga simbol pengakuan terhadap hak dan identitas budaya masyarakat asli Papua. Nama “Papua” kini digunakan secara resmi untuk provinsi yang kemudian dimekarkan menjadi beberapa wilayah, antara lain Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.
Makna Filosofis dan Identitas Papua Saat Ini
Nama “Papua” kini menjadi simbol kebanggaan dan keanekaragaman budaya Indonesia bagian timur. Ia mencerminkan semangat masyarakatnya yang beraneka suku, adat, dan bahasa, namun tetap dalam bingkai NKRI.
Perubahan dari Irian Jaya menjadi Papua juga menjadi bukti bagaimana Indonesia menghormati aspirasi masyarakat lokal dan terus berupaya memperkuat persatuan dengan menghargai keberagaman identitas daerah.
Perjalanan nama dari Irian ke Irian Jaya, hingga akhirnya menjadi Papua, merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia. Setiap nama memiliki makna dan konteks zamannya—mulai dari semangat perjuangan kemerdekaan hingga pengakuan identitas asli masyarakat setempat.
Kini, Papua bukan hanya nama geografis, melainkan juga simbol keberagaman, persatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia yang menghormati setiap jengkal tanah airnya dari Sabang sampai Merauke.
Referensi :
- https://www.validnews.id/catatan-valid/sempat-dinamai-irian-ini-sejarah-penamaan-papua
- https://papuabaratprov.go.id/home/pages
- UU Nomor 21 Tahun 2021 - mengatur kewenangan khusus atau otonomi bagi Provinsi Irian Jaya berubah menjadi Provinsi Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).