Pertempuran Surabaya 1945: dari Insiden Hotel Yamato hingga Seruan Bung Tomo
Wamena — Pasca kemerdekaan diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, kondisi sosial dan politik Indonesia sebagai negara yang baru merdeka tidak langsung stabil begitu saja. Usaha belanda yang diboncengi tentara sekutu untuk menguasai kembali Indonesia tentu saja menimbulkan ketegangan sosial. Hal ini menyulut api perlawanan di berbagai wilayah di Indonesia. Surabaya menjadi salah satu wilayah yang sangat besar api perlawanannya untuk menghalangi usaha penjajah kembali ke tanah air.
Surabaya saat itu bahkan hingga saat ini menjadi simbol semangat perjuangan dan perlawanan rakyat Indonesia. Selain sebagai pusat ekonomi penting di wilayah timur pulau jawa, pemuda pemudi Surabaya memiliki kesadaran dan kemauan tinggi menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Perlawanan rakyat di Surabaya pecah pada momentum dimana kedatangan kembali belanda bersama tentara sekutu yang menuntut pelucutan senjata rakyat Indonesia. Ditambah lagi insiden tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945, memicu api perlawanan rakyat Indonesia.
Akhirnya, tepat pada tanggal 10 November 1945, rakyat Surabaya dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda, pelajar, hingga ulama menyatukan tekad untuk melawan dan menghadapi serangan tentara sekutu. Walaupun senjata yang digunakan rakyat Indonesia sangat terbatas dan cukup sederhana, namun semangat mempertahankan kemerdekaan tidak tergoyahkan. Seruan dan pekikan “Merdeka!” menggema di setiap sudut kota Surabaya kala itu, menjadikan pertempuran 10 November sebagai salah satu momen heroik terbesar dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia menghadapi penjajah.
Saat ini, Kota Surabaya dikenang sebagai “Kota Pahlawan” yang didalamnya tersimpan simbol keberanian dan tekad rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tengah ancaman kembalinya para penjajah.
Penyebab Konflik: Dari Insiden Hotel Yamato hingga Ultimatum Sekutu
Berikut kronologi pecahnya pertempuran surabaya;
- Peristiwa Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato
Pada tanggal 19 September 1945, beberapa pemuda Indonesia di Surabaya naik ke atap Hotel Yamato (saat ini menjadi Hotel Majapahit) setelah melihat bendera Belanda berkibar di sana. Di dalam kondisi yang dipenuhi amarah serta berkobarnya semangat nasionalisme, dua pemuda Indonesia yaitu Kusno Wibowo dan Hariyono yang naik ke atap hotel merobek bagian biru dari bendera itu, sehingga menyisakan warna merah dan putih yaitu bendera Indonesia. Insiden ini menjadi penegasan bahwa rakyat Surabaya menolak keras segala bentuk penjajahan.
- Kembalinya Pasukan Sekutu Diboncengi Tentara Belanda (NICA)
Pasukan sekutu yang diboncengi NICA mendarat di Kota Surabaya dengan alasan untuk melucuti senjata Tentara Jepang. Namun tindakan mereka dianggap cenderung mencampuri urusan pemerintahan Republik Indonesia, sehingga memicu perlawanan rakyat.
- Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby
Jenderal Mallaby yaitu seorang komandan pasukan Inggris di Kota Surabaya tewas dalam bentrokan pada tanggal 30 Oktober 1945. Kemudian, pihak Sekutu mengeluarkan ultimatum pada 9 November, menuntut rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan sebagai bentuk balasan. Tentu saja rakyat Indonesia di Kota Surabaya menolak ultimatum ini. Keesokan harinya, tepat pada tanggal 10 November 1945, pertempuran besar pun pecah. Artileri (meriam, howitzer dan mortir) bahkan pesawat tempur Inggris menggempur Kota Surabaya. Gempuran ini tidak meredupkan api semangat juang rakyat Indonesia di Kota Surabaya. Peristiwa ini yang di kemudian hari dikenang sebagai Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November.
Baca juga: Mengapa 10 November Jadi Hari Pahlawan? Sejarah dan Maknanya untuk Indonesia
Tokoh Penting dalam Pertempuran Surabaya: Bung Tomo dan Arek-Arek Suroboyo
Bung Tomo, sebuah nama yang tidak pernah bisa dipisahkan dari sejarah perlawanan rakyat Indonesia pada pertempuran Surabaya. Bagaimana tidak, di tengah dentuman meriam dan kepungan pasukan sekutu, suara Bung Tomo tetap lantang membakar api semangat juang juang arek-arek Surabaya untuk tetap berdiri mempertahankan kemerdekaan melalui radio.
Gaya bicara yang tegas dan optimis khas Bung Tomo, menyerukan bahwa kemerdekaan yang baru diraih tidak boleh direbut kembali oleh penjajah. Seruan ini terus menggema hingga ke seluruh pelosok kota Surabaya. Bung Tomo dengan orasinya yang berapi-api berhasil menyatukan rakyat dari berbagai lapisan dalam tekad yang sama yaitu “Merdeka atau mati!”
Tentu saja, peran Bung Tomo bukan hanya sebagai orator ulum semata. Bung Tomo adalah simbol persatuan dan keberanian rakyat Indonesia di Surabaya yang menolak tunduk kembali kepada penjajah. Walaupun hanya menggunakan senjata sederhana, rakyat Indonesia di Kota Surabaya menghadapi gempuran tank, meriam bahkan pesawat tempur dengan semangat.
Pertempuran surabaya 10 November pada saat itu menelan banyak korban. Baik korban jiwa maupun kerugian harta benda yang dialami rakyat Indonesia. Ribuan pahlawan dan warga sipil gugur, sementara ribuan lainnya mengungsi dari kota Surabaya yang sudah porak-poranda. Gedung-gedung pemerintahan, rumah-rumah warga sipil, hingga tempat ibadah tidak luput dari kehancuran akibat tembakan artileri dan serangan udara. Namun melahirkan amanat abadi, bahwa kemerdekaan tidak diberikan, melainkan diperjuangkan.
Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang keberanian rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dari serangan sekutu. Penetapan ini bukan sekedar penghormatan terhadap momen heroik perlawanan, namun juga sebagai pengakuan atas pengorbanan ribuan jiwa yang telah gugur demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Peringatan hari pahlawan pada tanggal 10 November setiap tahunnya biasanya ditandai dengan upacara bendera, tabur bunga, dan kegiatan sosial. Bangsa Indonesia, harus memaknai peringatan hari pahlawan ini sebagai penegasan tekad untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu dalam bentuk pengabdian dan kerja nyata untuk Indonesia.
Baca juga: Hari Pahlawan: Momentum Menggugah Semangat Generasi Muda untuk Terus Berjuang
Dampak Pertempuran Surabaya bagi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Keberanian rakyat Indonesia pada pertempuran Surabaya menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak akan tunduk pada penjajahan dalam bentuk apa pun. Dari wilayah barat hingga timur di Nusantara, semangat perlawanan serupa merebak, seluruh rakyat Indonesia bangkit, mengangkat senjata, dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang masih seumur jagung pada kala itu.
Pertempuran Surabaya juga mengirimkan pesan kuat kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat dan siap mempertahankan kemerdekaannya bahkan jika harus mengorbankan darah dan nyawanya. Setelah pertempuran Surabaya usai, banyak negara kemudian mulai memberi perhatian terhadap perjuangan diplomasi Indonesia di forum internasional. Semangat Surabaya kini dikenang bukan hanya sebagai simbol keberanian, tetapi juga sebagai sumber inspirasi nasional — bahwa dengan persatuan, pengorbanan, dan tekad yang teguh, bangsa Indonesia mampu berdiri tegak di hadapan siapa pun.
Nilai Kepahlawanan yang Bisa Diteladani Generasi Muda
Peringatan Hari Pahlawan Menjadi momentum untuk meneladani nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam kehidupan berbangsa saat ini. Nilai keberanian, persatuan, dan cinta tanah air yang dulu menyatukan rakyat untuk melawan penjajah, hingga saat ini masih relevan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari polarisasi politik hingga disinformasi digital, semangat persatuan adalah kunci agar bangsa ini tidak mudah terpecah belah karena adanya perbedaan. Tekad dan keberanian pahlawan-pahlawan yang telah gugur juga patut untuk dijadikan contoh. Implementasinya bisa melalui keberanian moral yaitu dengan berbuat benar, menegakkan keadilan, dan melawan segala bentuk korupsi atau ketidakjujuran.
Nilai-nilai cinta tanah air yang telah dicontohkan oleh para pahlawan, saat ini bisa diwujudkan bukan hanya dengan mengangkat senjata, tetapi dengan bekerja keras, menjaga harmoni sosial, dan berpartisipasi aktif di berbagai kegiatan sosial. Semangat itulah yang menjadikan pengorbanan para pahlawan tetap hidup dalam denyut kehidupan bangsa hingga hari ini.
Daftar Pustaka:
Zikri, M. H., & Asmarita, Y. (2023). Pertempuran 10 november 1945 di surabaya sebagai aksi bung tomo dalam mempertahankan kemerdakaan indonesia. Krinok: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Sejarah, 2(3), 169-176.
Kusuma, E., Anwar, S., Risman, H., & Arief, R. (2021). Pertempuran surabaya tahun 1945 dalam perspektif perang semesta. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(12), 2825-2836.
Aryanto, D. A. (2023). Sejarah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya sebagai Sumber Belajar Sejarah dalam upaya Menumbuhkan Kesadaran Sejarah pada Siswa Tingkat Menengah Atas. Danadyaksa Historica, 3(1), 46-58.
Lase, R., & YB Jurahman, S. (2021). Pertempuran 10 November di Surabaya dan Pengaruhnya Terhadap Eksistensi Kemerdekaan Indonesia. Rinontje: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, 2(2).