Artikel

Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia dan Relevansinya dalam Penyelenggaraan Pemilu

Elelim - Indonesia dikenal dunia sebagai negara kepulauan (archipelago state) terbesar yang memiliki kekayaan sosial dan budaya yang luar biasa. Dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, bangsa ini diwarnai oleh ribuan suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta berbagai agama dan kepercayaan yang hidup berdampingan. Khususnya di wilayah kita, Provinsi Papua Pegunungan, keberagaman ini terlihat sangat nyata dengan adanya berbagai suku dan kekayaan adat istiadat yang mendiami lembah-lembah serta pegunungan yang megah.

Namun, pernahkah kita merenung sejenak, apa sebenarnya yang melatarbelakangi kemajemukan ini? Memahami faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia bukan hanya tugas para sejarawan atau sosiolog, melainkan juga penting bagi setiap pemilih.

Pemahaman ini menjadi fondasi kesadaran politik kita dalam menyikapi perbedaan, terutama saat menghadapi momentum Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Artikel ini akan mengupas tuntas akar penyebab keberagaman bangsa kita dan bagaimana hal tersebut sangat relevan dengan tugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menyelenggarakan pesta demokrasi yang inklusif dan berintegritas.

Pengertian Keberagaman di Indonesia

Secara sederhana, keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Di Indonesia, perbedaan tersebut meliputi suku bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, dan ekonomi.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tersemat pada lambang negara Garuda Pancasila menjadi pengakuan yuridis dan filosofis bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap satu kesatuan.

Keberagaman ini adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa, namun di sisi lain juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan negara.

Dalam konteks demokrasi, keberagaman menuntut sistem yang mampu mengakomodasi aspirasi semua pihak tanpa terkecuali, menjamin hak minoritas, dan mencegah dominasi mayoritas yang tidak sehat.

Baca juga: Peran Pancasila dalam Menjaga Keberagaman Bangsa Indonesia: Refleksi Historis dan Tantangan Masa Depan

Faktor Geografis: Negara Kepulauan yang Unik

Salah satu faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia yang paling mendasar adalah kondisi geografis. Indonesia terdiri dari kurang lebih 17.000 pulau yang terpisah oleh selat dan laut.

Kondisi fisik wilayah yang terpisah-pisah ini membuat masyarakat di setiap pulau tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri-sendiri. Isolasi geografis di masa lampau menyebabkan penduduk di satu pulau atau wilayah—seperti di dataran tinggi Papua Pegunungan—jarang berinteraksi dengan penduduk di pulau lain.

Akibatnya, mereka mengembangkan bahasa, adat istiadat, dan pola perilaku yang khas dan berbeda satu sama lain sesuai dengan kondisi alam sekitarnya.

Masyarakat yang tinggal di daerah pesiru pantai cenderung memiliki budaya yang lebih terbuka karena sering berinteraksi dengan pedagang asing, sementara masyarakat di daerah pegunungan yang sulit dijangkau cenderung memiliki budaya yang sangat kuat menjaga tradisi asli dan ikatan kekerabatan yang erat.

Faktor Sejarah dan Budaya: Jejak Nenek Moyang dan Asing

Sejarah panjang bangsa Indonesia juga menjadi penentu utama keberagaman. Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan (Cina Selatan) yang datang secara bergelombang (Proto Melayu dan Deutro Melayu). Perbedaan waktu kedatangan dan jalur penyebaran ini melahirkan keragaman suku bangsa.

Selain itu, letak Indonesia yang strategis di antara dua samudra (Pasifik dan Hindia) menjadikan nusantara sebagai jalur perdagangan internasional sejak berabad-abad lalu.

Pedagang dari Arab, India, Cina, dan Eropa tidak hanya datang untuk berdagang, tetapi juga membawa pengaruh budaya. Akulturasi atau percampuran budaya terjadi, menciptakan variasi budaya baru yang memperkaya khazanah nusantara.

Di Papua sendiri, sejarah interaksi antarsuku dan pengaruh luar juga membentuk karakteristik budaya yang unik yang kita lihat hari ini.

Faktor Agama dan Kepercayaan

Agama merupakan unsur identitas yang sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Masuknya berbagai ajaran agama melalui jalur perdagangan dan penyebaran damai menjadi faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia yang signifikan.

Saat ini, Indonesia mengakui enam agama resmi (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu) serta berbagai aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Di Papua Pegunungan, mayoritas penduduk memeluk agama Kristen, namun toleransi terhadap pemeluk agama lain tetap dijaga. Keberagaman keyakinan ini mempengaruhi pola pikir, ritual, dan nilai-nilai sosial masyarakat, yang pada akhirnya juga mempengaruhi preferensi dan perilaku politik mereka dalam pemilu.

Mobilitas Penduduk dan Perubahan Sosial

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah penerimaan masyarakat terhadap perubahan dan mobilitas penduduk. Program transmigrasi, urbanisasi, dan kemajuan transportasi telah membuat penduduk dari satu daerah berpindah ke daerah lain.

Pertemuan antarbudaya yang berbeda ini menciptakan masyarakat heterogen di banyak wilayah. Seseorang dari suku Jawa bisa menetap di Papua, dan sebaliknya, putra-putri Papua berkarya di pulau Jawa.

Mobilitas ini membawa tantangan tersendiri bagi pendataan pemilih, di mana KPU harus memastikan setiap warga negara yang berpindah domisili tetap terjamin hak pilihnya sesuai regulasi yang berlaku.

Baca juga: Hubungan Persatuan dan Keberagaman dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman dan Tantangan Demokrasi

Keberagaman yang kita miliki ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi menjadi kekayaan, di sisi lain bisa menjadi sumber konflik jika dipolitisasi. Dalam konteks pemilu, tantangan yang sering muncul akibat keberagaman ini antara lain:

  1. Politik Identitas
    Penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) untuk meraih suara. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memecah belah persatuan bangsa.
  2. Disparitas Informasi
    Perbedaan kondisi geografis dan budaya menyebabkan akses informasi kepemiluan tidak merata. Masyarakat di perkotaan mungkin mudah mengakses internet, namun masyarakat di wilayah pegunungan mungkin memerlukan metode sosialisasi tatap muka yang lebih intensif.
  3. Potensi Konflik Horizontal
    Gesekan antarkelompok pendukung yang berbasis identitas kesukuan seringkali lebih tajam dibandingkan gesekan berbasis program kerja.

Peran KPU dalam Mengelola Pemilu di Masyarakat yang Beragam

Menyadari berbagai faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia tersebut, KPU Provinsi Papua Pegunungan memegang peran strategis untuk memastikan pemilu berfungsi sebagai sarana integrasi bangsa. Berikut adalah relevansi keberagaman dengan tugas penyelenggaraan pemilu:

1. Menjamin Inklusivitas Hak Pilih

KPU wajib melayani semua pemilih tanpa diskriminasi. Tidak peduli apa sukunya, agamanya, atau di mana mereka tinggal (baik di lembah maupun di puncak gunung), setiap warga negara yang memenuhi syarat berhak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

KPU bekerja keras melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit) hingga ke pelosok untuk memastikan prinsip one man, one vote, one value (kecuali di daerah dengan kekhususan sistem noken yang diakui hukum).

2. Sosialisasi Berbasis Kearifan Lokal

Mengingat faktor budaya dan bahasa yang beragam, KPU tidak bisa menggunakan pendekatan yang seragam (one size fits all).

Di Papua Pegunungan, materi sosialisasi pemilu seringkali perlu diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat atau disampaikan melalui tokoh adat dan agama agar pesan demokrasi dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat akar rumput.

3. Mencegah Politisasi SARA

Melalui regulasi kampanye, KPU membatasi dan melarang materi kampanye yang menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau peserta pemilu lain. KPU berupaya menciptakan ruang kompetisi yang sehat yang berbasis pada adu gagasan, bukan adu domba identitas.

4. Aksesibilitas Logistik di Medan Geografis Sulit

Faktor geografis yang menyebabkan keberagaman juga menjadi tantangan logistik. KPU harus memastikan kotak suara dan surat suara sampai ke TPS di wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, tepat waktu. Ini adalah bentuk komitmen negara hadir melayani hak konstitusional warga di setiap jengkal tanah air.

Keberagaman adalah takdir sosiologis dan geografis bangsa Indonesia yang tidak bisa kita tolak. Memahami faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia—mulai dari isolasi geografis, sejarah migrasi, hingga agama—membantu kita menyadari bahwa perbedaan adalah hal yang alamiah.

Dalam penyelenggaraan pemilu, KPU Provinsi Papua Pegunungan berkomitmen untuk menjadikan keberagaman ini sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Pemilu harus menjadi momentum di mana semua warna kulit, semua bahasa daerah, dan semua keyakinan bersatu di bilik suara untuk menentukan masa depan bangsa.

Mari kita rayakan perbedaan dengan kedewasaan berpolitik. Jadikan pemilu sebagai jembatan persaudaraan, di mana setiap suara dihargai setara demi terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.

Daftar Referensi Hukum:

  1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
  2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
  3. Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 12,175 kali