Norma Kesusilaan: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Kehidupan
Kobakma - Manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam interaksi sehari-hari, gesekan kepentingan antarindividu sangat mungkin terjadi. Untuk mencegah kekacauan dan menjaga keharmonisan, masyarakat menciptakan seperangkat aturan atau pedoman hidup yang disebut dengan norma.
Di antara berbagai jenis norma yang berlaku—seperti norma hukum, norma agama, dan norma kesopanan—terdapat satu norma yang paling mendasar dan melekat pada diri setiap individu, yaitu norma kesusilaan.
Bagi masyarakat umum, khususnya generasi muda dan para pemilih pemula, memahami norma kesusilaan adalah langkah awal dalam membangun karakter bangsa yang berintegritas.
Di KPU Provinsi Papua Pegunungan, kami meyakini bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya dibangun di atas landasan hukum yang kuat, tetapi juga di atas fondasi moralitas dan hati nurani warganya.
Artikel ini akan mengupas tuntas hakikat norma kesusilaan, ciri-cirinya, serta relevansinya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Baca juga: Contoh Pelanggaran Norma Hukum dan Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pengertian Norma Kesusilaan
Untuk memahami konsep ini secara utuh, kita perlu menelusuri definisinya secara mendalam. Secara etimologis, kata "susila" berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Su yang berarti baik atau bagus, dan Sila yang berarti dasar, prinsip, atau aturan hidup. Jadi, susila dapat diartikan sebagai aturan hidup yang baik.
Dalam terminologi sosiologi dan kewarganegaraan, norma kesusilaan adalah peraturan hidup yang bersumber dari suara hati sanubari manusia (hati nurani). Norma ini merupakan bisikan batin yang diakui dan diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku.
Berbeda dengan norma hukum yang sanksinya dipaksakan oleh negara, atau norma kesopanan yang bersumber dari pergaulan masyarakat luar, norma kesusilaan bersifat internal (otonom).
Ia berkaitan erat dengan bisikan hati nurani yang selalu menyuarakan kebenaran dan kebaikan. Oleh karena itu, norma ini sering disebut sebagai norma moral, karena ia menentukan mana perilaku yang baik dan mana yang buruk berdasarkan insting kemanusiaan yang paling murni.
Sebagai contoh, ketika seseorang menemukan dompet jatuh di jalan, norma hukum mungkin belum bekerja jika tidak ada polisi atau saksi. Namun, norma kesusilaan langsung bekerja melalui hati nurani yang berbisik: "Kembalikanlah, itu bukan hakmu."
Ciri-Ciri Utama Norma Kesusilaan
Agar dapat membedakannya dengan jenis norma lainnya, kita perlu mengenali karakteristik spesifik dari norma kesusilaan. Berikut adalah ciri-ciri utamanya:
-
Bersumber dari Hati Nurani
Ini adalah ciri paling fundamental. Norma kesusilaan tidak tertulis dalam kitab undang-undang, melainkan terpatri dalam batin setiap manusia. Ia adalah suara kejujuran yang ada di dalam diri kita.
-
Bersifat Universal
Meskipun praktik detailnya bisa berbeda, nilai dasar norma kesusilaan cenderung berlaku umum bagi seluruh umat manusia tanpa memandang suku, ras, atau agama.
Contohnya, di belahan dunia manapun, berbohong atau membunuh orang tak bersalah dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan hati nurani.
-
Bersifat Tidak Tertulis (Lokal dan Universal)
Norma ini tidak dibukukan secara resmi seperti KUHP atau Undang-Undang. Ia hidup dan berkembang seiring dengan kedewasaan moral seseorang.
-
Sanksi Bersifat Internal (Psikologis)
Pelanggaran terhadap norma hukum berakibat penjara atau denda. Namun, pelanggaran terhadap norma kesusilaan berakibat pada sanksi yang berasal dari diri sendiri, seperti rasa bersalah, penyesalan, malu, dan kegelisahan batin.
-
Bertujuan Menyempurnakan Akhlak
Tujuan akhir dari norma kesusilaan adalah membentuk manusia yang berbudi luhur, berakhlak mulia, dan memiliki integritas.
Baca juga: Penegakan Hukum Pasal 27 Ayat 1 UUD 1945: Prinsip Kesetaraan di Depan Hukum
Contoh Norma Kesusilaan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Penerapan norma kesusilaan sangat luas dan mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa contoh perilaku yang mencerminkan kepatuhan terhadap norma kesusilaan:
1. Perilaku Jujur (Integritas)
Kejujuran adalah mahkota dari norma kesusilaan. Berkata apa adanya, tidak menyontek saat ujian, dan tidak memanipulasi data adalah wujud nyata mendengarkan suara hati.
Dalam konteks pemilu, sikap jujur—baik sebagai penyelenggara maupun pemilih—adalah implementasi norma kesusilaan yang vital. Menolak politik uang (money politics) karena sadar itu salah, meskipun tidak ada yang melihat, adalah bukti tingginya moralitas seseorang.
2. Menghargai Hak Orang Lain
Tidak mengambil barang yang bukan miliknya, mengembalikan pinjaman tepat waktu, dan tidak menyerobot antrean adalah contoh sederhana namun bermakna. Hati nurani manusia normal pasti akan merasa tidak nyaman jika mengambil hak orang lain.
3. Bertindak Adil
Memberikan perlakuan yang sama kepada orang lain tanpa memandang latar belakang mereka. Seorang pemimpin yang membagi tugas dengan adil atau orang tua yang tidak pilih kasih terhadap anak-anaknya sedang mempraktikkan norma kesusilaan.
4. Meminta Maaf dan Mengakui Kesalahan
Diperlukan keberanian moral yang besar untuk mengakui kesalahan. Ketika seseorang berbuat salah dan hati nuraninya terusik, tindakan meminta maaf adalah mekanisme untuk memulihkan "keseimbangan" batin tersebut.
5. Berpakaian dan Berperilaku Pantas
Meskipun sering beririsan dengan norma kesopanan, menjaga kehormatan diri dengan berpakaian pantas dan tidak melakukan tindakan asusila juga merupakan bagian dari menjaga kesusilaan diri.
Contoh Pelanggaran Norma Kesusilaan
Ketika seseorang mengabaikan bisikan hati nuraninya, maka terjadilah pelanggaran norma kesusilaan. Berikut adalah beberapa contohnya:
- Berbohong dan Fitnah
Menyampaikan informasi palsu untuk keuntungan pribadi atau menjatuhkan orang lain. Ini mencederai kebenaran yang diyakini hati. - Mencuri atau Korupsi
Mengambil hak orang lain atau negara secara diam-diam. Pelaku korupsi, meskipun mungkin bisa lari dari hukum, tidak akan bisa lari dari rasa was-was dan ketidaktenangan seumur hidupnya. - Pelecehan Seksual
Melakukan tindakan tidak senonoh yang merendahkan martabat manusia lain. Ini adalah pelanggaran berat terhadap kesusilaan. - Ingkar Janji
Mengkhianati kesepakatan yang telah dibuat. - Tidak Menolong Orang yang Kesulitan
Membiarkan orang celaka padahal kita mampu menolong, seringkali dianggap melanggar rasa kemanusiaan dan kesusilaan.
Dampak Pelanggaran:
Dampak utamanya adalah penyesalan. Seseorang yang melanggar norma kesusilaan akan merasa dikejar-kejar oleh rasa bersalah. Selain itu, jika pelanggaran tersebut diketahui umum, ia akan mendapat sanksi sosial berupa pengucilan, dicemooh, atau kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
Baca juga: Norma Adalah: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contohnya dalam Kehidupan Bermasyarakat
Peran Norma Kesusilaan dalam Membentuk Masyarakat Beradab
Mengapa norma ini penting dibahas, bahkan oleh lembaga seperti KPU? Karena norma kesusilaan adalah garis pertahanan pertama dalam ketertiban sosial.
Sebelum polisi bertindak menegakkan hukum, dan sebelum tokoh agama memberikan nasihat, hati nurani manusialah yang pertama kali bekerja mencegah kejahatan. Jika setiap individu dalam masyarakat memiliki kepekaan kesusilaan yang tinggi, maka:
- Angka Kriminalitas Menurun
Orang tidak akan mencuri bukan karena takut polisi, tapi karena merasa itu perbuatan hina. - Terciptanya Harmoni
Hubungan antarwarga akan didasari rasa saling menghormati dan percaya (trust). - Kualitas Demokrasi Meningkat
Dalam konteks kehidupan bernegara, norma kesusilaan melahirkan warga negara yang bertanggung jawab. Pemilih akan memilih berdasarkan hati nurani, bukan karena suap. Penyelenggara negara akan bekerja dengan amanah karena takut mengkhianati kepercayaan rakyat.
Di Provinsi Papua Pegunungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kekeluargaan, norma kesusilaan sejalan dengan kearifan lokal. Nilai-nilai penghormatan terhadap sesama dan kejujuran adalah modal sosial yang sangat berharga.
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa norma kesusilaan adalah kompas moral yang bersemayam di dalam diri setiap manusia. Ia berfungsi sebagai penunjuk arah mana yang benar dan mana yang salah, bersumber langsung dari hati nurani yang fitrah.
Meskipun tidak tertulis dan sanksinya bersifat personal (rasa bersalah), peran norma kesusilaan sangat krusial dalam menjaga keteraturan hidup. Hukum negara mungkin memiliki celah, tetapi hati nurani tidak pernah berbohong.
Sebagai masyarakat yang cerdas dan bermartabat, mari kita asah kepekaan hati nurani kita. Mulailah dari hal kecil: jujur pada diri sendiri, menghormati hak sesama, dan berani mengakui kesalahan.
Dengan menjunjung tinggi norma kesusilaan, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga berkontribusi dalam mewujudkan Papua Pegunungan dan Indonesia yang damai, adil, dan beradab. (GSP)
Referensi:
- Kaelan. (2014). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
- Kansil, C.S.T. (2011). Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
- Buku Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kurikulum Merdeka, Kemendikbud Ristek.