Artikel

Potong Jari Papua: Memahami Tradisi Iki Palek Suku Dani dan Maknanya bagi Masyarakat Papua Pegunungan

Sumohai - Papua Pegunungan dikenal sebagai wilayah yang kaya budaya sekaligus menyimpan tradisi-tradisi luhur yang diwariskan turun-temurun. Salah satu yang paling dikenal, sekaligus sering disalahpahami masyarakat luas, adalah tradisi potong jari Papua, atau dalam bahasa lokal disebut Iki Palek.

Tradisi ini terutama hidup dalam budaya Suku Dani, suku besar yang mendiami Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya dan wilayah Papua Pegunungan lainnya.

Bagi masyarakat Suku Dani, potong jari bukan sekadar tindakan ekstrem, tetapi ungkapan duka cita terdalam, simbol cinta, sekaligus penghormatan kepada anggota keluarga yang telah pergi. Namun, karena tradisi ini sering diberitakan tanpa konteks sejarah dan budaya yang tepat, banyak pembaca luar Papua salah memahami maknanya.

Oleh sebab itu, KPU Provinsi Papua Pegunungan menuliskan artikel ini sebagai bentuk edukasi budaya, penghormatan terhadap kearifan lokal, serta upaya membantu publik memahami nilai-nilai masyarakat Papua Pegunungan secara benar dan berimbang.

Baca juga: Asal Usul Nama Suku Dani di Papua: Dari Makna Ndani hingga Identitas Orang Baliem

Asal Usul Suku Dani dan Jejak Tradisinya

Suku Dani merupakan salah satu suku terbesar di Papua, serta memiliki sejarah panjang dalam penelitian antropologis. Nama “Dani” diberikan oleh para peneliti dalam ekspedisi gabungan Amerika–Belanda tahun 1926 yang dipimpin M.W. Stirling. Seorang peneliti bernama Le Roux mencatat bahwa “Dani” berasal dari bahasa Moni, yaitu “Ndani”, yang berarti “sebelah timur arah matahari terbit”. Namun masyarakat asli lebih memahami istilah itu sebagai makna “perdamaian”.

Suku Dani terkenal memiliki ikatan kekeluargaan sangat kuat. Nilai persaudaraan dan cinta keluarga menjadi fondasi berbagai ritual adat, termasuk tradisi Iki Palek, atau potong jari.

Makna Tradisi Potong Jari Papua (Iki Palek)

Secara turun-temurun, masyarakat Dani melakukan potong jari sebagai bentuk:

1. Simbol Duka Cita Mendalam

Potong jari adalah cara mengekspresikan rasa kehilangan yang sangat dalam ketika:

  • Ayah atau ibu meninggal
  • Anak atau adik meninggal
  • Anggota keluarga dekat lain berpulang

Dalam filosofi Suku Dani, jari melambangkan kekuatan, kesatuan, dan hubungan antar keluarga. Ketika satu jari hilang, itu melambangkan kekosongan yang ditinggalkan seseorang yang telah meninggal.

2. Doa agar Musibah Tidak Terulang

Pemotongan jari juga diyakini sebagai bentuk penolak bala, agar duka serupa tidak dialami lagi oleh keluarga tersebut.

3. Ungkapan Cinta Tanpa Syarat

Dalam beberapa kasus lama, tradisi dilakukan sebagai simbol cinta atau kesetiaan—terutama dari pihak perempuan—untuk menunjukkan kedalaman kasih terhadap keluarga maupun pasangan.

Baca juga: Mumi Jiwika: Warisan Budaya Suku Dani di Lembah Baliem

Mengapa Perempuan Lebih Banyak Melakukannya?

Dalam budaya Dani, perempuan memegang peran penting sebagai penjaga rumah tangga, pengolah makanan, dan penata kestabilan keluarga. Ketika anggota keluarga meninggal, merekalah yang pertama merasakan dampaknya secara emosional.

Karena itu, tradisi potong jari lebih sering dilakukan perempuan. Namun laki-laki juga memiliki bentuk ungkapan duka sendiri, yaitu memotong kulit telinga sebagai simbol kesedihan.

Cara Melakukan Tradisi: Kapak Batu hingga Bambu Runcing

Cara pelaksanaan tradisi Iki Palek tergolong sederhana tetapi menyakitkan secara fisik. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan:

  • Kapak batu, alat tradisional yang keras dan tumpul, digunakan untuk memotong jari.
  • Bambu runcing, digunakan untuk mengiris daun telinga bagi laki-laki yang melakukan tradisi potong telinga.

Meski terlihat ekstrem, masyarakat Dani memaknai proses tersebut sebagai ritual sakral, bukan tindakan kekerasan.

Iki Palek sebagai Ritual Keluarga dan Komunitas

Dalam budaya Dani, potong jari bukan hanya aksi individu, tetapi ritual komunal. Biasanya dilakukan secara bersama, dipandu oleh tetua adat atau anggota keluarga yang dihormati. Keyakinannya adalah:

  • Rasa sakit fisik menyatu dengan duka emosional
  • Kehilangan jari mencerminkan hilangnya bagian dari keluarga
  • Pemotongan jari menjauhkan roh gelisah dari jenazah dan keluarga yang ditinggalkan

Bahkan dalam beberapa tradisi lama, ibu menggigit jari bayi perempuan mereka agar tradisi tetap berlanjut atau diyakini dapat memberikan umur panjang.

Larangan Pemerintah dan Memudarnya Tradisi

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pemahaman HAM, dan kesehatan modern, Pemerintah Papua dan Pemerintah Jayawijaya melarang praktik potong jari karena berbahaya bagi keselamatan jiwa.

Meskipun demikian, bukti tradisi ini masih dapat dilihat pada tetua adat yang jari-jarinya telah hilang sebagai simbol pengalaman kehilangan yang mereka lalui. Saat ini, tradisi Iki Palek sudah jarang dilakukan dan perlahan memudar seiring modernisasi.

Baca juga: Suku Dani: Suku Tertua di Lembah Baliem yang Masih Lestarikan Tradisi Leluhur

Potong Jari Papua dalam Perspektif Budaya Papua Pegunungan

Tradisi Iki Palek bukanlah bentuk kekerasan, melainkan:

  • simbol penghormatan,
  • cinta yang mendalam,
  • solidaritas keluarga,
  • sekaligus identitas sosial masyarakat Suku Dani.

Mengangkat tradisi ini bukan untuk memperkuat stereotip, melainkan untuk menghormati kearifan lokal dan memperkenalkan kekayaan budaya Papua Pegunungan kepada masyarakat luas.

Sebagai lembaga negara yang hadir di tengah masyarakat, KPU Provinsi Papua Pegunungan memiliki tanggung jawab memperkuat pendidikan publik, termasuk literasi budaya, karena:

  1. Banyak pembaca di luar Papua mencari informasi “Potong Jari Papua” tanpa mendapatkan konteks budaya yang benar.
  2. KPU berkepentingan mendukung pendidikan masyarakat, termasuk pemahaman budaya lokal, sebagai bagian dari penguatan demokrasi.
  3. Pemilu dan partisipasi masyarakat berjalan lebih baik ketika publik memahami identitas dan nilai-nilai sosial dalam komunitas lokal.
  4. Meluruskan informasi keliru yang sering beredar terkait tradisi ekstrem Papua tanpa pemahaman yang utuh.

Dengan memahami budaya lokal, KPU ingin mendorong masyarakat lebih sadar, inklusif, dan menghargai keberagaman budaya di Papua Pegunungan. (GSP)

Sumber Literasi

  1. Arsip detikcom: Tradisi Potong Jari Suku Dani
  2. detik.com – Mengenal Tradisi Potong Jari Suku Dani
  3. Guardianng – Laporan tradisi Iki Palek
  4. jurnal.unismuhpalu.ac.id – Studi antropologi ritual pemotongan jari
  5. Catatan ekspedisi penelitian Amerika–Belanda (1926) oleh M.W. Stirling dan Le Roux

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 401 kali