Perkuat Kepatuhan Pajak ASN, KPU Papua Pegunungan bersama KP2KP Wamena Gelar Sosialisasi Coretax dan SPT Tahunan
Wamena — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan bersama KPU Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan mengikuti kegiatan sosialisasi Coretax dan Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan bekerjasama dengan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Wamena, Rabu (28/01/2026). Kegiatan sosialisasi ini digelar sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman jajaran pegawai KPU terhadap sistem administrasi perpajakan terbaru di Indonesia yang kini terintegrasi secara digital. Baca juga: SPT Tahunan Wajib Coretax, Ini Langkah Subbagian Keuangan KPU Papua Pegunungan Kegiatan Sosialisasi Digelar secara Hybrid Kegiatan sosialisasi dilaksanakan secara hybrid. Jajaran ASN KPU Provinsi Papua Pegunungan mengikuti kegiatan secara luring (luar ruangan) yang dilaksanakan di Aula Kantor KPU Provinsi Papua Pegunungan. Sementara itu, delapan satuan kerja KPU Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan mengikuti sosialisasi secara daring (dalam ruangan) melalui Zoom Meeting. Pelaksanaan secara hybrid ini memungkinkan seluruh satuan kerja KPU di wilayah Papua Pegunungan tetap dapat mengikuti kegiatan secara optimal, walaupun terhalangi oleh jarak antar wilayah. Kegiatan sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Keuangan, Umum, dan Logistik KPU Provinsi Papua Pegunungan, Bapak Adden Siagian. Dalam sambutannya, Bapak Adden Siagian menekankan pentingnya kegiatan sosialisasi perpajakan bagi jajaran pegawai KPU se-Provinsi Papua Pegunungan, khususnya dalam meningkatkan pemahaman dan kepatuhan terhadap kewajiban sebagai wajib pajak. “Kegiatan sosialisasi seperti ini sangat penting, tidak hanya untuk menambah pengetahuan ASN terkait sistem perpajakan yang terus berkembang, tetapi juga untuk menegaskan bahwa pelaporan SPT Tahunan merupakan kewajiban setiap warga negara yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya. Bapak Adden Siagian juga berharap melalui sosialisasi Coretax dan pelaporan SPT Tahunan ini, seluruh jajaran ASN di lingkungan KPU Provinsi dan Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan dapat melaksanakan kewajiban perpajakan secara tertib, tepat waktu, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Baca juga: Perkuat Sinergi antar Instansi, KPU Provinsi Papua Pegunungan dan KPPN Tipe A2 Wamena Gelar Olahraga Bersama KP2KP Wamena Paparkan Sistem Coretax dan Pelaporan SPT Kepala KP2KP Wamena dalam kegiatan Sosialisasi Coretax dan Pelaporan SPT Tahunan Kepala KP2KP Wamena, Bapak Giyanto Utama, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya, Bapak Giyanto Utama menjelaskan bahwa Coretax merupakan sistem administrasi perpajakan terpadu yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk mempermudah wajib pajak dalam mengelola kewajiban perpajakan secara digital. Melalui Coretax, wajib pajak dapat melakukan berbagai layanan perpajakan secara terintegrasi, mulai dari pengelolaan data perpajakan, pembayaran pajak, hingga pelaporan SPT, tanpa harus datang langsung ke kantor pelayanan pajak. Lebih lanjut dijelaskan, penerapan Coretax bertujuan meningkatkan akurasi data, transparansi, serta efisiensi pelayanan perpajakan. Sistem ini juga dirancang untuk meminimalkan kesalahan administrasi dan mempercepat proses layanan pajak. Dengan Coretax, seluruh aktivitas perpajakan tercatat secara digital dan terdokumentasi dengan baik, sehingga memudahkan pengawasan, pelaporan, serta pemenuhan kewajiban pajak secara tepat waktu dan sesuai ketentuan. Dalam sosialisasi tersebut, Bapak Giyanto Utama juga menjelaskan bahwa SPT Tahunan merupakan surat pemberitahuan yang wajib disampaikan oleh setiap wajib pajak setiap tahun. SPT Tahunan berfungsi untuk melaporkan penghasilan yang diterima, pajak yang telah dibayarkan atau dipotong, serta kewajiban perpajakan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seluruh ASN sebagai wajib pajak memiliki kewajiban untuk menyampaikan SPT Tahunan secara benar, lengkap, dan tepat waktu sebagai bagian dari kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan. Baca juga: Perkuat Tata Kelola Pengadaan, KPU Papua Pegunungan Ikuti Rakor Sosialisasi Perpres 46/2025 dan Bimtek E-Catalog 6.0 Praktik Langsung Aktivasi Coretax dan Pelaporan SPT Kegiatan sosialisasi diawali dengan praktik langsung aktivasi akun Coretax, termasuk tata cara memperoleh kode otorisasi sebagai syarat awal penggunaan sistem. Selanjutnya, Bapak Giyanto Utama sebagai narasumber mempraktikkan secara langsung langkah-langkah pengisian dan pelaporan SPT Tahunan melalui akun Coretax. Peserta kegiatan sosialisasi baik yang mengikuti secara luring maupun daring diberikan kesempatan untuk mencoba secara langsung, sekaligus mengajukan pertanyaan terkait kendala teknis yang kerap dihadapi dalam proses pelaporan pajak. Antusiasme Peserta dan Apresiasi Kegiatan Peserta Sosialisasi secara Daring Sosialisasi berlangsung dengan lancar dan interaktif. Peserta yang mengikuti kegiatan baik secara daring maupun luring tampak antusias dan aktif berdiskusi, khususnya terkait penggunaan Coretax dan teknis pelaporan SPT Tahunan. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari seluruh peserta sebagai langkah positif dalam meningkatkan pemahaman perpajakan, kepatuhan pajak, serta tertib administrasi di lingkungan KPU Provinsi dan Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan. Diharapkan, melalui sosialisasi ini, seluruh aparatur KPU dapat melaksanakan kewajiban perpajakan secara mandiri, tepat waktu, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ....
KPU Provinsi Papua Pegunungan Gelar Rapat Rutin Minggu Ke IV Januari 2026
Wamena — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan melaksanakan rapat rutin Minggu Ke IV Bulan Januari Tahun 2026 yang diikuti oleh seluruh staf dan jajaran di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Rapat rutin ini menjadi sarana koordinasi dan evaluasi internal dalam rangka meningkatkan kinerja kelembagaan serta memastikan seluruh tugas dan fungsi organisasi berjalan secara optimal. Bahas Kedisiplinan Pegawai dan Tunjangan Kinerja Dalam rapat tersebut, salah satu agenda utama yang dibahas adalah kedisiplinan antar pegawai, khususnya yang berkaitan dengan pembayaran tunjangan kinerja. Pimpinan menekankan pentingnya kedisiplinan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan profesionalitas serta akuntabilitas kerja di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sub Bagian Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Hubungan Masyarakat (SDM dan Parmas), Rizhanif Indra menekankan pentingnya kedisiplinan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan profesionalitas serta akuntabilitas kerja di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Melalui pembahasan ini, diharapkan seluruh pegawai dapat lebih meningkatkan kepatuhan terhadap aturan kehadiran, pelaksanaan tugas, serta ketentuan administrasi yang berlaku. Pembahasan Plh Kasubbag Rendatin Selain itu, rapat juga membahas terkait Pelaksana Harian (Plh) Kepala Subbagian Perencanaan, Data dan Informasi (Rendatin). Saat ini, Plh Divisi Rendatin dijabat oleh Delpi Tenna, yang menggantikan Fadhillah Rizkiawaty yang sedang menjalankan cuti. Pembahasan ini dilakukan untuk memastikan agar seluruh tugas dan fungsi Divisi Rendatin tetap berjalan dengan baik selama masa cuti, sehingga proses perencanaan, pengelolaan data, dan sistem informasi di KPU Provinsi Papua Pegunungan tetap berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Melalui rapat rutin ini, KPU Provinsi Papua Pegunungan terus menegaskan komitmennya dalam memperkuat koordinasi internal, meningkatkan disiplin kerja, serta menjaga kualitas pelayanan kelembagaan. ....
Tekankan Disiplin dan Penyelesaian Tugas, Naftali E Paweka Pimpin Apel Pagi
Wamena – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan melaksanakan apel pagi rutin pada minggu keempat bulan Januari tahun 2026. Senin 26 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Halaman Kantor KPU Provinsi Papua Pegunungan dan diikuti oleh seluruh staf dan jajaran, baik CPNS, PNS, PPPK, maupun PPNPN di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Apel pagi ini menjadi bagian dari upaya KPU Provinsi Papua Pegunungan dalam menjaga kedisiplinan, meningkatkan koordinasi, serta memastikan seluruh tugas kelembagaan dapat berjalan dengan optimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Naftali E. Paweka Bertindak sebagai Pembina Apel Apel pagi kali ini dipimpin oleh Naftali E. Paweka, Anggota KPU Provinsi Papua Pegunungan dari Divisi Perencanaan, Data dan Informasi (Rendatin), yang bertindak sebagai Pembina Apel. Dalam amanatnya, Naftali E. Paweka menegaskan pentingnya menjaga kedisiplinan sebagai salah satu pilar utama dalam mendukung kinerja kelembagaan. Ia mengingatkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai non-ASN agar senantiasa mematuhi aturan jam kerja, etika kedinasan, serta meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diemban. Tekankan Disiplin dan Tanggung Jawab Pegawai Naftali menyampaikan bahwa kedisiplinan tidak hanya berkaitan dengan kehadiran, tetapi juga mencakup sikap profesional, komitmen terhadap pekerjaan, serta kemampuan bekerja sama antarpegawai dan lintas divisi. “Setiap ASN dan seluruh pegawai di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan diharapkan untuk tetap menjaga kedisiplinan, baik dalam kehadiran, pelaksanaan tugas, maupun dalam membangun koordinasi antarpegawai,” tegas Naftali. Ia juga menambahkan bahwa disiplin merupakan cerminan dari integritas dan profesionalitas sebagai penyelenggara pemilu yang harus senantiasa dijaga. Baca juga: KPU Provinsi Papua Pegunungan Gelar Apel Pagi Rutin Minggu ke-IV November 2025 Dorong Penyelesaian Tugas yang Tertunda Selain menekankan kedisiplinan, Naftali E. Paweka juga mengingatkan seluruh pegawai untuk kembali mengerjakan tugas-tugas yang sempat tertunda pada minggu sebelumnya. Ia meminta agar seluruh unit kerja dapat melakukan evaluasi internal serta menyusun kembali prioritas pekerjaan agar target kinerja dapat tercapai sesuai dengan perencanaan. “Kepada seluruh pegawai, saya harapkan agar tugas-tugas yang sempat tertunda dapat segera diselesaikan dalam minggu ini. Hal ini penting agar seluruh program kerja dapat berjalan sesuai dengan jadwal dan tidak menghambat kinerja kelembagaan,” ujarnya. Apel Pagi sebagai Sarana Penguatan Koordinasi Apel pagi rutin yang dilaksanakan oleh KPU Provinsi Papua Pegunungan tidak hanya menjadi sarana penyampaian arahan pimpinan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi antarpegawai. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh jajaran dapat menyamakan persepsi, meningkatkan semangat kerja, serta memperkuat komitmen dalam mendukung tugas dan fungsi KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu. Kegiatan apel pagi ini diikuti dengan tertib dan penuh khidmat oleh seluruh peserta, mencerminkan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus meningkatkan kinerja di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Komitmen KPU Papua Pegunungan Tingkatkan Kinerja Kelembagaan Melalui pelaksanaan apel pagi rutin ini, KPU Provinsi Papua Pegunungan menegaskan komitmennya untuk terus membangun budaya kerja yang disiplin, profesional, dan bertanggung jawab. Dengan sinergi seluruh pegawai, diharapkan seluruh program dan kegiatan kelembagaan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. KPU Provinsi Papua Pegunungan akan terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguatan tata kelola organisasi guna mendukung penyelenggaraan pemilu yang berintegritas dan berkualitas di wilayah Papua Pegunungan. Baca juga: Bukan Sekadar Seremonial! Ini Makna Apel Hari Kesadaran Nasional di KPU Papua Pegunungan ....
Prestasi Nasional: Ketua KPU Papua Pegunungan Raih Indonesia Innovation Excellence Award 2026
Bali — Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan, Bapak Daniel Jingga, meraih penghargaan Indonesia Innovation Excellence Award 2026 dengan kategori Best Individual Achievers Leader of Government Agency/Institution. Penghargaan tersebut diterimanya dalam acara penganugerahan yang berlangsung di Harris Sunset Road Hotel, Bali pada Kamis (23/01/2026). Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan dan kontribusi Bapak Daniel Jingga dalam mendorong inovasi, penguatan tata kelola kelembagaan, serta peningkatan kinerja penyelenggaraan pemilu di wilayah Papua Pegunungan. Indonesia Innovation Excellence Award yang dihadirkan kembali oleh One Magz tahun ini merupakan ajang apresiasi berskala nasional yang diberikan kepada tokoh, pimpinan lembaga, dan kepala daerah yang dinilai memiliki prestasi, kapasitas kepemimpinan, serta peran strategis sebagai agen perubahan. Ajang ini menyoroti kiprah para pemimpin dalam merumuskan kebijakan, menghadirkan inovasi sektor publik, serta membangun kolaborasi lintas sektor demi kepentingan bangsa. Ajang penghargaan ini tidak hanya menilai capaian personal, tetapi juga dampak kepemimpinan terhadap organisasi dan masyarakat luas, khususnya dalam menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik di era transformasi digital. Baca juga: Mengenal Tugas, Peran, dan Proses Seleksi Komisioner KPU dari Pusat hingga Daerah Mengusung Tema “Leaders for Change” menandai Satu Tahun Kepemimpinan Nasional Penyelenggaraan Indonesia Innovation Excellence Award 2026 juga menjadi bagian dari refleksi satu tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mengusung tema “Leaders for Change”, ajang ini memberikan penghormatan kepada para pemimpin yang dinilai mampu menghadirkan perubahan nyata, inspiratif, dan berkelanjutan di berbagai sektor. Para penerima penghargaan berasal dari beragam latar belakang, mulai dari kepala daerah, pimpinan lembaga pemerintah, CEO, pimpinan BUMN dan BUMD, hingga unsur legislatif dan senator yang dinilai memiliki kontribusi signifikan di tingkat nasional. Penilaian dan Kategori Penghargaan secara Komprehensif Panitia penyelenggara melakukan proses penilaian secara menyeluruh dan berlapis. Tahapan penilaian meliputi; Seleksi administrasi Penilaian lapangan Wawancara langsung Evaluasi tata kelola anggaran dan tingkat serapan Kolaborasi antar instansi Implementasi visi dan misi organisasi Transformasi digital Inovasi pelayanan publik Berbagai tahapan penilaian di atas menjadi indikator utama dalam menentukan penerima penghargaan. Pendekatan penilaian tersebut bertujuan memastikan bahwa penghargaan diberikan kepada pemimpin yang tidak hanya memiliki gagasan, tetapi juga mampu mengimplementasikan kebijakan secara efektif dan berdampak nyata. Dalam ajang Indonesia Innovation Excellence Award 2026, panitia menetapkan sejumlah kategori penghargaan, antara lain; Excellence One Governor 2026 Excellence One Mayor 2026 Excellence One Regent 2026 Excellence One Legislative/Senator 2026 Excellence One Most Figure 2026 Excellence One Most Women 2026 Excellence One Best Company/BUMD 2026 Special Achievement 2026 Kategori Best Individual Achievers Leader of Government Agency/Institution yang diraih Ketua KPU Papua Pegunungan menempatkannya sebagai salah satu pimpinan lembaga pemerintah yang dinilai berhasil menunjukkan kepemimpinan unggul dan inovatif. Baca juga: Transisi Kepemimpinan Nasional: Refleksi Demokrasi Indonesia di Setiap 20 Oktober Penguatan Kelembagaan KPU Papua Pegunungan Penghargaan yang diterima oleh Bapak Daniel Jingga mencerminkan komitmen KPU Provinsi Papua Pegunungan dalam memperkuat integritas, profesionalisme, serta kolaborasi kelembagaan. Di tengah tantangan geografis dan kompleksitas wilayah Papua Pegunungan, kepemimpinan yang adaptif dan inovatif dinilai menjadi kunci dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pemilu. Ketua KPU Provinsi Papua Pegunungan, Bapak Daniel Jingga, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran KPU di Papua Pegunungan, bukan semata capaian individu. “Penghargaan ini saya dedikasikan untuk seluruh jajaran KPU Provinsi dan KPU Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan. Ini adalah hasil kerja kolektif, kerja keras, dan komitmen bersama dalam menjaga integritas serta meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan pemilu,” ujar Bapak Daniel Jingga. Bapak Daniel Jingga juga menambahkan bahwa inovasi dan penguatan kelembagaan menjadi kebutuhan mutlak, terutama dalam menghadapi tantangan geografis dan sosial di wilayah Papua Pegunungan. “Kondisi di wilayah Papua Pegunungan menuntut kita untuk terus berinovasi dan bekerja secara adaptif. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami jajaran KPU se-Provinsi Papua Pegunungan untuk terus menghadirkan penyelenggaraan pemilu yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik,” tambahnya. Bapak Daniel Jingga juga berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi kepada seluruh jajaran penyelenggara pemilu di wilayah Papua Pegunungan untuk terus menjaga kepercayaan publik. “Kepercayaan masyarakat adalah modal utama penyelenggara pemilu. Karena itu, KPU se- Provinsi Papua Pegunungan akan terus berkomitmen meningkatkan kinerja, memperkuat kolaborasi, dan menjaga integritas dalam setiap tahapan pemilu,” tutupnya. Capaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh jajaran KPU Provinsi dan Kabupaten se-Provinsi Papua Pegunungan untuk terus meningkatkan kinerja, memperkuat tata kelola organisasi, serta menghadirkan penyelenggaraan pemilu yang inovatif, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik. ....
Perkuat Sinergi antar Instansi, KPU Provinsi Papua Pegunungan dan KPPN Tipe A2 Wamena Gelar Olahraga Bersama
Wamena — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan bersama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tipe A2 Wamena melaksanakan kegiatan olahraga bersama yang berlangsung di lapangan voli KPPN Wamena, Jumat (23/01/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi, kebersamaan, serta komunikasi antar instansi pemerintah yang selama ini terjalin sebagai mitra kerja. Kegiatan olahraga bersama digelar dalam suasana santai namun penuh keakraban. Melalui aktivitas fisik yang melibatkan pegawai dari kedua instansi, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan ruang interaksi yang lebih informal, sehingga tercipta hubungan personal sekaligus profesional yang lebih erat antar pegawai KPU Provinsi Papua Pegunungan dan KPPN Tipe A2 Wamena. Sinergi yang kuat antar instansi menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing lembaga, khususnya dalam penyelenggaraan pemilu dan pengelolaan keuangan negara. Baca juga: Sinergi Akuntabilitas: KPU se-Papua Pegunungan dan BPK Gelar Exit Meeting Pemeriksaan Keuangan Peran Strategis KPPN Wamena sebagai Mitra KPU Provinsi Papua Pegunungan Dalam pelaksanaan tugas kelembagaan, KPPN Tipe A2 Wamena memiliki peran strategis sebagai mitra KPU Provinsi Papua Pegunungan, terutama dalam aspek pengelolaan dan penyaluran anggaran negara. KPPN Wamena berperan dalam memastikan kelancaran administrasi keuangan, mulai dari proses pencairan dana, pendampingan pengelolaan anggaran, hingga pengawasan agar pelaksanaan anggaran berjalan sesuai dengan ketentuan perbendaharaan negara. Dukungan tersebut menjadi faktor penting dalam menunjang kelancaran tahapan pemilu maupun kegiatan operasional harian KPU Provinsi Papua Pegunungan, sehingga akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan tetap terjaga. Baca juga: Bendahara KPU Provinsi Papua Pegunungan Lakukan Kunjungan Teknis ke KPPN, Perkuat Tata Kelola Keuangan Antusiasme Pegawai Cerminkan Kekompakan dan Kebersamaan Kegiatan olahraga bersama ini mendapat respons positif dari jajaran pegawai kedua instansi. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga kegiatan berakhir. Semangat kebersamaan dan kekompakan yang terbangun mencerminkan hubungan kerja yang harmonis serta komitmen bersama untuk terus memperkuat kolaborasi lintas instansi. Selain menyehatkan jasmani, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melepas kepenatan dari rutinitas pekerjaan, sehingga diharapkan dapat berdampak positif terhadap semangat dan produktivitas kerja. Plt. Kepala Subbagian Partisipasi, Hubungan Masyarakat, dan SDM KPU Provinsi Papua Pegunungan, Bapak Rizhanif Indra, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas inisiatif KPPN Tipe A2 Wamena yang telah mengundang KPU Provinsi Papua Pegunungan untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga bersama tersebut. Menurutnya, kegiatan-kegiatan santai dan ringan seperti olahraga bersama justru memiliki dampak yang besar dalam mempererat hubungan kerja, membangun komunikasi yang lebih cair, serta menciptakan suasana kerja yang harmonis antar instansi. Baca juga: KPU Papua Pegunungan Hadiri Sosialisasi KPPN Wamena, Bahas Langkah-Langkah Akhir Tahun Anggaran 2025 Komitmen Melanjutkan Kolaborasi Berkelanjutan KPU Provinsi Papua Pegunungan juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kinerja KPPN Tipe A2 Wamena sebagai mitra strategis. Ke depan, kedua instansi berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga dan memperkuat sinergi, kolaborasi, serta semangat kebersamaan yang telah terbangun dengan baik. Melalui sinergi yang solid, KPU Provinsi Papua Pegunungan dan KPPN Tipe A2 Wamena optimistis dapat terus memberikan kontribusi terbaik dalam mendukung tata kelola pemerintahan yang profesional, akuntabel, dan berintegritas di wilayah Papua Pegunungan. ....
27 Pejabat Fungsional KPU se-Provinsi Papua Pegunungan Dilantik, Sekjen KPU RI Tekankan Amanah dan Profesionalisme Kerja
Wamena — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah/janji Pejabat Fungsional Penata Kelola Pemilihan Umum di lingkungan Sekretariat KPU seluruh Indonesia, Kamis (22/1/2026). Pelantikan yang berlangsung mulai pukul 15.00 WIB tersebut diikuti oleh seluruh pejabat fungsional yang akan dilantik dan diambil sumpah janji, termasuk jajaran pegawai dari Sekretariat KPU se-Provinsi Papua Pegunungan. Pengangkatan Pejabat Fungsional di lingkungan sekretariat KPU menjadi bagian dari penguatan kelembagaan KPU dalam rangka meningkatkan profesionalisme aparatur sekretariat sebagai unsur pendukung utama penyelenggaraan pemilu yang berintegritas. Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji Pejabat Fungsional Penata Kelola Pemilihan Umum dilakukan secara terpusat oleh KPU RI dan diikuti secara daring oleh seluruh satuan kerja KPU/KIP di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Baca juga: Perbedaan Jabatan Pelaksana dan Fungsional, Begini Penjelasan KPU Papua Pegunungan Sekretaris Jenderal KPU RI Tekankan Amanah, Profesionalisme, dan Integritas Sekretaris Jenderal KPU RI, Bapak Bernard Sutrisno, dalam pidatonya menegaskan bahwa Jabatan Fungsional Penata Kelola Pemilihan Umum merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Bapak Bernard Sutrisno menekankan pentingnya peningkatan kinerja, profesionalisme, serta integritas dalam mendukung setiap tahapan penyelenggaraan pemilu. “Jabatan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi memiliki peran strategis dalam memastikan tata kelola pemilu berjalan tertib, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Bernard. Bapak Bernard Sutrisno juga mengingatkan bahwa pejabat fungsional harus mampu beradaptasi dengan dinamika dan tantangan pemilu kedepannya yang semakin kompleks, termasuk tuntutan transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan publik yang berkualitas. Baca juga: Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata Kelola Pemilu KPU Provinsi Papua Pegunungan Tugas dan Peran Strategis Penata Kelola Pemilihan Umum Pejabat Fungsional Penata Kelola Pemilihan Umum memiliki tugas utama yaitu melaksanakan kegiatan pengelolaan pemilu baik secara teknis maupun administratif. Tugas tersebut dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, hingga evaluasi. Ruang lingkup tugasnya meliputi aspek administrasi, logistik, keuangan, sumber daya manusia, maupun dukungan teknis lainnya di lingkungan sekretariat KPU. Peran lain pejabat fungsional ini juga berperan dalam penyusunan data dan informasi kepemiluan, fasilitasi tahapan pemilu, pengelolaan arsip dan dokumentasi, serta dukungan kelembagaan agar seluruh tahapan pemilu dapat berjalan tepat waktu dan sesuai standar. Keberadaan Penata Kelola Pemilihan Umum menjadi tulang punggung administrasi dan tata kelola pemilu yang profesional dan berkelanjutan. Dalam pelantikan tersebut, sebanyak 27 Pejabat Fungsional Penata Kelola Pemilihan Umum berasal dari Sekretariat KPU se-Provinsi Papua Pegunungan. Mereka berasal dari sembilan satuan kerja, yang terdiri atas Sekretariat KPU Provinsi Papua Pegunungan serta Sekretariat KPU Kabupaten di wilayah Papua Pegunungan. Pelantikan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekretariat KPU di daerah, khususnya dalam menghadapi tantangan geografis, keterbatasan akses, serta kompleksitas penyelenggaraan pemilu di wilayah Papua Pegunungan. Kabag Teknis dan Hukum, Yulyanti Monim sebagai Saksi menandatangani Berita Acara Pelantikan Sekretaris KPU Provinsi Papua Pegunungan, Bapak Agus Filma bersama Kepala Bagian Teknis dan Hukum KPU Provinsi Papua Pegunungan Ibu Yulyanti Monim turut hadir dan menjadi saksi dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Janji Pejabat Fungsional KPU provinsi Papua Pegunungan. Bapak Agus Filma menyampaikan selamat kepada seluruh pejabat yang dilantik. Selain itu Bapak Agus Filma juga menyampaikan bahwa arahan dan harapan yang telah disampaikan oleh Bapak Sekjen KPU RI agar dilaksanakan dan direalisasikan dengan baik. Baca Juga: Uji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata Kelola Pemilu KPU Provinsi Papua Pegunungan Penguatan Kelembagaan Menuju Pemilu Berintegritas Dengan dilantiknya para pejabat fungsional tersebut, diharapkan terciptanya kinerja kelembagaan yang semakin solid, adaptif, dan profesional dalam penyelenggaraan pemilu. Mengingat peran sekretariat KPU yang kuat dan kompeten menjadi salah satu kunci keberhasilan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas. KPU Provinsi Papua Pegunungan berkomitmen dengan tegas untuk terus melakukan penguatan sumber daya manusia dan tata kelola organisasi, secara optimal demi terwujudnya demokrasi yang berkualitas di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Papua Pegunungan. ....
Pengumuman
Publikasi
Opini
Kenyam - Pemilu merupakan fondasi utama demokrasi. Di berbagai negara, penyelenggaraan pemilu terus mengalami pembaruan dan penguatan agar mampu menjawab tantangan zaman, meningkatkan kepercayaan publik, serta menjamin hasil pemilu yang sah dan diterima masyarakat. Meskipun setiap negara memiliki konteks politik dan sosial yang berbeda, terdapat sejumlah praktik baik (best practices) yang dapat menjadi pembelajaran bersama, termasuk bagi Indonesia. Sebagai bagian dari komunitas demokrasi global, Indonesia melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus berupaya menyelenggarakan pemilu yang profesional, transparan, dan berintegritas, sejalan dengan standar internasional. Baca juga: Membangun Demokrasi yang Dipercaya: Jalan Panjang Meningkatkan Indeks dan Integritas Publik Sistem Penyelenggaraan Pemilu yang Efisien Banyak negara mengembangkan sistem penyelenggaraan pemilu yang menekankan efisiensi tanpa mengorbankan prinsip demokrasi. Efisiensi diwujudkan melalui perencanaan tahapan yang jelas, pembagian tugas yang tegas antar lembaga, serta penggunaan teknologi yang terukur dan aman. Di beberapa negara, digitalisasi daftar pemilih, sistem rekapitulasi yang terstandar, dan manajemen logistik yang modern terbukti mampu mengurangi kesalahan administratif dan mempercepat proses pemilu. Efisiensi harus selalu diimbangi dengan keamanan sistem dan perlindungan hak pemilih, terutama di negara dengan wilayah luas dan kondisi geografis yang beragam. Transparansi sebagai Pilar Kepercayaan Publik Transparansi menjadi salah satu prinsip utama penyelenggaraan pemilu di berbagai belahan dunia. Penyelenggara pemilu dituntut membuka informasi seluas-luasnya kepada publik, mulai dari regulasi, tahapan pemilu, daftar pemilih, hingga hasil penghitungan suara. Praktik internasional menunjukkan bahwa keterbukaan data pemilu, mekanisme pengawasan yang inklusif, serta akses masyarakat dan pemantau pemilu terhadap proses pemilu dapat meningkatkan kepercayaan publik. Ketika masyarakat memahami bagaimana pemilu dikelola, potensi kecurigaan dan konflik pascapemilu dapat diminimalkan. Profesionalisme Penyelenggara Pemilu Menekankan pentingnya profesionalisme penyelenggara pemilu sebagai kunci keberhasilan pemilu demokratis. Di banyak negara, anggota lembaga penyelenggara pemilu dipilih melalui proses seleksi yang ketat, dilengkapi pelatihan berkelanjutan, serta terikat pada kode etik yang jelas. Profesionalisme ini tercermin dalam sikap independen, imparsial, dan konsisten dalam menerapkan aturan. Penyelenggara pemilu tidak hanya berperan sebagai administrator teknis, tetapi juga sebagai penjaga integritas demokrasi yang harus mampu bekerja di bawah tekanan politik dan dinamika sosial. Baca juga: Multi Partai Gambaran Pluralitas Masyarakat di Indonesia Pembelajaran bagi Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia Belajar dari praktik penyelenggaraan pemilu di negara lain tidak berarti meniru secara mentah, melainkan mengadaptasi nilai-nilai universal demokrasi sesuai dengan karakteristik Indonesia. Dengan wilayah kepulauan, jumlah pemilih yang besar, serta keragaman sosial dan budaya—termasuk di Papua Pegunungan—penyelenggaraan pemilu di Indonesia membutuhkan pendekatan yang kontekstual dan inklusif. Melalui penguatan sistem, peningkatan transparansi, dan profesionalisme penyelenggara, KPU Indonesia terus memperkuat perannya sebagai lembaga penyelenggara pemilu yang kredibel dan dipercaya publik. Praktik baik penyelenggaraan pemilu dari berbagai negara menunjukkan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui sistem yang efisien, transparan, dan dijalankan oleh penyelenggara yang profesional. Dengan terus belajar dari pengalaman global, penyelenggaraan pemilu di Indonesia diharapkan semakin mampu menjamin hak pilih warga negara dan menjaga kualitas demokrasi secara berkelanjutan. (GSP) *** Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan representasi pandangan resmi dari KPU Provinsi Papua Pegunungan Penulis: Tommy Gandes Setiawan
Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi adalah dua pilar utama dalam kehidupan bernegara yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang: saling melengkapi, saling memperkuat, dan menjadi prasyarat tegaknya negara hukum. Demokrasi menciptakan lingkungan yang menjamin penghormatan terhadap HAM, sementara penegakan HAM memperkuat kualitas demokrasi itu sendiri. Tanpa perlindungan HAM, demokrasi kehilangan maknanya; sebaliknya, tanpa demokrasi, hak asasi manusia akan sulit ditegakkan secara nyata. Hubungan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir — seperti hak hidup, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, serta hak untuk memperoleh keadilan. Sementara itu, demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang menjamin rakyat memiliki kekuasaan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, baik secara langsung maupun melalui wakil yang dipilih secara bebas. Hubungan keduanya bersifat saling bergantung dan timbal balik: Demokrasi menciptakan lingkungan HAM. Dalam sistem demokratis, kebebasan sipil dan politik dijamin oleh konstitusi. Warga negara memiliki hak untuk berbicara, berkumpul, berserikat, dan memilih tanpa paksaan. Demokrasi yang sehat memastikan bahwa kekuasaan dijalankan dalam batas-batas hukum dan moral, sehingga mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh penguasa. HAM sebagai fondasi demokrasi. Tanpa jaminan HAM, partisipasi politik tidak mungkin berjalan. Hak untuk memilih, berpendapat, dan berorganisasi merupakan bagian dari HAM yang menjadi inti demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu, perlindungan terhadap HAM adalah syarat agar demokrasi berfungsi dengan adil dan inklusif. Seperti yang dijelaskan oleh Ellya Rosana (2016), prinsip demokrasi dan HAM tidak dapat dipisahkan dari konsep negara hukum (rule of law). Dalam negara hukum yang demokratis, yang berdaulat bukanlah manusia, melainkan hukum. Hukum bertugas membatasi kekuasaan, melindungi hak warga negara, dan memastikan keadilan dijalankan tanpa pandang bulu. Baca juga: Ternyata, Demokrasi Indonesia Mirip Mobile Legends! Ini Nilai-Nilai yang Bisa Kita Pelajari Negara Hukum dan Implementasi HAM dalam Demokrasi Menurut pemikiran Julius Stahl dan A.V. Dicey, suatu negara dapat disebut demokratis apabila memiliki jaminan hukum terhadap HAM. Artinya, pelaksanaan demokrasi harus diwujudkan dalam sistem pemerintahan berdasarkan hukum dan konstitusi. Dalam konteks Indonesia, hal ini tertuang secara eksplisit dalam Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menegaskan bahwa: “Negara Indonesia adalah negara hukum,” serta mengakui dan menjamin hak asasi manusia dan hak-hak warga negara. Konstitusi Indonesia juga menegaskan prinsip kedaulatan rakyat, di mana rakyat menjadi sumber legitimasi tertinggi dalam pemerintahan. Dengan demikian, penghormatan terhadap HAM dan pelaksanaan demokrasi bukan sekadar ideal moral, melainkan amanat konstitusional. Negara berkewajiban untuk: Menyusun peraturan perundang-undangan yang menjamin hak-hak asasi setiap warga negara. Tidak menghalangi partisipasi masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Menegakkan keadilan tanpa diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Hukum, dalam kerangka demokrasi, bukanlah alat kekuasaan, tetapi instrumen keadilan untuk semua warga negara. Penegakan HAM dalam Proses Demokratisasi Indonesia Sejak reformasi 1998, Indonesia memasuki babak baru dalam penegakan HAM dan demokrasi. Setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah rezim otoriter, bangsa ini mulai membuka ruang kebebasan berpendapat, partisipasi politik, dan transparansi pemerintahan. Namun, transisi menuju demokrasi substantif tidak berjalan tanpa tantangan. 1. Keadilan Transisional Untuk menyembuhkan luka masa lalu akibat pelanggaran HAM, dibutuhkan pendekatan keadilan transisional (transitional justice). Pendekatan ini memungkinkan korban pelanggaran HAM memperoleh keadilan dan pengakuan, tanpa mengorbankan stabilitas nasional. Meski demikian, banyak kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu yang hingga kini belum tuntas, seperti tragedi 1965, Tanjung Priok, dan Trisakti. 2. Peran Komnas HAM Pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melalui Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993 dan diperkuat dengan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, serta UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, merupakan tonggak penting dalam sejarah penegakan HAM di Indonesia. Namun, efektivitas lembaga ini seringkali terkendala oleh kurangnya independensi, tekanan politik, dan lemahnya kemauan politik (political will) dari pemerintah dan parlemen untuk menindaklanjuti hasil penyelidikan. 3. Peran Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui kebijakan nasional dan kerja sama internasional, termasuk dukungan terhadap Dewan HAM PBB dan kecaman terhadap pelanggaran HAM global seperti konflik di Palestina dan Afghanistan. Namun, penegakan HAM tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga masyarakat sipil, media, dan organisasi non-pemerintah untuk memastikan bahwa kebebasan dan keadilan tetap terjaga. Baca juga: Memahami Demokrasi Deliberatif: Konsep, Tantangan, dan Penerapannya di Indonesia Tantangan dalam Menegakkan HAM dan Demokrasi Beberapa tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia dalam memperkuat hubungan HAM dan demokrasi meliputi: Kemunduran demokrasi (democratic backsliding), ketika kekuasaan politik digunakan untuk melemahkan lembaga pengawasan dan membungkam kritik publik. Kesenjangan penegakan hukum, di mana pelaku pelanggaran HAM sering tidak tersentuh proses hukum. Korupsi dan oligarki politik, yang mengancam prinsip kesetaraan dan keadilan sosial. Ketimpangan informasi dan partisipasi, yang membuat sebagian warga negara masih sulit mengakses hak politiknya secara penuh. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan penguatan lembaga demokrasi, pendidikan HAM sejak dini, serta reformasi sistem hukum agar benar-benar berpihak pada keadilan dan kemanusiaan. HAM dan Demokrasi: Pilar Kemanusiaan dan Kedaulatan Rakyat HAM dan demokrasi pada hakikatnya sama-sama bertujuan untuk menjaga martabat manusia dan menegakkan keadilan sosial. Demokrasi memberikan ruang agar rakyat dapat menentukan masa depannya sendiri, sementara HAM memastikan bahwa kebebasan dan hak-hak tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak mana pun. Seperti dikatakan dalam prinsip universal HAM: “Tindakan tidak adil terhadap satu orang berarti ancaman bagi setiap orang.” Maka dari itu, demokrasi sejati adalah demokrasi yang berbasis pada penghormatan terhadap HAM — bukan sekadar prosedur elektoral, tetapi sistem yang melindungi, mengakui, dan memberdayakan manusia sebagai warga negara yang bermartabat. Penulis: Tommy Gandes Setiawan Daftar Referensi: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50 Tahun 1993 tentang Komnas HAM. Rosana, Ellya. (2016). Negara Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jurnal Hukum dan HAM. Stahl, Julius & Dicey, A.V. (dalam Rosana, 2016). Rule of Law and Democracy: A Theoretical Framework. Komnas HAM. (2023). Laporan Tahunan Penegakan HAM di Indonesia. United Nations Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR). (2022). Human Rights and Democracy: Interdependence and Mutual Reinforcement. Kementerian Hukum dan HAM RI. (2024). Rencana Aksi Nasional HAM (RANHAM) 2025–2029.
Wamena — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal sebagai pemimpin yang gemar turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. Salah satu momen paling bersejarah dalam masa kepemimpinannya adalah ketika ia mengunjungi Kabupaten Nduga, Papua. Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan bukti nyata komitmen pemerintah pusat dalam membangun wilayah paling timur Indonesia. Dengan semangat membangun dari pinggiran, Jokowi menembus medan berat demi memastikan pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil seperti Nduga. Perjalanan yang Tidak Mudah Menuju Nduga Kabupaten Nduga merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua Pegunungan dengan medan geografis yang sangat sulit dijangkau. Jalur darat menuju Nduga dikenal ekstrem dan membutuhkan waktu tempuh panjang, melewati pegunungan tinggi dan lembah-lembah curam. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi bersama rombongan menggunakan pesawat perintis dan helikopter untuk mencapai lokasi. Kunjungan Presiden ke Nduga menunjukkan keberanian sekaligus kesungguhan seorang kepala negara untuk hadir di tengah masyarakat yang selama ini merasa terisolasi. Jokowi menjadi presiden pertama Republik Indonesia yang secara langsung menginjakkan kaki di Nduga, sebuah simbol kehadiran negara di wilayah yang selama ini dikenal rawan konflik dan jauh dari pusat pemerintahan. Baca juga: Bukti Nyata Kepemimpinan Jokowi Saat Menjadi Wali Kota Solo yang Menginspirasi Indonesia Mendengar Aspirasi dan Menyapa Masyarakat Secara Langsung Sesampainya di Nduga, Jokowi disambut hangat oleh masyarakat dan tokoh adat setempat. Ia berbincang langsung dengan warga, mendengar aspirasi mereka terkait kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur jalan. Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen kuat untuk membangun Papua secara menyeluruh, tanpa membeda-bedakan daerah berdasarkan letak geografis atau kondisi keamanan. “Saya datang ke Nduga karena ingin memastikan sendiri bahwa pembangunan harus sampai ke sini. Tidak boleh ada satu pun warga Indonesia yang tertinggal,” ujar Jokowi dalam sambutannya di hadapan masyarakat. Sikapnya yang merakyat dan kebiasaannya berdialog langsung membuat warga merasa diperhatikan. Banyak masyarakat mengaku baru kali ini seorang presiden datang menemui mereka secara langsung, bukan hanya melalui perwakilan atau pejabat daerah. Kehadiran Jokowi membawa harapan baru bagi warga Nduga agar pembangunan dan perhatian pemerintah semakin merata di seluruh pelosok Papua. Dorongan Pembangunan Infrastruktur di Tanah Papua Dalam kunjungannya ke Nduga, Jokowi meninjau beberapa proyek pembangunan yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah pusat di Papua. Salah satu fokus utama adalah peningkatan konektivitas wilayah melalui pembangunan jalan Trans Papua. Proyek ini bertujuan membuka akses antar kabupaten, sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan pendidikan. Selain infrastruktur jalan, Jokowi juga mendorong pembangunan bandara kecil dan fasilitas publik seperti puskesmas, sekolah, serta sarana air bersih. Ia menekankan bahwa pembangunan di Papua tidak hanya soal fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Presiden menginginkan agar masyarakat Papua bisa mandiri dan berdaya saing, dengan tetap mempertahankan kearifan lokal mereka. Data dan Bukti Resmi Kunjungan Jokowi ke Nduga yaitu pada tanggal 26 Desember 2019. Lokasi utama di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua. Agenda utama yaitu meninjau pembangunan infrastruktur Trans Papua dan memastikan keberlanjutan proyek Jalan Wamena–Mumugu. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), proyek Trans Papua yang dikunjungi Jokowi di Nduga termasuk, Panjang ruas jalan: ± 286 km (Wamena – Kenyam – Mumugu). Dan dibuka bertahap sejak 2015 dan terus dilanjutkan hingga pasca-2020. Tujuan utamanya mempercepat konektivitas antarwilayah di Papua Pegunungan, termasuk Nduga, yang sebelumnya hanya bisa diakses lewat udara. Program pembangunan tersebut sejalan dengan visi besar Jokowi untuk memperkecil kesenjangan antarwilayah di Indonesia. Melalui kunjungan ke Nduga, ia ingin menunjukkan bahwa negara hadir untuk semua, termasuk daerah yang selama ini berada di garis depan pembangunan nasional. Dukungan Keamanan dan Pendekatan Kemanusiaan Wilayah Nduga dikenal memiliki tantangan keamanan yang cukup kompleks. Namun, Jokowi tetap memutuskan datang langsung dengan pendekatan damai dan penuh rasa hormat kepada masyarakat lokal. Dalam pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa pembangunan Papua harus dilakukan dengan mengedepankan dialog, bukan kekerasan. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk tokoh masyarakat dan gereja, untuk bersama-sama menjaga perdamaian. Pemerintah pusat, kata Jokowi, akan terus berupaya mengutamakan pendekatan kesejahteraan, bukan semata pendekatan militer. Sikap ini mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi yang humanis dan terbuka terhadap solusi kemanusiaan dalam menangani permasalahan di Papua. Respons dan Harapan Masyarakat Nduga Kunjungan Presiden Jokowi meninggalkan kesan mendalam bagi warga Nduga. Banyak masyarakat mengungkapkan rasa haru dan bangga karena untuk pertama kalinya seorang kepala negara hadir di tanah mereka. Tokoh adat setempat mengapresiasi langkah Presiden yang tidak hanya datang memberi janji, tetapi juga melihat langsung kondisi di lapangan. Mereka berharap agar kunjungan ini menjadi titik awal bagi percepatan pembangunan di berbagai sektor. Masyarakat Nduga juga meminta agar perhatian terhadap pendidikan dan kesehatan terus ditingkatkan, karena dua hal tersebut masih menjadi tantangan utama di wilayah pegunungan Papua. Baca juga: Jokowi dan Jembatan Merah Jayapura: Bukti Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua Warisan Kepemimpinan Jokowi di Tanah Papua Kunjungan ke Nduga menjadi bagian dari rangkaian panjang perjalanan Jokowi dalam membangun Papua. Sejak awal masa jabatannya, Jokowi telah melakukan lebih dari belasan kunjungan ke berbagai wilayah di Papua, mulai dari Jayapura, Wamena, hingga Merauke. Konsistensinya meninjau langsung pembangunan menjadi ciri khas kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan berorientasi pada hasil nyata. Kehadirannya di Nduga bukan hanya simbol politik, melainkan manifestasi nyata dari semangat Indonesia Sentris. Jokowi ingin memastikan bahwa kemajuan Indonesia bukan hanya terjadi di kota-kota besar di Jawa, tetapi juga di wilayah yang jauh seperti Nduga. Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabupaten Nduga bukan sekadar perjalanan kerja biasa, melainkan bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap daerah-daerah tertinggal di Papua. Di tengah tantangan keamanan dan sulitnya akses transportasi, Jokowi hadir langsung untuk memastikan pembangunan infrastruktur tetap berjalan. Sikap ini menunjukkan karakter kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan berani mengambil risiko demi pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk di tanah Papua yang selama ini sering terpinggirkan. Penulis : Indra Hariadi
Wamena — Kabupaten Jayawijaya merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan yang memiliki dinamika sosial dan mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Kondisi masyarakat yang hidup berpindah-pindah, baik karena faktor ekonomi, sosial, maupun geografis, menjadikan data kependudukan di wilayah ini sering mengalami perubahan. Jumlah penduduk tidak selalu tetap, kadang bertambah dan kadang berkurang, tergantung pada aktivitas dan pola kehidupan masyarakatnya. Tantangan utama yang muncul dari situasi ini adalah dalam hal pemetaan wilayah dan penentuan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Proses pemilihan di Jayawijaya sering kali dihadapkan pada persoalan teknis yang tampak sederhana, namun berdampak besar yaitu ketidakjelasan pembagian wilayah pada level RT/RW. Dalam banyak kasus, data pada KTP penduduk masih tercatat sebagai RT/RW 000/000, yang artinya belum ada pembagian administratif yang jelas di lapangan. Akibatnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayawijaya mengalami kesulitan dalam menentukan koordinat pasti untuk pendirian TPS sebelum hari pemilihan tiba. Baca juga: Multi Partai Gambaran Pluralitas Masyarakat di Indonesia Situasi ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan menyangkut hak dasar warga negara untuk memberikan suara. Ketika lokasi TPS tidak terpetakan dengan baik, risiko munculnya pemilih ganda, pemilih tidak terdaftar, atau pemilih yang kesulitan menemukan TPS menjadi sangat besar. Pada akhirnya, hal ini dapat menurunkan kualitas partisipasi masyarakat dan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. Untuk itu, diperlukannya kolaborasi antara KPU, pemerintah daerah, dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) guna memperkuat validitas data kependudukan di Jayawijaya. Pembaruan dan verifikasi data berbasis wilayah perlu dilakukan secara berkala dengan pendekatan lapangan, melibatkan aparat kampung, tokoh adat, dan masyarakat lokal yang memahami kondisi sosial setempat. Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat ini akan lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan data administratif yang sering kali tidak mencerminkan realitas lapangan. Selain itu, penggunaan teknologi pemetaan geografis dapat menjadi solusi modern dalam membantu KPU menentukan titik koordinat TPS secara akurat. Dengan peta digital yang terintegrasi dengan data kependudukan, perencanaan pemilihan di wilayah geografis kompleks seperti Jayawijaya akan menjadi lebih terukur dan efisien. Baca juga: Membangun Demokrasi yang Dipercaya: Jalan Panjang Meningkatkan Indeks dan Integritas Publik Pemerintah juga perlu mempertimbangkan program penataan wilayah administratif skala mikro, yakni memastikan setiap kampung memiliki pembagian RT/RW yang jelas dan terdaftar resmi. Ini bukan hanya penting untuk keperluan pemilihan umum, tetapi juga untuk pelayanan publik secara keseluruhan: mulai dari distribusi bantuan sosial, pendidikan, hingga kesehatan. Masalah data kependudukan di Jayawijaya sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih besar: bagaimana negara hadir secara utuh hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Demokrasi bukan hanya tentang mencoblos di bilik suara, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap suara benar-benar dihitung dan diakui. Pada akhirnya, masalah pemetaan wilayah di Jayawijaya adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar, bagaimana negara memastikan setiap warga, di mana pun mereka berada, memiliki akses yang setara untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Pemilu yang adil dimulai dari data yang akurat, dan data yang akurat hanya bisa lahir dari perhatian yang tulus terhadap kondisi masyarakat di akar rumput. Kabupaten Jayawijaya, dengan segala keunikannya, bukan sekadar wilayah di peta tetapi rumah bagi warga negara yang memiliki hak yang sama untuk didengar dan dipilihkan dengan bijaksana. Baca juga: Pemilih Pemula: Suara Pertama Menentukan Masa Depan
Wamena – Nama Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, mulai dikenal luas publik bukan saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, melainkan sejak masa kepemimpinannya sebagai Wali Kota Surakarta (Solo) pada tahun 2005 hingga 2012. Dalam kurun waktu tujuh tahun itu, Jokowi berhasil menorehkan berbagai prestasi dan perubahan signifikan yang membuat wajah Kota Solo berubah menjadi lebih tertata, humanis, dan berdaya saing tinggi. Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang merakyat, inovatif, dan visioner. Kepemimpinannya di Solo menjadi fondasi kuat yang mengantarkan dirinya menuju panggung nasional. Banyak pihak menilai bahwa keberhasilan Jokowi di tingkat lokal menjadi bukti konkret dari model kepemimpinan berbasis pelayanan publik dan kedekatan dengan masyarakat. Membangun Kepercayaan Publik Lewat Transparansi Salah satu langkah awal Jokowi saat memimpin Solo adalah membangun transparansi dan keterbukaan informasi publik. Ia berani mempublikasikan seluruh proses perencanaan dan penggunaan anggaran pemerintah kota agar masyarakat dapat mengawasi langsung. Jokowi menerapkan sistem “open management”, di mana masyarakat, pelaku usaha, hingga media lokal dapat memantau berbagai program dan proyek pemerintah daerah. Pendekatan ini membuat tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah kota meningkat tajam. Selain itu, Jokowi juga kerap turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga, pedagang pasar, dan komunitas masyarakat. Gaya “blusukan” ini menjadi ciri khasnya hingga kini. Dengan cara tersebut, Jokowi mampu mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung dan memberikan solusi cepat di lapangan tanpa prosedur yang berbelit. Baca juga: Jokowi dan Jembatan Merah Jayapura: Bukti Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua Revitalisasi Pasar Tradisional: Menata Tanpa Menggusur Salah satu bukti nyata dari keberhasilan kepemimpinan Jokowi di Solo adalah revitalisasi pasar tradisional. Sebagai kota dengan budaya dagang yang kuat, Solo memiliki banyak pasar rakyat yang dulunya kumuh dan tidak tertata. Alih-alih melakukan penggusuran paksa, Jokowi memilih cara dialog dan musyawarah dengan para pedagang. Ia memimpin langsung proses relokasi dan peremajaan pasar, memastikan bahwa para pedagang mendapatkan tempat yang layak tanpa kehilangan mata pencaharian. Beberapa pasar yang berhasil direvitalisasi antara lain Pasar Gede, Pasar Klithikan Notoharjo, dan Pasar Nusukan. Hasilnya, pasar-pasar tersebut kini lebih bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas modern tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. Kebijakan humanis ini menjadi contoh nasional dalam penataan ruang kota berbasis kepentingan rakyat kecil, dan kerap dijadikan studi banding oleh pemerintah daerah lain. Menjadikan Solo Kota Budaya dan Pariwisata Kepemimpinan Jokowi juga menempatkan Solo sebagai kota budaya dan destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Ia menggagas banyak kegiatan budaya seperti Solo Batik Carnival, Solo International Performing Arts (SIPA), dan Festival Jenang Solo. Acara-acara tersebut bukan hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menghidupkan kembali ekonomi kreatif masyarakat setempat. Selain itu, Jokowi juga mempercantik tata kota dengan menata trotoar, taman kota, dan jalur pedestrian agar lebih ramah pejalan kaki. Solo di bawah kepemimpinan Jokowi dikenal sebagai kota yang indah, rapi, dan nyaman untuk dikunjungi. Upaya pelestarian budaya ini memperkuat identitas Solo sebagai kota warisan budaya Jawa, sekaligus memperkuat ekonomi lokal lewat pariwisata berkelanjutan. Peningkatan Pelayanan Publik dan Transportasi Dalam bidang pelayanan publik, Jokowi memperkenalkan berbagai inovasi untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan pemerintahan. Ia mendorong digitalisasi administrasi dan memperpendek jalur birokrasi agar pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. Salah satu inovasi penting adalah peluncuran Bus Batik Solo Trans (BST) yang menjadi ikon transportasi massal pertama di kota tersebut. BST dihadirkan sebagai solusi untuk mengurai kemacetan sekaligus mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih ramah lingkungan. Program ini menjadi cikal bakal penerapan transportasi publik modern di kota-kota lain, menunjukkan bahwa kebijakan transportasi yang berpihak pada masyarakat bisa dimulai dari skala kecil. Kepemimpinan Humanis dan Dekat dengan Rakyat Hal yang paling menonjol dari sosok Jokowi selama menjadi Wali Kota Solo adalah sikapnya yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia tidak segan makan di warung pinggir jalan, berkeliling pasar tanpa pengawalan ketat, bahkan berdialog langsung dengan warga di gang-gang sempit. Kedekatan itu menciptakan hubungan emosional yang kuat antara pemimpin dan masyarakat. Jokowi dianggap tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga benar-benar hadir di tengah kehidupan warga. Pendekatan personal dan empatik ini terbukti efektif dalam menciptakan stabilitas sosial dan kepercayaan publik. Masyarakat Solo merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pembangunan kota mereka sendiri. Baca juga: Mengenang Kepemimpinan Jokowi: Transformasi Indonesia di Era Modern Warisan Kepemimpinan Jokowi untuk Solo dan Indonesia Berbagai capaian yang diraih selama dua periode kepemimpinannya di Solo menjadi modal politik dan moral bagi Jokowi saat maju menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pada 2014. Warisan terbesarnya di Solo bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pola kepemimpinan yang transparan, partisipatif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Kini, banyak kebijakan nasional yang masih mencerminkan semangat Solo, seperti pembangunan infrastruktur berbasis kebutuhan rakyat, pendekatan dialogis terhadap masalah sosial, dan dorongan besar terhadap UMKM serta ekonomi kreatif. Kepemimpinan Jokowi di Solo adalah contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil dan dari tingkat lokal. Dengan gaya blusukan, kejujuran, dan ketulusan melayani rakyat, Jokowi berhasil membuktikan bahwa seorang pemimpin dapat membawa perubahan nyata jika mau turun langsung dan mendengar suara masyarakat. Warisan itu kini menjadi inspirasi bagi banyak kepala daerah di Indonesia untuk meniru semangat kepemimpinan Jokowi: sederhana, merakyat, dan fokus pada hasil nyata. Penulis : Indra Hariadi