Artikel

Sehari Menjadi Calon Kepala Daerah: Pemeriksaan Kesehatan yang Melelahkan

Yalimo - Bagi masyarakat, sosok calon kepala daerah biasanya terlihat gagah dan percaya diri ketika mengikuti tahapan Pilkada. Namun di balik itu semua, ada satu proses panjang dan melelahkan yang jarang terlihat publik: pemeriksaan kesehatan. Proses inilah yang memastikan bahwa setiap calon yang maju benar-benar siap secara jasmani, rohani, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.

Melalui Keputusan KPU Nomor 1090 Tahun 2024, pemeriksaan kesehatan dilaksanakan dengan standar ketat di rumah sakit pemerintah yang memiliki fasilitas lengkap. Hasilnya bukan hanya menentukan “layak” atau “tidak layak”, tetapi juga menjadi bukti bahwa calon yang terpilih nantinya memang mampu memikul tanggung jawab memimpin daerah.

Artikel ini mencoba mengajak masyarakat Papua Pegunungan “sehari saja” merasakan apa yang dijalani seorang calon kepala daerah—mulai dari pagi hingga sore—di tengah proses pemeriksaan kesehatan yang padat dan penuh tekanan.

Baca juga: KPU Tetapkan Aturan Baru Pemeriksaan Kesehatan Calon Kepala Daerah 2024

Pukul 06.00 – Datang dengan Perut Kosong

Hari dimulai lebih pagi dari biasanya. Para calon sudah tiba di rumah sakit sebelum matahari naik tinggi. Tidak ada sarapan. Tidak ada kopi. Semua harus puasa karena sebagian tes laboratorium membutuhkan kondisi perut kosong.

Bagi mereka yang datang dari daerah pegunungan jauh, seperti Yalimo atau Lanny Jaya, rasa lelah perjalanan kadang belum hilang sepenuhnya. Namun aturan tetap aturan: pemeriksaan harus berjalan.

Di meja pendaftaran, calon diminta memperlihatkan identitas, mengisi formulir, dan mencocokkan seluruh dokumen yang menjadi syarat pemeriksaan.

Pukul 07.00 – Tes Darah, Urine, dan Screening Narkotika

Tahap pertama biasanya adalah pemeriksaan laboratorium. Petugas mengambil sampel darah, urine, hingga melakukan tes pendeteksian zat narkotika.

Tidak ada toleransi di tahap ini. Jika hasil tes menunjukkan indikasi penyalahgunaan narkoba, status calon langsung “tidak memenuhi syarat”.

Beberapa calon terlihat tegang, sebagian lainnya mencoba menenangkan diri sambil berbincang dengan pendamping. Namun semuanya paham bahwa pemeriksaan ini untuk menjamin integritas pemimpin di masa depan.

Pukul 09.00 – Pemeriksaan Fisik Menyeluruh

Tahapan berikutnya masuk ke pemeriksaan kardiologi, paru, THT, mata, saraf, gigi, dan penyakit dalam.

Calon diperiksa:

  • tekanan darah,
  • detak jantung,
  • fungsi paru,
  • kondisi mata dan pendengaran,
  • rekam jantung (EKG),
  • rontgen,
  • hingga treadmill test jika diperlukan.

Ruang tunggu mulai dipenuhi suara kecemasan dan kelelahan. Ada yang mengeluh pegal, ada yang mengelus dada sambil berucap, “Ternyata jadi calon bupati itu capek juga, ya.”

Namun di sinilah pentingnya standar KPT 1090/2024: memastikan bahwa pemimpin daerah sanggup bekerja dalam kondisi medan berat, termasuk di pegunungan Papua.

Baca juga: Syarat dan Proses Maju Pilkada Jalur Independen 2024, Peluang bagi Pemimpin Nonpartai

Pukul 12.30 – Pemeriksaan Psikologi dan Kejiwaan

Setelah pemeriksaan fisik, calon dipersilakan makan siang singkat. Namun belum sempat tubuh benar-benar beristirahat, pemeriksaan psikologi sudah menunggu.

Tes psikologi ini tidak main-main. Ada:

  • tes kepribadian,
  • tes kecerdasan umum,
  • simulasi pemecahan masalah,
  • wawancara psikologis,
  • dan penilaian stabilitas emosi.

Beberapa calon mengaku tes inilah yang paling menguras energi. Mereka harus fokus, sabar, dan jujur. Satu pertanyaan saja bisa menentukan apakah mereka dinilai stabil atau tidak dalam mengambil keputusan.

Psikolog dan psikiater bertugas memastikan calon mampu memimpin dalam tekanan, mampu mengendalikan diri, dan mampu membangun komunikasi dengan masyarakat.

Pukul 15.00 – Pemeriksaan Tambahan dan Konsultasi Ahli

Jika ada temuan awal atau kondisi medis tertentu, calon diarahkan ke dokter spesialis. Misalnya:

  • dokter jantung,
  • spesialis bedah,
  • spesialis syaraf,
  • atau dokter penyakit dalam.

Ini membuat sebagian calon pulang jauh lebih sore dari dugaan awal. Namun semua proses dilakukan demi menjaga standar kualitas pemimpin daerah.

Pukul 17.00 – Menunggu Kesimpulan: Layak atau Tidak Layak

Setelah seluruh rangkaian usai, calon dipersilakan pulang. Mereka tidak pernah menerima detail hasil medis—semua rekam medis bersifat rahasia, dan hanya tim kesehatan yang menyampaikan kesimpulan akhir kepada KPU:

  • Memenuhi syarat (MS), atau
  • Tidak memenuhi syarat (TMS).

Bagi calon yang dinyatakan tidak memenuhi syarat, kesempatan pemeriksaan ulang dapat diberikan, namun dengan batas tertentu sesuai regulasi.

Keputusan ini tidak bisa dipengaruhi siapa pun. Tim dokter bekerja independen dan profesional.

Baca juga: Sejarah dan Perkembangan Pilkada Serentak di Indonesia dari Masa ke Masa 

Mengapa Proses Ini Penting Bagi Papua Pegunungan?

Wilayah Papua Pegunungan memiliki tantangan geografis dan sosial yang unik. Seorang kepala daerah dituntut:

  • mampu berjalan jauh,
  • mampu bekerja di ketinggian,
  • mampu menghadapi tekanan sosial dan politik,
  • serta mampu mengambil keputusan di situasi kritis.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan bukan hanya syarat administratif, tetapi bagian dari perlindungan bagi masyarakat, agar pemimpin yang terpilih benar-benar siap menjalankan amanah.

Sehari mengikuti pemeriksaan kesehatan calon kepala daerah bukanlah pengalaman yang ringan. Ada rasa lelah, gugup, dan tekanan yang kuat. Namun semua itu dilakukan demi menjaga kualitas demokrasi.

Melalui KPT KPU 1090/2024, KPU memastikan bahwa calon yang bertarung dalam Pilkada adalah mereka yang sehat secara jasmani, kuat secara mental, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.

Dengan memahami proses ini, masyarakat Papua Pegunungan dapat melihat bahwa dibalik setiap calon yang berdiri di panggung debat atau kampanye, terdapat rangkaian panjang proses seleksi yang dilakukan untuk satu tujuan: menghadirkan pemimpin terbaik bagi tanah Papua. (GSP)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 124 kali