Artikel

Lagu Pemilihan Umum (1955): Sejarah, Pencipta, dan Peranannya dalam Pemilu Pertama Indonesia

Wamena - Lagu “Pemilihan Umum” yang diciptakan pada tahun 1953 dan digunakan dalam Pemilu 1955 merupakan salah satu karya musik paling bersejarah dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Sebagai lagu resmi Pemilu pertama Indonesia, karya ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk membangun kesadaran politik masyarakat setelah sembilan tahun merdeka. Dengan lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu ini mengajak seluruh warga negara untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi yang kala itu berlangsung sangat terbuka dan kompetitif.

Lagu ini tidak hanya menjadi identitas Pemilu 1955, tetapi juga menandai peran seni dan budaya dalam memobilisasi masyarakat menuju proses demokratis yang lebih matang. Kehadirannya berakar dari sayembara nasional, dirangkai oleh tiga tokoh penting, dan kemudian diwariskan sebagai simbol awal tradisi pemilu Indonesia.

Baca juga: Pemilu 1955: Sejarah Pemilu Paling Demokratis di Indonesia

Asal-usul Lagu “Pemilihan Umum” (1955)

Lagu ini lahir dari sayembara lagu pemilu yang diselenggarakan oleh Kementerian Penerangan pada awal 1950-an dalam rangka mempersiapkan Pemilu 1955. Pemenangnya adalah karya berjudul “Pemilihan Umum”, dengan sinergi tiga tokoh:

  • Marius Ramis Dajoh (M.R. Dajoh) — penulis lirik
  • Ismail Marzuki — penyusun melodi dan aransemen
  • G.W.R. Tjok Sinsu — penggubah dan penyempurna komposisi

Lagu ini resmi diumumkan pada 8 April 1953, dan beberapa sumber lain mencatat tanggal 11 April 1953 sebagai momen pengesahan setelah penyesuaian lirik. Agar dikenal luas, pemerintah meminta Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menyiarkannya secara berkala, sehingga lagu tersebut cepat menyebar hingga pelosok Nusantara.

Lirik Asli Mars Pemilu 1955

Syair karya M.R. Dajoh terdiri dari tiga bait, dan salah satu bagian paling dikenal berbunyi:

Pemilihan Umum
Kesana beramai!
Marilah, marilah saudara-saudara!
Memilih bersama para wakil kita,
Menurut pilihan, bebas rahasia.
Itu hak semua warga senegara,
Njusun kehidupan adil sedjahtera.

Lirik sederhana ini memuat asas-asas pemilu: langsung, umum, bebas, dan rahasia. Selain itu, Dajoh menegaskan tujuan pemilu, yakni untuk “menyusun kehidupan adil dan sejahtera”.

Syairnya menjadi alat pendidikan politik baru di masa itu, terutama mengingat masih banyaknya warga yang belum terbiasa dengan proses pemilihan. Musik digunakan sebagai sarana untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pemilu adalah hak demokratis setiap warga negara.

Mengenal M.R. Dajoh, Penulis Syair “Pemilihan Umum”

Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa Utara pada 2 November 1909 dan wafat di Bandung pada 15 Mei 1975. Ia dikenal sebagai sastrawan, pendidik, dan penulis yang kritis sejak masa kolonial.

Beberapa poin penting tentang perjalanan hidupnya:

  • Mengenyam pendidikan di HIS Airmadidi, Kweekschool Ambon, hingga HKS Bandung bersama Sutan Takdir Alisyahbana.
  • Aktif menulis karya-karya sastra bertema sosial, kemiskinan, dan ketidakadilan sehingga dianggap berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda.
  • Pernah menjadi guru di Menteng 31 Jakarta dan Ambonse School di Bondowoso.
  • Berkarier di dunia kebudayaan hingga pensiun dari Direktorat Jenderal Kebudayaan (1966).
  • Karyanya dimuat di berbagai majalah budaya seperti Pujangga Baru dan Budaya.
  • Ia pernah tercatat sebagai bagian dari lingkaran seniman progresif, bahkan disebut hadir dalam delegasi seniman yang bertemu Presiden Sukarno pada 1957.

Sebagai penulis syair lagu pemilu pertama, Dajoh meninggalkan jejak penting dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Baca juga: Lagu Pemilihan Umum 1971: Nada Semangat Demokrasi Indonesia

Peran Lagu “Pemilihan Umum” dalam Pemilu 1955

Pemilu 1955 adalah momen historis: pemilu pertama sejak kemerdekaan, paling demokratis, dan paling kompetitif dalam sejarah Indonesia. Pemerintah pada masa itu menyadari bahwa masyarakat luas belum memahami konsep pemilu. Dalam konteks inilah lagu “Pemilihan Umum” berfungsi sebagai:

  1. Media sosialisasi
    Lagu ini membantu memperkenalkan asas pemilu dan pentingnya memilih.
  2. Alat pemersatu
    Dengan siaran RRI, lagu ini menjangkau berbagai daerah, melampaui keterbatasan literasi warga.
  3. Pengingat hak politik
    Liriknya menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak menentukan wakilnya secara langsung dan rahasia.

Molly Bondan, dalam In Love with A Nation, mengingat suasana menjelang pemungutan suara tahun 1955: sekolah-sekolah ditutup dua hari, dan warga datang sejak pagi untuk memilih. Namun ia menilai, banyak rakyat baru “menangkap semangat pemilu sehari sebelumnya”. Inilah mengapa keberadaan lagu mars sangat efektif: ia menggerakkan rakyat secara emosional dan informatif.

Lagu “Pemilihan Umum” dalam Perjalanan Lirik Mars Pemilu Indonesia

Lagu asli tahun 1955 hanya digunakan pada pemilu pertama. Setelah itu:

  • 1971 (Orde Baru): Mochtar Embut menciptakan versi baru yang lebih sloganistik.
  • 1999–2014: Nortier Simanungkalit menulis “Mars Pemilihan Umum” yang digunakan selama empat kali pemilu era Reformasi.
  • 2019: KPU kembali mengadakan sayembara dan memilih karya L. Agus Wahyudi, dengan aransemen Eros (Sheila on 7) dan vokal Kikan.

Meskipun telah berganti-ganti, lagu tahun 1955 tetap dianggap sebagai mars pemilu yang paling bersejarah, karena lahir bersama momentum demokrasi yang paling murni dalam sejarah Indonesia.

Makna Historis Lagu “Pemilihan Umum”

Lagu ini adalah artefak budaya politik. Ia bukan sekadar musik, tetapi:

  • Menjadi simbol kesadaran demokrasi awal.
  • Mewakili semangat pembentukan lembaga politik yang modern.
  • Menggambarkan pendidikan politik berbasis budaya pop era 1950-an.
  • Menjadi jejak kolaborasi seniman besar Indonesia.

Sebagai karya musik, ia menyimpan estetika khas Ismail Marzuki. Sebagai dokumen sejarah, ia mencerminkan optimisme awal bangsa Indonesia.

Baca juga: Makna Lagu Pemilu 2024: Suara Kita Sangat Berharga oleh Kikan Cokelat Dorong Partisipasi Pemilih

Lagu “Pemilihan Umum” (1955) menandai fase penting dalam peradaban politik Indonesia. Ia lahir dari kolaborasi seniman besar, menjadi alat sosialisasi nasional, dan kemudian melebur dalam tradisi musik pemilu Indonesia.

Dalam sejarah demokrasi Indonesia, lagu ini bukan hanya mars—tetapi bagian dari perjalanan bangsa menuju pemilihan yang langsung, bebas, jujur, dan rahasia. (GSP)

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 437 kali