Mumi Papua: Warisan Leluhur Bernilai Tinggi dari Pegunungan Papua
Jayawijaya - Papua bukan hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang sangat tua dan berharga. Salah satu warisan budaya paling unik adalah tradisi mumi Papua, yang masih dijaga oleh masyarakat adat di wilayah pegunungan seperti Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Dogiyai, hingga Lembah Baliem. Bagi KPU Provinsi Papua Pegunungan, memahami dan mengangkat kekayaan budaya lokal seperti mumi Papua menjadi bagian penting dalam memperkuat pendekatan komunikasi, pendidikan pemilih, dan layanan kepemiluan yang lebih dekat dengan identitas masyarakat setempat. Dengan mengenal tradisi leluhur, KPU dapat membangun program sosialisasi yang lebih berakar, bermakna, dan diterima oleh masyarakat adat di Papua Pegunungan.
Di wilayah Papua Pegunungan, khususnya di Lembah Baliem dan Jayawijaya, mumi menjadi simbol penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Tradisi ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga identitas suku-suku besar seperti Dani (Hubula), Yali, Moni, Mek, dan Mee, yang telah mempertahankan upacara ini selama ratusan tahun.
Suku-Suku Pembuat Mumi di Papua
Menurut peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, setidaknya ada lima suku di Papua yang memiliki tradisi membuat mumi, yaitu:
- Suku Mek – Pegunungan Bintang
- Suku Dani (Hubula) – Lembah Baliem
- Suku Moni – Intan Jaya
- Suku Yali – Kurima
- Suku Mee – Dogiyai
Mumi Papua adalah bukti betapa berharganya seorang tokoh adat bagi komunitasnya. Hanya tokoh penting, seperti kepala suku, panglima perang, atau pemimpin masyarakat yang berjasa besar, yang berhak melalui proses pemumian.
Dalam beberapa kasus, para tokoh ini bahkan telah berpesan sebelum wafat agar jasadnya diawetkan sebagai lambang kehormatan.
Baca juga: Mumi Jiwika: Warisan Budaya Suku Dani di Lembah Baliem
Makna Mumi Papua dalam Kehidupan Adat
Bagi masyarakat Papua, mumi bukan sekadar benda budaya. Ia memiliki makna spiritual mendalam:
- Penghubung dengan leluhur
Mumi dianggap sebagai kehadiran roh leluhur yang menjaga keturunan. - Sumber keberkahan
Kehadiran mumi dipercaya membawa kesejahteraan, ketentraman, dan kekuatan bagi kampung. - Identitas budaya
Tradisi ini menjadi penanda sejarah panjang masyarakat pegunungan yang memiliki sistem sosial, kepercayaan, dan simbol-simbol adat yang kaya.
Di Wamena, istilah lokal untuk tradisi ini dikenal sebagai Akonipuk, yakni teknik pemumian dengan pengasapan alami di dalam honai.
Proses Mumifikasi (Akonipuk): Panjang, Sakral, dan Penuh Ritual
Tradisi Akonipuk memiliki tahapan yang panjang dan penuh penghormatan. Metode ini berbeda total dengan mumifikasi Mesir yang menggunakan bahan kimia. Di Papua, metode yang dilakukan adalah pengasapan terus-menerus dan proses alami di lingkungan yang sejuk.
1. Penyiapan petugas, honai, dan bahan
Sebelum proses dimulai, suku menunjuk beberapa anggota untuk bertugas. Mereka mempersiapkan:
- kayu bakar
- honai khusus sebagai tempat pemumian
- perlengkapan adat
- seekor babi yang baru lahir sebagai penanda waktu
2. Proses pengasapan dalam posisi duduk
Jenazah tokoh adat diposisikan dalam keadaan duduk, melambangkan makna prasejarah sebagai posisi “kembali ke rahim” atau simbol kehidupan.
Proses pengasapan berlangsung selama:
- berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, bahkan ada yang mencapai lima tahun
- waktu dihitung berdasarkan pertumbuhan babi — dari lahir hingga taringnya panjang
Selama ini, tubuh menghitam sempurna dan menjadi kering secara alami.
3. Upacara pelepasan dan penghormatan
Setelah dianggap sempurna:
- para petugas dimandikan melalui ritual khusus
- babi yang menjadi penanda waktu dipotong
- ekornya dikalungkan ke leher mumi
- rangkaian prosesi ditutup dengan pesta bakar batu
4. Penyimpanan di tempat sakral
Mumi kemudian ditempatkan di:
- honai suku
- gua-gua khusus
- atau ruang leluhur keluarga
Tempat penyimpanan harus kering, bersih, dan aman dari tikus serta serangga.
Metode Pemumian Lain: Mumi di Atas Pohon
Suku Mek di Pegunungan Bintang memiliki metode unik. Jenazah diletakkan di atas pohon selama satu tahun. Cuaca dingin di ketinggian menyebabkan jenazah mengering secara alami sebelum akhirnya diturunkan dan disimpan di dalam gua. Proses ini menunjukkan keberagaman tradisi pemumian di Papua.
Mumi-Mumi Terkenal di Lembah Baliem dan Sekitarnya
Beberapa mumi yang telah didokumentasikan dan menjadi pusat perhatian adalah:
1. Mumi Wim Motok Mabel (Kurulu / Jiwika)
- Usia diperkirakan lebih dari 350 tahun
- Berasal dari Wamena, Jayawijaya
- Merupakan salah satu mumi paling terkenal
2. Mumi Pumo (Agatma Mente Mabel)
- Lokasi: Lembah Baliem
- Juga menjadi daya tarik wisata budaya
3. Mumi Araboda
- Terletak di Asologaima
- Dikoleksi dan dirawat di kotak penyimpanan khusus
4. Mumi Aikima
- Lokasi: Kampung Aikima, Distrik Pisugi
5. Mumi dari Suku Yali dan Moni
Beberapa mumi disimpan dalam gua dan banyak yang masih dirahasiakan keluarga adat. Bahkan, menurut Hari Suroto, ada mumi yang tersebar di daerah pedalaman yang sulit dijangkau.
Konservasi dan Tantangan Pelestarian Mumi Papua
Tradisi mumi Papua kini menghadapi berbagai tantangan. Meskipun beberapa telah dikonservasi, seperti empat mumi yang dipelihara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya pada tahun 2017, banyak lainnya yang belum terawat secara memadai.
Beberapa kendala umum:
- masyararakat belum mendapat pelatihan resmi merawat mumi
- ancaman kerusakan akibat api honai, serangga, atau binatang
- belum adanya juru pelihara resmi
- meningkatnya kunjungan wisatawan yang sering menyentuh mumi tanpa izin
Edukasi kepada wisatawan menjadi penting agar peninggalan berharga ini tetap terjaga. Masyarakat setempat biasanya mengenakan tarif Rp50.000–Rp100.000 untuk kunjungan wisata, yang kemudian digunakan untuk pemeliharaan mumi dan kampung.
Mumi Papua sebagai Daya Tarik Budaya dan Identitas Papua Pegunungan
Bagi Papua Pegunungan, keberadaan mumi bukan sekadar objek wisata. Ia adalah warisan budaya yang hidup — simbol penghormatan terhadap para tokoh adat, pahlawan perang, dan leluhur yang berjasa. Tradisi ini menjadi representasi nilai-nilai utama masyarakat Papua: keberanian, kekeluargaan, spiritualitas, dan penghargaan terhadap sejarah.
Festival Lembah Baliem yang digelar setiap Agustus pun menyertakan paket wisata ke mumi Dani sebagai bagian dari promosi budaya. Namun demikian, segala bentuk kunjungan harus tetap mengedepankan etika, rasa hormat, dan pemahaman nilai adat.
Papua bukan hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang sangat tua dan berharga. Salah satu warisan budaya paling unik adalah tradisi mumi Papua, yang masih dijaga oleh masyarakat adat di wilayah pegunungan seperti Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Dogiyai, hingga Lembah Baliem.
Bagi KPU Provinsi Papua Pegunungan, memahami dan mengangkat kekayaan budaya lokal seperti mumi Papua menjadi bagian penting dalam memperkuat pendekatan komunikasi, pendidikan pemilih, dan layanan kepemiluan yang lebih dekat dengan identitas masyarakat setempat. Dengan mengenal tradisi leluhur, KPU dapat membangun program sosialisasi yang lebih berakar, bermakna, dan diterima oleh masyarakat adat di Papua Pegunungan.
Sumber Literasi:
- Hari Suroto, Balai Arkeologi Papua – wawancara dan data penelitian tentang mumi Papua
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya – data konservasi mumi 2017
- Detik.com – “Mengenal Mumi Papua yang Belum Banyak Orang Tahu” (2019)
- Tempo – “Cerita Tradisi Mumi Prasejarah di Papua” (2019)
- Artikel budaya Lembah Baliem mengenai tradisi Akonipuk Suku Dani
Ilustrasi foto dibuat oleh AI.