KPU Papua Pegunungan Ajak Warga Perbarui Data Pemilih Lewat RRI Wamena
WAMENA, 9 Oktober 2026 — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan mengajak masyarakat berpartisipasi aktif menjaga akurasi data pemilih melalui sosialisasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan III Tahun 2026 dalam dialog interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI) Wamena, Jumat (9/10/2026). Dialog yang disiarkan langsung melalui RRI Pro 1 Wamena pada frekuensi 97,1 FM, pukul 09.00–10.00 WIT, menghadirkan Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Provinsi Papua Pegunungan, Naftali Paweka, bersama Kepala Bagian Keuangan, Umum, dan Logistik KPU Provinsi Papua Pegunungan, Adden Siagian. Dialog dipandu oleh Tanti Situmorang. Kegiatan tersebut menjadi sarana komunikasi publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya data pemilih yang akurat, mutakhir, dan komprehensif, sekaligus mendorong partisipasi warga dalam proses pemutakhiran data. Baca juga: KPU Provinsi Papua Pegunungan Rilis Rekapitulasi Data Pemilih Berkelanjutan Triwulan III Tahun 2026 Mengapa Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan Penting? Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan merupakan proses pembaruan data pemilih untuk menyesuaikan perubahan kondisi kependudukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Perubahan tersebut dapat mencakup warga yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih, pemilih yang meninggal dunia, perubahan elemen data kependudukan, dan perpindahan penduduk. Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Provinsi Papua Pegunungan, Naftali Paweka, menekankan pentingnya PDPB untuk mendukung perlindungan hak pilih warga negara. Ia mengajak masyarakat berpartisipasi aktif menyampaikan informasi dan masukan agar kualitas data pemilih terus meningkat. “Pemutakhiran data pemilih bukan sekadar memperbarui angka dalam daftar pemilih, tetapi merupakan tanggung jawab bersama untuk memastikan hak konstitusional setiap warga negara tetap terlindungi. Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat Papua Pegunungan untuk berpartisipasi aktif memberikan informasi dan masukan agar data pemilih semakin akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Naftali Paweka. Partisipasi Masyarakat Menjadi Kunci Masyarakat diharapkan memastikan kesesuaian data kependudukannya serta menyampaikan masukan apabila menemukan ketidaksesuaian data pemilih. Warga yang membutuhkan informasi atau ingin menyampaikan tanggapan dapat berkoordinasi dengan KPU kabupaten setempat. Partisipasi masyarakat membantu KPU memperoleh informasi yang lebih akurat dan memperkuat kualitas data pemilih sebagai salah satu fondasi penyelenggaraan pemilu yang demokratis dan berintegritas. Tantangan Pemutakhiran Data Pemilih di Papua Pegunungan Kondisi geografis, akses transportasi antardistrik dan antarkampung, keterjangkauan layanan administrasi kependudukan, serta kebutuhan sinkronisasi data dengan instansi terkait menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan PDPB di Papua Pegunungan. Karena itu, koordinasi antara KPU, pemerintah daerah, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat. Delapan KPU kabupaten di wilayah Papua Pegunungan berperan dalam pelaksanaan pemutakhiran data sesuai kewenangan dan kondisi wilayah masing-masing. Dialog RRI Wamena Perkuat Literasi Demokrasi Pemanfaatan siaran radio menjadi salah satu saluran komunikasi publik untuk memperluas penyebaran informasi kepemiluan. Melalui dialog interaktif RRI Wamena, masyarakat memperoleh penjelasan mengenai PDPB serta pentingnya menjaga kesesuaian data pemilih. KPU Provinsi Papua Pegunungan berkomitmen meningkatkan kualitas pemutakhiran data pemilih secara berkelanjutan sesuai peraturan perundang-undangan melalui keterbukaan informasi, koordinasi lintas instansi, dan dukungan masyarakat. Data pemilih yang berkualitas merupakan bagian dari upaya melindungi hak konstitusional warga negara. Baca juga: KPU Papua Pegunungan Sosialisasikan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan di RRI Wamena, Naftali E. Paweka Ajak Masyarakat Aktif Perbarui Data Pemilih ....
Pererat Solidaritas dan Tingkatkan Kebugaran, KPU Se-Provinsi Papua Pegunungan Gelar Senam Bersama di Halaman Kantor Perwakilan KPU Tolikara
Wamena, Jumat, 9 Oktober 2026 — Komisi Pemilihan Umum (KPU) se-Provinsi Papua Pegunungan melaksanakan kegiatan senam bersama di halaman Kantor Perwakilan KPU Kabupaten Tolikara, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat, mempererat tali persaudaraan, serta memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas di lingkungan KPU se-Provinsi Papua Pegunungan. Senam bersama merupakan salah satu bentuk kegiatan positif yang tidak hanya berorientasi pada pemeliharaan kesehatan jasmani, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan kerja yang harmonis di antara jajaran penyelenggara pemilu. Di tengah berbagai tugas administratif, teknis, dan kelembagaan yang harus dilaksanakan, menjaga kesehatan serta kebugaran tubuh menjadi hal penting agar setiap pegawai dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Kegiatan yang dilaksanakan di halaman Kantor Perwakilan KPU Kabupaten Tolikara ini menghadirkan suasana kebersamaan melalui aktivitas olahraga yang dapat diikuti bersama. Dengan mengikuti gerakan senam secara teratur, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kebugaran tubuh, menjaga stamina, serta membangun semangat positif untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Momentum senam bersama ini juga menunjukkan bahwa membangun lingkungan kerja yang produktif tidak hanya dilakukan melalui rapat koordinasi, pelaksanaan program kerja, maupun kegiatan administratif lainnya. Kebersamaan dapat tumbuh melalui aktivitas sederhana yang memberikan ruang bagi pegawai untuk berinteraksi, saling menyapa, dan mempererat hubungan antarsesama dalam suasana yang lebih santai dan penuh kekeluargaan. Bagi jajaran KPU di wilayah Provinsi Papua Pegunungan, kebersamaan merupakan salah satu unsur penting dalam mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan. Hubungan kerja yang baik, komunikasi yang terbuka, serta semangat saling mendukung menjadi modal untuk membangun koordinasi yang efektif dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan. Oleh karena itu, kegiatan olahraga bersama dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap lembaga dan memperkuat komitmen dalam menjalankan tugas. Membangun Budaya Hidup Sehat di Lingkungan Kerja Kesehatan merupakan modal penting bagi setiap pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Aktivitas pekerjaan yang berlangsung setiap hari membutuhkan kondisi tubuh yang sehat, stamina yang terjaga, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kebutuhan fisik. Melalui kegiatan senam bersama, jajaran KPU diharapkan semakin menyadari pentingnya menjadikan olahraga sebagai bagian dari pola hidup sehat. Senam bersama juga menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan positif di lingkungan kantor. Kegiatan olahraga yang dilakukan secara bersama-sama dapat mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab pribadi sekaligus bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Dengan kondisi fisik yang terjaga, pegawai diharapkan dapat menjalankan aktivitas pekerjaan secara lebih optimal. Namun, manfaat kegiatan ini tidak terbatas pada kesehatan jasmani. Suasana yang penuh semangat dan kebersamaan juga dapat memberikan dorongan positif dalam membangun motivasi, meningkatkan kedisiplinan, serta menumbuhkan sikap saling menghargai di antara rekan kerja. Budaya hidup sehat yang dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan KPU diharapkan dapat menjadi bagian dari pola kerja yang seimbang. Dengan demikian, perhatian terhadap kesehatan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat. Memperkuat Solidaritas dan Sinergi Ant jajaran KPU Selain berfokus pada kebugaran, senam bersama ini memiliki nilai penting dalam mempererat solidaritas di lingkungan KPU se-Provinsi Papua Pegunungan. Sebagai lembaga yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pemilihan umum, KPU membutuhkan hubungan kerja yang baik, koordinasi yang terarah, serta semangat kolaborasi antarseluruh jajaran. Solidaritas tidak hanya dibangun melalui pelaksanaan pekerjaan formal, tetapi juga melalui interaksi yang memperkuat rasa kebersamaan. Ketika pegawai memiliki hubungan yang harmonis, komunikasi dan kerja sama dalam melaksanakan tugas diharapkan dapat terbangun dengan lebih baik. Melalui kegiatan senam bersama, semangat kebersamaan tersebut dapat terus dipelihara. Setiap peserta menjadi bagian dari aktivitas kolektif yang menekankan pentingnya kekompakan, kesetaraan, dan partisipasi. Nilai-nilai tersebut relevan dengan kebutuhan organisasi dalam membangun lingkungan kerja yang terbuka, saling mendukung, dan berorientasi pada pencapaian tujuan bersama. Sinergi ant jajaran KPU juga diperlukan untuk memastikan berbagai program dan kegiatan kelembagaan dapat berjalan secara terkoordinasi. Dengan komunikasi yang baik dan semangat saling membantu, pelaksanaan tugas diharapkan dapat berlangsung secara lebih efektif, sesuai dengan ketentuan dan tanggung jawab masing-masing. Dalam konteks tersebut, senam bersama menjadi salah satu bentuk kegiatan pendukung untuk membangun hubungan antarpersonel sekaligus memperkuat semangat kolektif dalam menjalankan amanah kelembagaan. Kantor Perwakilan KPU Tolikara sebagai Ruang Kebersamaan Halaman Kantor Perwakilan KPU Kabupaten Tolikara menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan senam bersama pada 9 Oktober 2026. Pemanfaatan halaman kantor untuk kegiatan olahraga mencerminkan bahwa lingkungan kerja dapat menjadi ruang untuk melaksanakan berbagai aktivitas positif yang mendukung kesehatan, kebersamaan, dan keharmonisan pegawai. Kegiatan semacam ini juga memberikan kesempatan untuk membangun suasana kantor yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan, tetapi turut memperhatikan aspek sosial dan kebugaran jasmani. Lingkungan kerja yang sehat dan harmonis merupakan salah satu unsur pendukung dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman serta mendorong semangat pegawai dalam melaksanakan tugas. Kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan olahraga diharapkan dapat terus dipelihara dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari. Sikap saling menghormati, menjaga komunikasi, dan mendukung satu sama lain merupakan nilai yang perlu diterapkan secara konsisten, baik ketika mengikuti kegiatan bersama maupun saat melaksanakan tugas kedinasan. Dengan demikian, kegiatan senam bersama tidak sekadar menjadi agenda olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter organisasi yang menjunjung tinggi kebersamaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Mendukung Profesionalisme dan Pelayanan Kelembagaan KPU memiliki tanggung jawab penting dalam mendukung penyelenggaraan demokrasi melalui pelaksanaan tugas kepemiluan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam menjalankan tanggung jawab tersebut, profesionalisme, integritas, kedisiplinan, dan kerja sama menjadi unsur penting yang perlu terus diperkuat. Kondisi pegawai yang sehat dan lingkungan kerja yang harmonis dapat menjadi faktor pendukung bagi pelaksanaan tugas secara optimal. Oleh sebab itu, kegiatan yang mendorong kebugaran jasmani dan mempererat hubungan antarpersonel memiliki tempat tersendiri dalam membangun budaya organisasi yang positif. Semangat yang tumbuh melalui kegiatan senam bersama diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, mulai dari menjaga ketepatan waktu, melaksanakan tanggung jawab sesuai bidang masing-masing, membangun komunikasi yang efektif, hingga memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Kebersamaan juga harus diwujudkan melalui kesediaan untuk saling membantu, menghargai perbedaan, serta bekerja secara kolaboratif demi kepentingan lembaga. Dengan semangat tersebut, setiap jajaran diharapkan dapat berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan tugas KPU secara profesional dan bertanggung jawab. Menumbuhkan Semangat Sehat, Kompak, dan Bersinergi Pelaksanaan senam bersama KPU se-Provinsi Papua Pegunungan di halaman Kantor Perwakilan KPU Kabupaten Tolikara pada Jumat, 9 Oktober 2026, menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya menjaga kesehatan sekaligus membangun solidaritas dalam lingkungan kerja. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kebiasaan hidup sehat, memperkuat hubungan antarsesama pegawai, serta menumbuhkan semangat positif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kelembagaan. Kebersamaan yang terjalin melalui kegiatan sederhana seperti olahraga bersama diharapkan dapat memberikan dampak baik bagi suasana kerja dan semangat kolaborasi. Ke depan, nilai-nilai positif yang dibangun melalui kegiatan ini diharapkan terus diterapkan dalam kehidupan organisasi, sehingga tercipta lingkungan kerja yang sehat, harmonis, disiplin, dan produktif. Dengan menjaga kebugaran tubuh serta memperkuat solidaritas, jajaran KPU dapat terus membangun sinergi dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi kelembagaan. Melalui semangat sehat bersama, kompak dalam bekerja, dan bersinergi untuk demokrasi, KPU se-Provinsi Papua Pegunungan diharapkan terus memperkuat kebersamaan dan profesionalisme dalam memberikan kontribusi bagi penyelenggaraan pemilihan umum yang berkualitas. ....
KPU Papua Pegunungan Perkuat Disiplin, Koordinasi, dan Keselamatan Pegawai melalui Apel Pagi
Wamena — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua Pegunungan melaksanakan apel pagi minggu pertama bulan Oktober 2026 di Halaman Kantor KPU Provinsi Papua Pegunungan, Senin (5/10/2026). Apel pagi dipimpin oleh Naftali E. Paweka, selaku Anggota KPU Provinsi Papua Pegunungan dari Divisi Perencanaan, Data dan Informasi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pegawai, baik Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Non-ASN di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Dalam arahannya, Naftali E. Paweka menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi antarsubbagian dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas di lingkungan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Ia menyampaikan bahwa koordinasi yang baik diperlukan agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan secara terarah, efektif, dan saling mendukung. Setiap pegawai juga diharapkan mampu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawab masing-masing serta menjaga kerja sama antarbagian. Selain koordinasi, Naftali turut mengingatkan seluruh pegawai untuk memprioritaskan keselamatan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Menurutnya, keselamatan perlu menjadi perhatian bersama sehingga seluruh pegawai dapat menjalankan tugas dengan tetap memperhatikan kondisi dan situasi di lingkungan kerja. “Koordinasi antarsubbagian harus terus ditingkatkan. Di samping itu, keselamatan para pegawai juga harus menjadi prioritas dalam melaksanakan setiap aktivitas,” ujar Naftali. Pelaksanaan apel pagi tersebut merupakan bagian dari rutinitas KPU Provinsi Papua Pegunungan dalam meningkatkan kedisiplinan dan kesiapan pegawai dalam menjalankan tugas. Apel juga menjadi sarana untuk menyampaikan arahan serta memperkuat komunikasi dan koordinasi di lingkungan kerja. Melalui pelaksanaan apel pagi secara rutin, KPU Provinsi Papua Pegunungan terus mendorong seluruh jajaran untuk meningkatkan kedisiplinan, kerja sama, komunikasi, dan tanggung jawab dalam mendukung pelaksanaan tugas serta pelayanan kelembagaan. ....
KPU Provinsi Papua Pegunungan memetakan Rekapitulasi Data Pemilih Berkelanjutan Triwulan ke III Berdasarkan Kelompok Generasi
WAMENA — Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua Pegunungan secara resmi menyelesaikan rekapitulasi data demografi pemilih yang dikelompokkan berdasarkan kategori generasi. Langkah ini dilakukan untuk memetakan profil pemilih beradasarkan tahun kelahiran atau generasi guna meningkatkan partisipasi masyarakat serta menyusun strategi sosialisasi pendidikan pemilih yang adaptif. Berdasarkan hasil rekapitulasi data pemilih terbaru di wilayah Provinsi Papua Pegunungan, struktur daftar pemilih didominasi oleh kelompok usia muda, yakni Generasi Z dan Milenial. Anggota KPU Divisi Data dan Inromasi Provinsi Papua Pegunungan, Naftali Paweka menyampaikan bahwa tingginya persentase pemilih muda menjadi perhatian mendasar bagi pihak penyelenggara. Strategi pendekatan komunikasi dan sosialisasi ke depan perlu disesuaikan serta pola konsumsi informasi anak muda daerah setempat. "Dominasi pemilih muda menunjukkan bahwa masa depan demokrasi di Papua Pegunungan berada di tangan Generasi Z dan Milenial. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan pemilih tidak lagi hanya formal, tetapi juga merambah platform digital dan kegiatan edukatif komunitas lokal," ujarnya Baca juga: KPU Kabupaten se-Papua Pegunungan Gelar Pelaksanaan Rapat Pleno PDPB Triwulan III Tahun 2026 ....
Membangun Sambil Berlari: Jejak Pengabdian Bernad Dermawan Sutrisno dalam Penguatan KPU Papua Pegunungan
Wamena, 5 Oktober 2026 — Ada masa ketika sebuah organisasi tidak mempunyai kesempatan untuk menunggu seluruh perangkatnya tersedia secara sempurna sebelum mulai bekerja. Kantor harus disiapkan, sumber daya manusia harus tersedia, struktur harus dibangun, tata kerja harus dibentuk, sementara pada saat yang sama tugas-tugas kelembagaan sudah harus dilaksanakan. Kondisi itulah yang mewarnai fase awal pembangunan KPU Provinsi Papua Pegunungan setelah terbentuknya Provinsi Papua Pegunungan sebagai salah satu Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua. Dalam perjalanan tersebut terdapat satu nama yang menjadi bagian dari fase penting pembangunan kelembagaan, yakni Drs. Bernad Dermawan Sutrisno, M.Si., yang ketika itu menjabat Sekretaris Jenderal KPU Republik Indonesia. Momentum ulang tahunnya yang ke-52 pada 5 Oktober 2026 menjadi ruang refleksi bagi KPU Provinsi Papua Pegunungan untuk melihat kembali salah satu bagian penting perjalanan kelembagaan: bagaimana sebuah KPU provinsi baru mulai dipersiapkan di Wamena ketika tahapan Pemilu 2024 telah berjalan. Kisah tersebut bukan hanya mengenai seorang Sekretaris Jenderal. Ia juga merupakan cerita tentang kantor persiapan, beberapa pegawai pertama, dukungan satuan kerja yang telah lebih dahulu ada, terbentuknya struktur kesekretariatan, hadirnya komisioner pertama, hingga akhirnya sebuah organisasi baru mampu menjalankan tugasnya sendiri. Inilah perjalanan “Membangun Sambil Berlari.” 20 Desember 2022: Jejak Awal dari Wamena Salah satu momentum penting dalam perjalanan awal KPU Provinsi Papua Pegunungan terjadi pada 20 Desember 2022. Pada hari itu, Sekretaris Jenderal KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno bersama jajaran Sekretariat Jenderal KPU RI melakukan kunjungan kerja pertama ke Wamena. Kedatangan rombongan disambut dengan tarian tradisional sebelum melaksanakan rangkaian agenda persiapan kelembagaan KPU di provinsi yang baru terbentuk. Kehadiran Sekretaris Jenderal KPU RI di Wamena mempunyai konteks yang sangat penting. Provinsi Papua Pegunungan baru memasuki fase awal sebagai DOB, sementara KPU harus memastikan bahwa proses pembangunan kelembagaan penyelenggara Pemilu dapat dilakukan tanpa menghambat tahapan Pemilu 2024 yang telah berjalan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar keputusan administratif mengenai keberadaan sebuah organisasi. KPU harus mulai menyiapkan tempat bekerja, sumber daya manusia, struktur, koordinasi, tata kerja dan dukungan terhadap tahapan Pemilu. “Yang dipersiapkan pada 20 Desember 2022 bukan hanya sebuah kantor. Yang mulai dibangun adalah fondasi sebuah institusi.” Wamena, 20 Desember 2022 — Kunjungan kerja pertama Sekretaris Jenderal KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno bersama jajaran KPU RI ke Wamena dalam rangka persiapan kelembagaan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Rombongan disambut dengan tarian tradisional sebelum melaksanakan rangkaian kegiatan. (Dokumentasi: KPU) Kantor Persiapan: Sebuah Institusi Mulai Mempunyai Tempat Salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah peresmian Kantor Persiapan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Pada fase awal, Kantor Persiapan masih memanfaatkan fasilitas di lingkungan KPU Kabupaten Jayawijaya di Wamena. Secara fisik fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas. Namun secara kelembagaan, kehadiran Kantor Persiapan mempunyai arti penting. Untuk pertama kalinya, persiapan kelembagaan KPU Provinsi Papua Pegunungan mempunyai titik kerja yang dapat digunakan sebagai pusat administrasi, komunikasi dan koordinasi. Papan nama bertuliskan “Kantor Persiapan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua Pegunungan” menjadi penanda bahwa pembangunan kelembagaan mulai bergerak dari sebuah kebutuhan organisasi menuju aktivitas yang nyata. Wamena, 20 Desember 2022 — Sekretaris Jenderal KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno meresmikan Kantor Persiapan KPU Provinsi Papua Pegunungan di Wamena. Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak awal pembangunan kelembagaan KPU di Provinsi Papua Pegunungan. (Dokumentasi: KPU) Setelah Kantor Disiapkan, Orang Harus Mulai Bekerja Kantor saja tentu tidak cukup. Sebuah organisasi membutuhkan orang-orang yang menjalankan pekerjaan administrasi, surat-menyurat, komunikasi, dokumentasi dan koordinasi. Karena itu, pada 20 Desember 2022, dilakukan pula rekrutmen tiga orang pegawai pertama untuk membantu menjalankan fungsi administrasi Kantor Persiapan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Pada fase awal tersebut, aktivitas mereka dilakukan dengan memanfaatkan salah satu ruangan di Kantor KPU Kabupaten Jayawijaya. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari pembangunan organisasi karena menunjukkan bahwa Kantor Persiapan tidak dimaksudkan hanya sebagai simbol kehadiran kelembagaan. Kantor tersebut harus mulai hidup dan bekerja. “Setelah kantor dipersiapkan, tantangan berikutnya adalah menghadirkan orang-orang yang membuat kantor itu hidup dan bekerja.” Dari tiga pegawai awal tersebut, pembangunan SDM kesekretariatan kemudian berkembang secara bertahap seiring dengan pembentukan struktur dan bertambahnya kebutuhan organisasi. Wamena, 20 Desember 2022 — Bernad Dermawan Sutrisno bersama tiga pegawai pertama yang direkrut untuk mendukung administrasi Kantor Persiapan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Pada fase awal, aktivitas administrasi memanfaatkan salah satu ruangan di Kantor KPU Kabupaten Jayawijaya. (Dokumentasi: KPU) Soliditas Sebelum Kemandirian Rangkaian kegiatan 20 Desember 2022 tidak berhenti pada peresmian kantor dan penyiapan SDM awal. Bernad bersama jajaran Sekretariat Jenderal KPU RI juga melakukan pertemuan dan konsolidasi dengan jajaran kesekretariatan KPU Kabupaten di wilayah Papua Pegunungan. Dalam arahan awal tersebut, salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya soliditas dan komitmen bersama untuk mendukung serta memberdayakan KPU Provinsi Papua Pegunungan yang baru sebagai tindak lanjut terbentuknya DOB. Pesan tersebut mempunyai konteks yang penting. KPU Provinsi yang baru belum mempunyai seluruh perangkat organisasi. Sementara jajaran KPU Kabupaten telah mempunyai pengalaman, personel dan tata kerja kelembagaan yang dapat menjadi kekuatan dalam mendukung proses transisi. Karena itu, sebelum berbicara mengenai kemandirian organisasi, modal pertama yang harus dibangun adalah kebersamaan dan soliditas. “Sebelum berbicara tentang kemandirian organisasi, yang terlebih dahulu dibangun adalah soliditas.” Wamena, 20 Desember 2022 — Sekretaris Jenderal KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno bersama jajaran Sekretariat Jenderal KPU RI melakukan pertemuan dengan jajaran kesekretariatan KPU Kabupaten se-Papua Pegunungan sebagai bagian dari konsolidasi awal pembangunan kelembagaan KPU Provinsi Papua Pegunungan. (Dokumentasi: KPU RI) Wamena, 20 Desember 2022 — Bernad Dermawan Sutrisno memberikan arahan kepada jajaran KPU se-Papua Pegunungan. Pada fase awal pembangunan kelembagaan tersebut, soliditas dan komitmen bersama untuk mendukung serta memberdayakan KPU Provinsi yang baru menjadi bagian penting dalam proses transisi kelembagaan. (Dokumentasi: KPU) Dari Dukungan Transisi Menuju Kemandirian Pada fase awal, KPU Provinsi Papua Pegunungan belum dapat menjalankan seluruh fungsi kesekretariatannya secara mandiri. Sejumlah kebutuhan pelaksanaan tahapan memperoleh dukungan dari Sekretariat KPU Kabupaten Jayawijaya, sementara koordinasi kesekretariatan pada masa transisi masih memperoleh dukungan dari Sekretariat KPU Provinsi Papua sebagai instansi induk. Mekanisme tersebut menjadi jembatan yang memungkinkan tahapan Pemilu tetap mendapatkan dukungan, sementara organisasi provinsi yang baru secara bertahap membangun kemampuan internalnya. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan organisasi baru bukanlah sebuah peristiwa yang selesai dalam satu hari. Ia merupakan proses: persiapan → dukungan transisi → pembangunan SDM → pengisian struktur → penguatan koordinasi → kemandirian kelembagaan. 24 Mei 2023: Hadirnya Komisioner Pertama Perjalanan kelembagaan memasuki babak penting berikutnya pada 24 Mei 2023, ketika Anggota KPU Provinsi Papua Pegunungan periode pertama dilantik di Jakarta. Jika Desember 2022 menjadi fase pembangunan dukungan awal kesekretariatan, maka Mei 2023 menandai semakin lengkapnya kelembagaan dengan hadirnya unsur Anggota KPU Provinsi. Hadirnya komisioner pertama membawa tantangan berikutnya: bagaimana unsur komisioner dan sekretariat segera membangun pola kerja sebagai satu kesatuan kelembagaan di tengah tahapan Pemilu 2024 yang terus berjalan. Jakarta, 24 Mei 2023 — Pelantikan dan pengambilan sumpah Anggota KPU Provinsi Papua Pegunungan periode 2023–2028. Pelantikan komisioner pertama menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kelembagaan KPU Provinsi Papua Pegunungan setelah melalui fase persiapan kesekretariatan di Wamena. (Dokumentasi: KPU RI) Akhir Mei 2023: Komando Kesekretariatan Mulai Berdiri Hampir bersamaan dengan hadirnya komisioner pertama, penguatan organisasi dilakukan pada unsur kesekretariatan. Pada akhir Mei 2023, pejabat Kepala Bagian mulai mengisi struktur Sekretariat KPU Provinsi Papua Pegunungan. Agus Filma dilantik sebagai Kepala Bagian Keuangan, Umum dan Logistik, dan pada fase awal tersebut sekaligus mendapat penugasan sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris KPU Provinsi Papua Pegunungan. Dua Kepala Bagian lainnya turut mengisi struktur kesekretariatan. Momentum tersebut mempunyai arti penting karena KPU Provinsi Papua Pegunungan mulai mempunyai struktur yang memungkinkan koordinasi dan komando kesekretariatan secara bertahap dijalankan sendiri. “Jika 20 Desember 2022 menjadi fase menyalakan mesin organisasi, maka akhir Mei 2023 menjadi fase ketika KPU Provinsi Papua Pegunungan mulai memiliki kemudi kesekretariatannya sendiri.” Biak Numfor, Mei 2023 — Agus Filma mengikuti pelantikan secara daring sebagai Kepala Bagian Keuangan, Umum dan Logistik Sekretariat KPU Provinsi Papua Pegunungan. Pada fase awal pembangunan struktur tersebut, Agus Filma sekaligus mendapat penugasan sebagai Plt. Sekretaris KPU Provinsi Papua Pegunungan. (Dokumentasi: KPU) “Kami Benar-Benar Mengalami Fase Membangun Sambil Bekerja” Sekretaris KPU Provinsi Papua Pegunungan, Agus Filma, mengenang akhir Mei 2023 sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan pembangunan kesekretariatan. “Bagi kami, penunjukan Plt. Sekretaris dan dua Kepala Bagian pada akhir Mei 2023 mempunyai arti yang sangat penting. Sejak titik itu, komando kesekretariatan secara bertahap mulai dapat dilaksanakan dari KPU Provinsi Papua Pegunungan sendiri. Ini bukan sekadar pengisian jabatan, tetapi momentum ketika sebuah struktur yang sebelumnya sedang dipersiapkan mulai mempunyai kemampuan untuk mengatur, mengoordinasikan dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya sendiri.” Perubahan tersebut semakin penting karena berlangsung ketika tahapan Pemilu 2024 telah berjalan. Struktur baru tidak mempunyai waktu panjang untuk melakukan konsolidasi. Pejabat dan pegawai yang ditempatkan harus segera memahami tugas, membangun tata kerja, mengelola administrasi dan anggaran, memberikan dukungan terhadap kebutuhan tahapan serta mulai membangun koordinasi dengan delapan KPU Kabupaten. “Kami benar-benar mengalami fase membangun sambil bekerja. Setelah komando kesekretariatan mulai dapat dilaksanakan sendiri, tantangannya bukan lagi sekadar membentuk struktur, tetapi bagaimana struktur itu langsung berfungsi. Pejabat yang ditempatkan harus segera mengambil tanggung jawab, pegawai harus beradaptasi dan seluruh jajaran harus memahami bahwa Pemilu 2024 sudah berada di depan mata.” Dari Ketergantungan Transisi Menuju Kemandirian Satker Menurut Agus, perjalanan tersebut memperlihatkan adanya tahapan pembangunan kelembagaan yang cukup jelas. Pada fase pertama, sejumlah pekerjaan tahapan memperoleh dukungan dari Sekretariat KPU Kabupaten Jayawijaya. Pada fase transisi, koordinasi kesekretariatan masih memperoleh dukungan dari Sekretariat KPU Provinsi Papua sebagai instansi induk. Setelah struktur mulai terisi, KPU Provinsi Papua Pegunungan secara bertahap mengambil alih fungsi koordinasi dan komando kesekretariatannya sendiri. “Kalau melihat perjalanan itu sekarang, prosesnya dapat kita gambarkan dari dukungan transisi menuju kemandirian kelembagaan. Dari pekerjaan yang pada awalnya masih banyak membutuhkan dukungan satker yang telah ada, kemudian mulai mempunyai pejabat sendiri, pegawai sendiri dan komando kesekretariatan sendiri, hingga akhirnya berkembang menjadi satuan kerja yang mampu mendukung penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan.” Berani Mengambil Keputusan dalam Keterbatasan Agus menilai dukungan Sekretariat Jenderal KPU RI pada fase tersebut mempunyai arti penting karena satuan kerja baru membutuhkan keputusan-keputusan yang cepat agar organisasi dapat segera berfungsi. “Di sinilah kami melihat arti penting kepemimpinan Bapak Bernad pada masa itu. Organisasi baru tidak dapat menunggu seluruh kondisinya menjadi sempurna. Harus ada keberanian mengambil keputusan, terutama dalam membangun struktur dan menempatkan SDM agar organisasi segera bekerja. Bagi Papua Pegunungan, keputusan-keputusan pada fase awal itu menjadi bagian dari fondasi yang kemudian memungkinkan kami menjalankan tugas secara semakin mandiri.” Dari perjalanan tersebut terdapat tiga karakter yang dapat menjadi pembelajaran organisasi: Berani mengambil keputusan dalam keterbatasan – selektif membangun SDM – konsisten menegakkan aturan. Ketegasan dalam konteks tersebut tidak semata-mata berarti ketegasan terhadap pegawai. Yang lebih penting adalah ketegasan terhadap standar organisasi: kompetensi, disiplin, integritas, kinerja dan pelayanan. Dalam penyelenggaraan Pemilu, disiplin organisasi mempunyai arti strategis. Kelemahan administrasi, lemahnya koordinasi atau rendahnya tanggung jawab SDM dapat memengaruhi pelaksanaan tahapan. Karena itu, pembangunan SDM tidak cukup hanya dengan mengisi struktur. SDM yang ditempatkan harus mampu bekerja, memahami tanggung jawab, menjaga integritas dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Pemilu secara profesional. Empat DOB, Tantangan Kelembagaan yang Sama Tantangan pembangunan kelembagaan pada masa tersebut tidak hanya terjadi di Papua Pegunungan. Empat DOB di Tanah Papua—Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua Barat Daya—membutuhkan dukungan kesekretariatan KPU provinsi yang mampu segera bekerja. Salah satu kebutuhan yang mendesak adalah sumber daya manusia. Dalam proses tersebut, Bernad melakukan koordinasi bersama para Plt. Sekretaris KPU Provinsi pada empat DOB untuk membahas penguatan SDM, termasuk kebutuhan PNS dan tenaga pendukung agar sekretariat provinsi baru dapat menjalankan fungsi organisasi dan mendukung tahapan Pemilu 2024. Konteks tersebut menunjukkan bahwa pembangunan KPU Provinsi Papua Pegunungan merupakan bagian dari pekerjaan kelembagaan yang lebih luas dalam merespons terbentuknya empat provinsi baru di Tanah Papua. Sekretaris Jenderal KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno bersama para Plt. Sekretaris KPU Provinsi pada empat DOB di Tanah Papua dalam rangka koordinasi penguatan sumber daya manusia dan kesiapan sekretariat KPU provinsi baru. (Dokumentasi: KPU) Apresiasi Ketua KPU Provinsi Papua Pegunungan Ketua KPU Provinsi Papua Pegunungan, Daniel Jingga, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Bernad terhadap pembangunan kelembagaan KPU Papua Pegunungan sejak fase awal. “Kami mengapresiasi Bapak Bernad Dermawan Sutrisno yang sejak awal telah memberikan perhatian terhadap pembentukan dan kesiapan Sekretariat KPU Provinsi Papua Pegunungan sebagai tindak lanjut terbentuknya Provinsi Papua Pegunungan. Bahkan sebelum kelembagaan KPU Provinsi Papua Pegunungan terbentuk secara lengkap, beliau telah hadir langsung di Wamena pada 20 Desember 2022 untuk melihat kondisi di lapangan dan mendukung persiapan Kantor Persiapan KPU Provinsi Papua Pegunungan.” Menurut Daniel, perhatian pada fase awal tersebut mempunyai arti penting karena organisasi harus dibangun dalam waktu yang relatif singkat sementara tahapan Pemilu 2024 telah berjalan. “Pada saat itu kami adalah provinsi baru. Kelembagaan harus dibangun dari awal, kantor harus dipersiapkan dan sumber daya manusia harus segera tersedia. Dukungan pada fase seperti inilah yang kemudian menjadi bagian dari fondasi sehingga KPU Papua Pegunungan dapat tumbuh menjadi satuan kerja yang mampu menjalankan tugasnya.” Daniel menilai pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya keberanian mengambil keputusan ketika organisasi menghadapi keterbatasan. “Yang kami lihat adalah keberanian untuk tidak menunggu semuanya menjadi sempurna. Organisasi harus segera dibangun karena Pemilu tidak dapat menunggu. SDM harus tersedia, sekretariat harus bekerja dan tahapan harus tetap berjalan. Dalam perjalanan berikutnya, fondasi yang dibangun itu ikut mengantarkan KPU Papua Pegunungan mampu melaksanakan Pemilu 2024 dan kemudian menyelenggarakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan untuk pertama kalinya.” Dari Kantor Persiapan Menuju Pemilu Pertama Apa yang dimulai dari Kantor Persiapan pada 20 Desember 2022 kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi yang semakin lengkap. Komisioner telah hadir. Struktur sekretariat mulai terbentuk. Pegawai bertambah. Tata kerja mulai dibangun. Koordinasi dengan delapan KPU Kabupaten semakin diperkuat. Tantangan sesungguhnya kemudian hadir pada Pemilu 2024. Sebagai provinsi baru, Papua Pegunungan untuk pertama kalinya menjalani Pemilu nasional dalam konfigurasi kelembagaan provinsi sendiri. Di wilayah dengan tantangan geografis, aksesibilitas dan komunikasi yang tidak sederhana, Pemilu menjadi ujian nyata terhadap kapasitas organisasi yang relatif baru dibangun. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa fondasi kelembagaan yang dibangun sejak fase persiapan bukanlah tujuan akhir. Fondasi tersebut harus mampu menghasilkan organisasi yang bekerja ketika diuji oleh tahapan nyata. Dari Pemilu Menuju Pemilihan Gubernur Pertama Setelah Pemilu 2024, perjalanan kelembagaan belum berhenti. KPU Provinsi Papua Pegunungan kemudian memasuki fase penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah, termasuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan untuk pertama kalinya sebagai provinsi baru. Organisasi yang pada Desember 2022 masih memulai aktivitas melalui Kantor Persiapan kini harus menjalankan fungsi koordinasi penyelenggaraan Pemilihan bersama delapan KPU Kabupaten. “Dari organisasi yang membutuhkan dukungan transisi menjadi organisasi yang mempunyai tanggung jawab mengoordinasikan dukungan penyelenggaraan demokrasi pada tingkat provinsi.” Legacy yang Harus Dijaga Bagi Agus Filma, pengalaman tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai catatan sejarah. Kemandirian satuan kerja selalu membawa tanggung jawab yang semakin besar. Jika pada fase awal tantangannya adalah bagaimana menghadirkan kantor, SDM dan struktur organisasi, maka setelah organisasi berdiri tantangannya berubah menjadi bagaimana memastikan organisasi semakin berkinerja. “Kalau dahulu tantangan kami adalah bagaimana membuat organisasi ini berdiri dan mampu bekerja, maka hari ini tantangan kami adalah bagaimana membuatnya semakin berkinerja. Legacy terbaik dari dukungan yang diberikan pada masa awal adalah memastikan KPU Provinsi Papua Pegunungan bersama delapan KPU Kabupaten terus memperkuat tata kelola, meningkatkan kompetensi SDM, menjaga disiplin, membangun akuntabilitas dan memberikan pelayanan kepemiluan yang semakin baik kepada masyarakat.” Pesan tersebut penting karena keberhasilan pembangunan organisasi tidak cukup diukur dari keberadaan kantor, jumlah pegawai ataupun lengkapnya struktur. Organisasi harus terus tumbuh menjadi institusi yang profesional, akuntabel, adaptif, berintegritas dan mampu memberikan pelayanan kepemiluan yang semakin baik. Legacy Terbaik adalah Institusi yang Mampu Berdiri Jejak pengabdian seorang pemimpin birokrasi tidak selalu dapat dilihat dari satu keputusan atau satu program. Sebagian jejak justru baru terlihat setelah masa kepemimpinannya berlalu: apakah sistem yang dibangun tetap bekerja, apakah SDM yang disiapkan berkembang, dan apakah institusi yang pernah dibantu berdiri mampu melanjutkan perjalanannya sendiri. Dalam konteks Papua Pegunungan, perjalanan dari sebuah Kantor Persiapan, tiga pegawai awal, dukungan KPU Kabupaten Jayawijaya dan koordinasi dengan instansi induk, kemudian berkembang menjadi sebuah KPU Provinsi yang bekerja bersama delapan KPU Kabupaten, merupakan bagian dari sejarah kelembagaan yang penting untuk didokumentasikan. Karena itu, legacy terbaik dari fase awal tersebut bukanlah sekadar mengenang siapa yang pernah berada di dalamnya. Legacy terbaik adalah memastikan institusi yang telah dibangun semakin kuat. “Warisan kepemimpinan bukan hanya keputusan yang pernah dibuat, tetapi institusi yang setelahnya mampu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya sendiri.” Refleksi 52 Tahun: Terima Kasih atas Sebuah Fase Pengabdian Dalam momentum ulang tahun ke-52 Bernad Dermawan Sutrisno pada 5 Oktober 2026, Agus menyampaikan apresiasi terhadap bagian pengabdian yang telah diberikan dalam fase pembangunan kelembagaan tersebut. “Kami mengingat fase itu bukan semata-mata sebagai sejarah pembentukan sebuah satker. Kami mengingatnya sebagai masa ketika banyak keputusan harus diambil dalam keterbatasan agar organisasi dapat bekerja dan tahapan Pemilu tetap berjalan. Atas nama jajaran Sekretariat KPU Provinsi Papua Pegunungan, kami menyampaikan terima kasih atas bagian pengabdian Bapak Bernad dalam perjalanan tersebut.” Ketua KPU Provinsi Papua Pegunungan Daniel Jingga juga menyampaikan penghargaan atas perhatian yang diberikan pada fase awal pembangunan kelembagaan. “Atas nama KPU Provinsi Papua Pegunungan, kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bagian pengabdian Bapak Bernad dalam fase awal pembangunan kelembagaan kami. Apa yang dahulu dimulai dari Kantor Persiapan, pegawai yang masih terbatas dan organisasi yang sedang dibangun, hari ini telah berkembang menjadi KPU Provinsi yang bersama delapan KPU Kabupaten terus bekerja melayani demokrasi di Papua Pegunungan.” Selamat Ulang Tahun ke-52, Bernad Dermawan Sutrisno Perjalanan pengabdian terus bergerak. Begitu pula perjalanan KPU Provinsi Papua Pegunungan. Apa yang mulai dibangun di Wamena pada 20 Desember 2022 kini menjadi bagian dari sejarah institusi yang perlu dirawat, didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi penyelenggara Pemilu berikutnya. Momentum ulang tahun bukan hanya ruang untuk memberikan ucapan. Ia juga dapat menjadi kesempatan untuk mengingat bahwa pembangunan institusi selalu membutuhkan keputusan, keberanian, kolaborasi, soliditas dan pengabdian banyak orang. Selamat Ulang Tahun ke-52, Drs. Bernad Dermawan Sutrisno, M.Si. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan dan keberhasilan dalam melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara. Terima kasih atas bagian pengabdian dalam perjalanan awal pembangunan KPU Provinsi Papua Pegunungan. “Jejak pengabdian tidak selalu tertulis pada sebuah gedung atau prasasti. Terkadang ia hidup dalam sebuah institusi yang dahulu ikut dibantu untuk berdiri, kemudian tumbuh dan melanjutkan pengabdiannya sendiri.” Baca juga: Mengupas Perjalanan Karier Sekjen KPU RI, Bernad Dermawan Sutrisno: Dedikasi Luar Biasa untuk Demokrasi Indonesia ....
KPU Provinsi Papua Pegunungan Ikuti Sosialisasi Revisi Halaman 3 DIPA dari Kanwil DJPb Provinsi Papua
Wamena — Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua Pegunungan menghadiri kegiatan Sosialisasi Petunjuk Teknis Revisi Halaman III Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran berjalan yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Directorate Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Papua pada Jumat 2 oktober 2026 melalui kanal daring. Kegiatan yang diikuti oleh jajaran operator penganggaran dan pengelola keuangan KPU Provinsi Papua Pegunungan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, akuntabilitas, serta ketepatan waktu penyerapan anggaran operasional maupun tahapan pemilu. Baca juga: Optimalkan Penyerapan Anggaran, KPPN Wamena Gelar Sosialisasi RPD Triwulan II Bersama KPU se-Papua Pegunungan Sekretaris KPU Provinsi Papua Pegunungan menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam sosialisasi ini sangat krusial mengingat Halaman III DIPA merupakan instrumen rencana penarikan dana (RPD) dan pencapaian output bulanan yang menjadi salah satu indikator utama Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA). "Melalui sosialisasi ini, kami mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tata cara dan ketentuan penyesuaian Halaman III DIPA. Hal ini penting agar perencanaan kas dan realisasi anggaran di lingkungan KPU Papua Pegunungan dapat berjalan linier, transparan, dan sesuai dengan regulasi perbendaharaan terbaru," ujarnya di sela-sela kegiatan. Sementara itu, perwakilan dari Kanwil DJPb Provinsi Papua menekankan pentingnya akurasi dalam menyusun rencana penarikan dana bulanan. Penyesuaian atau revisi Halaman III DIPA secara berkala dan terencana akan membantu satuan kerja (satker) meminimalkan deviasi antara rencana dan realisasi anggaran, sekaligus menjaga nilai IKPA tetap optimal. Dalam sesi materi, para peserta dibekali panduan teknis mengenai prosedur pengajuan revisi anggaran melalui aplikasi sistem perbendaharaan, syarat administratif, hingga penentuan tenggat waktu batas penyampaian revisi di setiap triwulan. Dengan mengikuti kegiatan ini, KPU Provinsi Papua Pegunungan berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola keuangan negara yang akuntabel guna mendukung kelancaran seluruh tugas dan fungsi kelembagaan di wilayah Papua Pegunungan. Baca juga: KPU Papua Pegunungan Hadiri Sosialisasi KPPN Wamena, Bahas Langkah-Langkah Akhir Tahun Anggaran 2025 ....
Publikasi
Opini
Kenyam - Pemilu merupakan fondasi utama demokrasi. Di berbagai negara, penyelenggaraan pemilu terus mengalami pembaruan dan penguatan agar mampu menjawab tantangan zaman, meningkatkan kepercayaan publik, serta menjamin hasil pemilu yang sah dan diterima masyarakat. Meskipun setiap negara memiliki konteks politik dan sosial yang berbeda, terdapat sejumlah praktik baik (best practices) yang dapat menjadi pembelajaran bersama, termasuk bagi Indonesia. Sebagai bagian dari komunitas demokrasi global, Indonesia melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus berupaya menyelenggarakan pemilu yang profesional, transparan, dan berintegritas, sejalan dengan standar internasional. Baca juga: Membangun Demokrasi yang Dipercaya: Jalan Panjang Meningkatkan Indeks dan Integritas Publik Sistem Penyelenggaraan Pemilu yang Efisien Banyak negara mengembangkan sistem penyelenggaraan pemilu yang menekankan efisiensi tanpa mengorbankan prinsip demokrasi. Efisiensi diwujudkan melalui perencanaan tahapan yang jelas, pembagian tugas yang tegas antar lembaga, serta penggunaan teknologi yang terukur dan aman. Di beberapa negara, digitalisasi daftar pemilih, sistem rekapitulasi yang terstandar, dan manajemen logistik yang modern terbukti mampu mengurangi kesalahan administratif dan mempercepat proses pemilu. Efisiensi harus selalu diimbangi dengan keamanan sistem dan perlindungan hak pemilih, terutama di negara dengan wilayah luas dan kondisi geografis yang beragam. Transparansi sebagai Pilar Kepercayaan Publik Transparansi menjadi salah satu prinsip utama penyelenggaraan pemilu di berbagai belahan dunia. Penyelenggara pemilu dituntut membuka informasi seluas-luasnya kepada publik, mulai dari regulasi, tahapan pemilu, daftar pemilih, hingga hasil penghitungan suara. Praktik internasional menunjukkan bahwa keterbukaan data pemilu, mekanisme pengawasan yang inklusif, serta akses masyarakat dan pemantau pemilu terhadap proses pemilu dapat meningkatkan kepercayaan publik. Ketika masyarakat memahami bagaimana pemilu dikelola, potensi kecurigaan dan konflik pascapemilu dapat diminimalkan. Profesionalisme Penyelenggara Pemilu Menekankan pentingnya profesionalisme penyelenggara pemilu sebagai kunci keberhasilan pemilu demokratis. Di banyak negara, anggota lembaga penyelenggara pemilu dipilih melalui proses seleksi yang ketat, dilengkapi pelatihan berkelanjutan, serta terikat pada kode etik yang jelas. Profesionalisme ini tercermin dalam sikap independen, imparsial, dan konsisten dalam menerapkan aturan. Penyelenggara pemilu tidak hanya berperan sebagai administrator teknis, tetapi juga sebagai penjaga integritas demokrasi yang harus mampu bekerja di bawah tekanan politik dan dinamika sosial. Baca juga: Multi Partai Gambaran Pluralitas Masyarakat di Indonesia Pembelajaran bagi Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia Belajar dari praktik penyelenggaraan pemilu di negara lain tidak berarti meniru secara mentah, melainkan mengadaptasi nilai-nilai universal demokrasi sesuai dengan karakteristik Indonesia. Dengan wilayah kepulauan, jumlah pemilih yang besar, serta keragaman sosial dan budaya—termasuk di Papua Pegunungan—penyelenggaraan pemilu di Indonesia membutuhkan pendekatan yang kontekstual dan inklusif. Melalui penguatan sistem, peningkatan transparansi, dan profesionalisme penyelenggara, KPU Indonesia terus memperkuat perannya sebagai lembaga penyelenggara pemilu yang kredibel dan dipercaya publik. Praktik baik penyelenggaraan pemilu dari berbagai negara menunjukkan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui sistem yang efisien, transparan, dan dijalankan oleh penyelenggara yang profesional. Dengan terus belajar dari pengalaman global, penyelenggaraan pemilu di Indonesia diharapkan semakin mampu menjamin hak pilih warga negara dan menjaga kualitas demokrasi secara berkelanjutan. (GSP) *** Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan representasi pandangan resmi dari KPU Provinsi Papua Pegunungan Penulis: Tommy Gandes Setiawan
Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi adalah dua pilar utama dalam kehidupan bernegara yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang: saling melengkapi, saling memperkuat, dan menjadi prasyarat tegaknya negara hukum. Demokrasi menciptakan lingkungan yang menjamin penghormatan terhadap HAM, sementara penegakan HAM memperkuat kualitas demokrasi itu sendiri. Tanpa perlindungan HAM, demokrasi kehilangan maknanya; sebaliknya, tanpa demokrasi, hak asasi manusia akan sulit ditegakkan secara nyata. Hubungan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir — seperti hak hidup, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, serta hak untuk memperoleh keadilan. Sementara itu, demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang menjamin rakyat memiliki kekuasaan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, baik secara langsung maupun melalui wakil yang dipilih secara bebas. Hubungan keduanya bersifat saling bergantung dan timbal balik: Demokrasi menciptakan lingkungan HAM. Dalam sistem demokratis, kebebasan sipil dan politik dijamin oleh konstitusi. Warga negara memiliki hak untuk berbicara, berkumpul, berserikat, dan memilih tanpa paksaan. Demokrasi yang sehat memastikan bahwa kekuasaan dijalankan dalam batas-batas hukum dan moral, sehingga mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh penguasa. HAM sebagai fondasi demokrasi. Tanpa jaminan HAM, partisipasi politik tidak mungkin berjalan. Hak untuk memilih, berpendapat, dan berorganisasi merupakan bagian dari HAM yang menjadi inti demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu, perlindungan terhadap HAM adalah syarat agar demokrasi berfungsi dengan adil dan inklusif. Seperti yang dijelaskan oleh Ellya Rosana (2016), prinsip demokrasi dan HAM tidak dapat dipisahkan dari konsep negara hukum (rule of law). Dalam negara hukum yang demokratis, yang berdaulat bukanlah manusia, melainkan hukum. Hukum bertugas membatasi kekuasaan, melindungi hak warga negara, dan memastikan keadilan dijalankan tanpa pandang bulu. Baca juga: Ternyata, Demokrasi Indonesia Mirip Mobile Legends! Ini Nilai-Nilai yang Bisa Kita Pelajari Negara Hukum dan Implementasi HAM dalam Demokrasi Menurut pemikiran Julius Stahl dan A.V. Dicey, suatu negara dapat disebut demokratis apabila memiliki jaminan hukum terhadap HAM. Artinya, pelaksanaan demokrasi harus diwujudkan dalam sistem pemerintahan berdasarkan hukum dan konstitusi. Dalam konteks Indonesia, hal ini tertuang secara eksplisit dalam Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang menegaskan bahwa: “Negara Indonesia adalah negara hukum,” serta mengakui dan menjamin hak asasi manusia dan hak-hak warga negara. Konstitusi Indonesia juga menegaskan prinsip kedaulatan rakyat, di mana rakyat menjadi sumber legitimasi tertinggi dalam pemerintahan. Dengan demikian, penghormatan terhadap HAM dan pelaksanaan demokrasi bukan sekadar ideal moral, melainkan amanat konstitusional. Negara berkewajiban untuk: Menyusun peraturan perundang-undangan yang menjamin hak-hak asasi setiap warga negara. Tidak menghalangi partisipasi masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Menegakkan keadilan tanpa diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Hukum, dalam kerangka demokrasi, bukanlah alat kekuasaan, tetapi instrumen keadilan untuk semua warga negara. Penegakan HAM dalam Proses Demokratisasi Indonesia Sejak reformasi 1998, Indonesia memasuki babak baru dalam penegakan HAM dan demokrasi. Setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah rezim otoriter, bangsa ini mulai membuka ruang kebebasan berpendapat, partisipasi politik, dan transparansi pemerintahan. Namun, transisi menuju demokrasi substantif tidak berjalan tanpa tantangan. 1. Keadilan Transisional Untuk menyembuhkan luka masa lalu akibat pelanggaran HAM, dibutuhkan pendekatan keadilan transisional (transitional justice). Pendekatan ini memungkinkan korban pelanggaran HAM memperoleh keadilan dan pengakuan, tanpa mengorbankan stabilitas nasional. Meski demikian, banyak kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu yang hingga kini belum tuntas, seperti tragedi 1965, Tanjung Priok, dan Trisakti. 2. Peran Komnas HAM Pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melalui Keputusan Presiden No. 50 Tahun 1993 dan diperkuat dengan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, serta UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, merupakan tonggak penting dalam sejarah penegakan HAM di Indonesia. Namun, efektivitas lembaga ini seringkali terkendala oleh kurangnya independensi, tekanan politik, dan lemahnya kemauan politik (political will) dari pemerintah dan parlemen untuk menindaklanjuti hasil penyelidikan. 3. Peran Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah telah menunjukkan komitmen melalui kebijakan nasional dan kerja sama internasional, termasuk dukungan terhadap Dewan HAM PBB dan kecaman terhadap pelanggaran HAM global seperti konflik di Palestina dan Afghanistan. Namun, penegakan HAM tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga masyarakat sipil, media, dan organisasi non-pemerintah untuk memastikan bahwa kebebasan dan keadilan tetap terjaga. Baca juga: Memahami Demokrasi Deliberatif: Konsep, Tantangan, dan Penerapannya di Indonesia Tantangan dalam Menegakkan HAM dan Demokrasi Beberapa tantangan utama yang masih dihadapi Indonesia dalam memperkuat hubungan HAM dan demokrasi meliputi: Kemunduran demokrasi (democratic backsliding), ketika kekuasaan politik digunakan untuk melemahkan lembaga pengawasan dan membungkam kritik publik. Kesenjangan penegakan hukum, di mana pelaku pelanggaran HAM sering tidak tersentuh proses hukum. Korupsi dan oligarki politik, yang mengancam prinsip kesetaraan dan keadilan sosial. Ketimpangan informasi dan partisipasi, yang membuat sebagian warga negara masih sulit mengakses hak politiknya secara penuh. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan penguatan lembaga demokrasi, pendidikan HAM sejak dini, serta reformasi sistem hukum agar benar-benar berpihak pada keadilan dan kemanusiaan. HAM dan Demokrasi: Pilar Kemanusiaan dan Kedaulatan Rakyat HAM dan demokrasi pada hakikatnya sama-sama bertujuan untuk menjaga martabat manusia dan menegakkan keadilan sosial. Demokrasi memberikan ruang agar rakyat dapat menentukan masa depannya sendiri, sementara HAM memastikan bahwa kebebasan dan hak-hak tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak mana pun. Seperti dikatakan dalam prinsip universal HAM: “Tindakan tidak adil terhadap satu orang berarti ancaman bagi setiap orang.” Maka dari itu, demokrasi sejati adalah demokrasi yang berbasis pada penghormatan terhadap HAM — bukan sekadar prosedur elektoral, tetapi sistem yang melindungi, mengakui, dan memberdayakan manusia sebagai warga negara yang bermartabat. Penulis: Tommy Gandes Setiawan Daftar Referensi: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50 Tahun 1993 tentang Komnas HAM. Rosana, Ellya. (2016). Negara Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jurnal Hukum dan HAM. Stahl, Julius & Dicey, A.V. (dalam Rosana, 2016). Rule of Law and Democracy: A Theoretical Framework. Komnas HAM. (2023). Laporan Tahunan Penegakan HAM di Indonesia. United Nations Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR). (2022). Human Rights and Democracy: Interdependence and Mutual Reinforcement. Kementerian Hukum dan HAM RI. (2024). Rencana Aksi Nasional HAM (RANHAM) 2025–2029.
Wamena — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dikenal sebagai pemimpin yang gemar turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi masyarakat. Salah satu momen paling bersejarah dalam masa kepemimpinannya adalah ketika ia mengunjungi Kabupaten Nduga, Papua. Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan bukti nyata komitmen pemerintah pusat dalam membangun wilayah paling timur Indonesia. Dengan semangat membangun dari pinggiran, Jokowi menembus medan berat demi memastikan pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil seperti Nduga. Perjalanan yang Tidak Mudah Menuju Nduga Kabupaten Nduga merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua Pegunungan dengan medan geografis yang sangat sulit dijangkau. Jalur darat menuju Nduga dikenal ekstrem dan membutuhkan waktu tempuh panjang, melewati pegunungan tinggi dan lembah-lembah curam. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi bersama rombongan menggunakan pesawat perintis dan helikopter untuk mencapai lokasi. Kunjungan Presiden ke Nduga menunjukkan keberanian sekaligus kesungguhan seorang kepala negara untuk hadir di tengah masyarakat yang selama ini merasa terisolasi. Jokowi menjadi presiden pertama Republik Indonesia yang secara langsung menginjakkan kaki di Nduga, sebuah simbol kehadiran negara di wilayah yang selama ini dikenal rawan konflik dan jauh dari pusat pemerintahan. Baca juga: Bukti Nyata Kepemimpinan Jokowi Saat Menjadi Wali Kota Solo yang Menginspirasi Indonesia Mendengar Aspirasi dan Menyapa Masyarakat Secara Langsung Sesampainya di Nduga, Jokowi disambut hangat oleh masyarakat dan tokoh adat setempat. Ia berbincang langsung dengan warga, mendengar aspirasi mereka terkait kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur jalan. Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen kuat untuk membangun Papua secara menyeluruh, tanpa membeda-bedakan daerah berdasarkan letak geografis atau kondisi keamanan. “Saya datang ke Nduga karena ingin memastikan sendiri bahwa pembangunan harus sampai ke sini. Tidak boleh ada satu pun warga Indonesia yang tertinggal,” ujar Jokowi dalam sambutannya di hadapan masyarakat. Sikapnya yang merakyat dan kebiasaannya berdialog langsung membuat warga merasa diperhatikan. Banyak masyarakat mengaku baru kali ini seorang presiden datang menemui mereka secara langsung, bukan hanya melalui perwakilan atau pejabat daerah. Kehadiran Jokowi membawa harapan baru bagi warga Nduga agar pembangunan dan perhatian pemerintah semakin merata di seluruh pelosok Papua. Dorongan Pembangunan Infrastruktur di Tanah Papua Dalam kunjungannya ke Nduga, Jokowi meninjau beberapa proyek pembangunan yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah pusat di Papua. Salah satu fokus utama adalah peningkatan konektivitas wilayah melalui pembangunan jalan Trans Papua. Proyek ini bertujuan membuka akses antar kabupaten, sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, dan pendidikan. Selain infrastruktur jalan, Jokowi juga mendorong pembangunan bandara kecil dan fasilitas publik seperti puskesmas, sekolah, serta sarana air bersih. Ia menekankan bahwa pembangunan di Papua tidak hanya soal fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Presiden menginginkan agar masyarakat Papua bisa mandiri dan berdaya saing, dengan tetap mempertahankan kearifan lokal mereka. Data dan Bukti Resmi Kunjungan Jokowi ke Nduga yaitu pada tanggal 26 Desember 2019. Lokasi utama di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua. Agenda utama yaitu meninjau pembangunan infrastruktur Trans Papua dan memastikan keberlanjutan proyek Jalan Wamena–Mumugu. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), proyek Trans Papua yang dikunjungi Jokowi di Nduga termasuk, Panjang ruas jalan: ± 286 km (Wamena – Kenyam – Mumugu). Dan dibuka bertahap sejak 2015 dan terus dilanjutkan hingga pasca-2020. Tujuan utamanya mempercepat konektivitas antarwilayah di Papua Pegunungan, termasuk Nduga, yang sebelumnya hanya bisa diakses lewat udara. Program pembangunan tersebut sejalan dengan visi besar Jokowi untuk memperkecil kesenjangan antarwilayah di Indonesia. Melalui kunjungan ke Nduga, ia ingin menunjukkan bahwa negara hadir untuk semua, termasuk daerah yang selama ini berada di garis depan pembangunan nasional. Dukungan Keamanan dan Pendekatan Kemanusiaan Wilayah Nduga dikenal memiliki tantangan keamanan yang cukup kompleks. Namun, Jokowi tetap memutuskan datang langsung dengan pendekatan damai dan penuh rasa hormat kepada masyarakat lokal. Dalam pernyataannya, Presiden menegaskan bahwa pembangunan Papua harus dilakukan dengan mengedepankan dialog, bukan kekerasan. Ia mengajak seluruh pihak, termasuk tokoh masyarakat dan gereja, untuk bersama-sama menjaga perdamaian. Pemerintah pusat, kata Jokowi, akan terus berupaya mengutamakan pendekatan kesejahteraan, bukan semata pendekatan militer. Sikap ini mencerminkan gaya kepemimpinan Jokowi yang humanis dan terbuka terhadap solusi kemanusiaan dalam menangani permasalahan di Papua. Respons dan Harapan Masyarakat Nduga Kunjungan Presiden Jokowi meninggalkan kesan mendalam bagi warga Nduga. Banyak masyarakat mengungkapkan rasa haru dan bangga karena untuk pertama kalinya seorang kepala negara hadir di tanah mereka. Tokoh adat setempat mengapresiasi langkah Presiden yang tidak hanya datang memberi janji, tetapi juga melihat langsung kondisi di lapangan. Mereka berharap agar kunjungan ini menjadi titik awal bagi percepatan pembangunan di berbagai sektor. Masyarakat Nduga juga meminta agar perhatian terhadap pendidikan dan kesehatan terus ditingkatkan, karena dua hal tersebut masih menjadi tantangan utama di wilayah pegunungan Papua. Baca juga: Jokowi dan Jembatan Merah Jayapura: Bukti Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua Warisan Kepemimpinan Jokowi di Tanah Papua Kunjungan ke Nduga menjadi bagian dari rangkaian panjang perjalanan Jokowi dalam membangun Papua. Sejak awal masa jabatannya, Jokowi telah melakukan lebih dari belasan kunjungan ke berbagai wilayah di Papua, mulai dari Jayapura, Wamena, hingga Merauke. Konsistensinya meninjau langsung pembangunan menjadi ciri khas kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan berorientasi pada hasil nyata. Kehadirannya di Nduga bukan hanya simbol politik, melainkan manifestasi nyata dari semangat Indonesia Sentris. Jokowi ingin memastikan bahwa kemajuan Indonesia bukan hanya terjadi di kota-kota besar di Jawa, tetapi juga di wilayah yang jauh seperti Nduga. Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabupaten Nduga bukan sekadar perjalanan kerja biasa, melainkan bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap daerah-daerah tertinggal di Papua. Di tengah tantangan keamanan dan sulitnya akses transportasi, Jokowi hadir langsung untuk memastikan pembangunan infrastruktur tetap berjalan. Sikap ini menunjukkan karakter kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan berani mengambil risiko demi pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk di tanah Papua yang selama ini sering terpinggirkan. Penulis : Indra Hariadi
Wamena — Kabupaten Jayawijaya merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan yang memiliki dinamika sosial dan mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Kondisi masyarakat yang hidup berpindah-pindah, baik karena faktor ekonomi, sosial, maupun geografis, menjadikan data kependudukan di wilayah ini sering mengalami perubahan. Jumlah penduduk tidak selalu tetap, kadang bertambah dan kadang berkurang, tergantung pada aktivitas dan pola kehidupan masyarakatnya. Tantangan utama yang muncul dari situasi ini adalah dalam hal pemetaan wilayah dan penentuan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Proses pemilihan di Jayawijaya sering kali dihadapkan pada persoalan teknis yang tampak sederhana, namun berdampak besar yaitu ketidakjelasan pembagian wilayah pada level RT/RW. Dalam banyak kasus, data pada KTP penduduk masih tercatat sebagai RT/RW 000/000, yang artinya belum ada pembagian administratif yang jelas di lapangan. Akibatnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayawijaya mengalami kesulitan dalam menentukan koordinat pasti untuk pendirian TPS sebelum hari pemilihan tiba. Baca juga: Multi Partai Gambaran Pluralitas Masyarakat di Indonesia Situasi ini bukan sekadar masalah administratif, melainkan menyangkut hak dasar warga negara untuk memberikan suara. Ketika lokasi TPS tidak terpetakan dengan baik, risiko munculnya pemilih ganda, pemilih tidak terdaftar, atau pemilih yang kesulitan menemukan TPS menjadi sangat besar. Pada akhirnya, hal ini dapat menurunkan kualitas partisipasi masyarakat dan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. Untuk itu, diperlukannya kolaborasi antara KPU, pemerintah daerah, dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) guna memperkuat validitas data kependudukan di Jayawijaya. Pembaruan dan verifikasi data berbasis wilayah perlu dilakukan secara berkala dengan pendekatan lapangan, melibatkan aparat kampung, tokoh adat, dan masyarakat lokal yang memahami kondisi sosial setempat. Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat ini akan lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan data administratif yang sering kali tidak mencerminkan realitas lapangan. Selain itu, penggunaan teknologi pemetaan geografis dapat menjadi solusi modern dalam membantu KPU menentukan titik koordinat TPS secara akurat. Dengan peta digital yang terintegrasi dengan data kependudukan, perencanaan pemilihan di wilayah geografis kompleks seperti Jayawijaya akan menjadi lebih terukur dan efisien. Baca juga: Membangun Demokrasi yang Dipercaya: Jalan Panjang Meningkatkan Indeks dan Integritas Publik Pemerintah juga perlu mempertimbangkan program penataan wilayah administratif skala mikro, yakni memastikan setiap kampung memiliki pembagian RT/RW yang jelas dan terdaftar resmi. Ini bukan hanya penting untuk keperluan pemilihan umum, tetapi juga untuk pelayanan publik secara keseluruhan: mulai dari distribusi bantuan sosial, pendidikan, hingga kesehatan. Masalah data kependudukan di Jayawijaya sesungguhnya mencerminkan persoalan yang lebih besar: bagaimana negara hadir secara utuh hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Demokrasi bukan hanya tentang mencoblos di bilik suara, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap suara benar-benar dihitung dan diakui. Pada akhirnya, masalah pemetaan wilayah di Jayawijaya adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar, bagaimana negara memastikan setiap warga, di mana pun mereka berada, memiliki akses yang setara untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Pemilu yang adil dimulai dari data yang akurat, dan data yang akurat hanya bisa lahir dari perhatian yang tulus terhadap kondisi masyarakat di akar rumput. Kabupaten Jayawijaya, dengan segala keunikannya, bukan sekadar wilayah di peta tetapi rumah bagi warga negara yang memiliki hak yang sama untuk didengar dan dipilihkan dengan bijaksana. Baca juga: Pemilih Pemula: Suara Pertama Menentukan Masa Depan
Wamena – Nama Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, mulai dikenal luas publik bukan saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, melainkan sejak masa kepemimpinannya sebagai Wali Kota Surakarta (Solo) pada tahun 2005 hingga 2012. Dalam kurun waktu tujuh tahun itu, Jokowi berhasil menorehkan berbagai prestasi dan perubahan signifikan yang membuat wajah Kota Solo berubah menjadi lebih tertata, humanis, dan berdaya saing tinggi. Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang merakyat, inovatif, dan visioner. Kepemimpinannya di Solo menjadi fondasi kuat yang mengantarkan dirinya menuju panggung nasional. Banyak pihak menilai bahwa keberhasilan Jokowi di tingkat lokal menjadi bukti konkret dari model kepemimpinan berbasis pelayanan publik dan kedekatan dengan masyarakat. Membangun Kepercayaan Publik Lewat Transparansi Salah satu langkah awal Jokowi saat memimpin Solo adalah membangun transparansi dan keterbukaan informasi publik. Ia berani mempublikasikan seluruh proses perencanaan dan penggunaan anggaran pemerintah kota agar masyarakat dapat mengawasi langsung. Jokowi menerapkan sistem “open management”, di mana masyarakat, pelaku usaha, hingga media lokal dapat memantau berbagai program dan proyek pemerintah daerah. Pendekatan ini membuat tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah kota meningkat tajam. Selain itu, Jokowi juga kerap turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga, pedagang pasar, dan komunitas masyarakat. Gaya “blusukan” ini menjadi ciri khasnya hingga kini. Dengan cara tersebut, Jokowi mampu mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung dan memberikan solusi cepat di lapangan tanpa prosedur yang berbelit. Baca juga: Jokowi dan Jembatan Merah Jayapura: Bukti Nyata Pemerataan Pembangunan di Papua Revitalisasi Pasar Tradisional: Menata Tanpa Menggusur Salah satu bukti nyata dari keberhasilan kepemimpinan Jokowi di Solo adalah revitalisasi pasar tradisional. Sebagai kota dengan budaya dagang yang kuat, Solo memiliki banyak pasar rakyat yang dulunya kumuh dan tidak tertata. Alih-alih melakukan penggusuran paksa, Jokowi memilih cara dialog dan musyawarah dengan para pedagang. Ia memimpin langsung proses relokasi dan peremajaan pasar, memastikan bahwa para pedagang mendapatkan tempat yang layak tanpa kehilangan mata pencaharian. Beberapa pasar yang berhasil direvitalisasi antara lain Pasar Gede, Pasar Klithikan Notoharjo, dan Pasar Nusukan. Hasilnya, pasar-pasar tersebut kini lebih bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas modern tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. Kebijakan humanis ini menjadi contoh nasional dalam penataan ruang kota berbasis kepentingan rakyat kecil, dan kerap dijadikan studi banding oleh pemerintah daerah lain. Menjadikan Solo Kota Budaya dan Pariwisata Kepemimpinan Jokowi juga menempatkan Solo sebagai kota budaya dan destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah. Ia menggagas banyak kegiatan budaya seperti Solo Batik Carnival, Solo International Performing Arts (SIPA), dan Festival Jenang Solo. Acara-acara tersebut bukan hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menghidupkan kembali ekonomi kreatif masyarakat setempat. Selain itu, Jokowi juga mempercantik tata kota dengan menata trotoar, taman kota, dan jalur pedestrian agar lebih ramah pejalan kaki. Solo di bawah kepemimpinan Jokowi dikenal sebagai kota yang indah, rapi, dan nyaman untuk dikunjungi. Upaya pelestarian budaya ini memperkuat identitas Solo sebagai kota warisan budaya Jawa, sekaligus memperkuat ekonomi lokal lewat pariwisata berkelanjutan. Peningkatan Pelayanan Publik dan Transportasi Dalam bidang pelayanan publik, Jokowi memperkenalkan berbagai inovasi untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan pemerintahan. Ia mendorong digitalisasi administrasi dan memperpendek jalur birokrasi agar pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. Salah satu inovasi penting adalah peluncuran Bus Batik Solo Trans (BST) yang menjadi ikon transportasi massal pertama di kota tersebut. BST dihadirkan sebagai solusi untuk mengurai kemacetan sekaligus mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih ramah lingkungan. Program ini menjadi cikal bakal penerapan transportasi publik modern di kota-kota lain, menunjukkan bahwa kebijakan transportasi yang berpihak pada masyarakat bisa dimulai dari skala kecil. Kepemimpinan Humanis dan Dekat dengan Rakyat Hal yang paling menonjol dari sosok Jokowi selama menjadi Wali Kota Solo adalah sikapnya yang sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia tidak segan makan di warung pinggir jalan, berkeliling pasar tanpa pengawalan ketat, bahkan berdialog langsung dengan warga di gang-gang sempit. Kedekatan itu menciptakan hubungan emosional yang kuat antara pemimpin dan masyarakat. Jokowi dianggap tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga benar-benar hadir di tengah kehidupan warga. Pendekatan personal dan empatik ini terbukti efektif dalam menciptakan stabilitas sosial dan kepercayaan publik. Masyarakat Solo merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pembangunan kota mereka sendiri. Baca juga: Mengenang Kepemimpinan Jokowi: Transformasi Indonesia di Era Modern Warisan Kepemimpinan Jokowi untuk Solo dan Indonesia Berbagai capaian yang diraih selama dua periode kepemimpinannya di Solo menjadi modal politik dan moral bagi Jokowi saat maju menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia pada 2014. Warisan terbesarnya di Solo bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pola kepemimpinan yang transparan, partisipatif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Kini, banyak kebijakan nasional yang masih mencerminkan semangat Solo, seperti pembangunan infrastruktur berbasis kebutuhan rakyat, pendekatan dialogis terhadap masalah sosial, dan dorongan besar terhadap UMKM serta ekonomi kreatif. Kepemimpinan Jokowi di Solo adalah contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil dan dari tingkat lokal. Dengan gaya blusukan, kejujuran, dan ketulusan melayani rakyat, Jokowi berhasil membuktikan bahwa seorang pemimpin dapat membawa perubahan nyata jika mau turun langsung dan mendengar suara masyarakat. Warisan itu kini menjadi inspirasi bagi banyak kepala daerah di Indonesia untuk meniru semangat kepemimpinan Jokowi: sederhana, merakyat, dan fokus pada hasil nyata. Penulis : Indra Hariadi