Tokoh

Dari Krapyak untuk Umat. Peran KH M Munawwir dalam Sejarah Keilmuan NU

Wamena - Pesantren Krapyak Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat pengajaran Al Quran terpenting di Indonesia. Di balik reputasi besar itu berdiri KH  M Munawwir, ulama yang memilih jalur sunyi pendidikan dan transmisi ilmu. Ia tidak tampil sebagai tokoh politik atau organisatoris, tetapi fondasi keilmuannya mengalir kuat dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Membaca peran KH  M Munawwir   berarti menelusuri akar keilmuan NU yang dibangun melalui disiplin sanad, adab belajar, dan kesetiaan pada tradisi pesantren.

Akar Keilmuan dan Latar Belakang KH  M Munawwir  

KH Muhammad Munawwir lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan KH Abdullah Rosyad dan Khodijah. Ia tumbuh di lingkungan religius yang hidup berdampingan dengan keraton dan tradisi keilmuan Islam Jawa. Sejak kecil, arah hidupnya sudah diarahkan pada penguasaan Al Quran sebagai fondasi utama ilmu agama.

Dalam kehidupan keluarga, KH Munawwir membangun jejaring sosial yang luas. Ia menikah dengan Ny. R.A. Mursyidah dari lingkungan Kraton, Ny. Hj. Suistiyah dari Wates, Ny. Salimah dari Wonokromo, dan Ny. Rumiyah dari Jombang. Setelah wafatnya istri pertama, ia menikah dengan Ny. Khodijah dari Kanggotan, Gondowulung. Jaringan keluarga ini menghubungkan pesantren, masyarakat santri, dan struktur sosial Jawa. Posisi ini memperkuat perannya sebagai ulama yang dekat dengan umat tanpa kehilangan otoritas keilmuan.

Rihlah Ilmu dari Jawa ke Tanah Suci

Sejak usia muda, KH Munawwir menempuh rihlah keilmuan ke berbagai pusat pesantren di Jawa. Ia belajar Al Quran di Bangkalan kepada KH Maksum. Ia juga memperdalam ilmu agama kepada KH Abdullah Kanggotan Bantul, KH Kholil Bangkalan Madura, KH Sholih Darat Semarang, dan KH Abdur Rahman Watucongol Muntilan. Proses ini membentuk fondasi keilmuan yang disiplin dan berlapis.

Pada tahun 1888, KH Munawwir berangkat ke Mekkah dan menetap selama enam belas tahun. Ia kemudian melanjutkan pendalaman ilmu ke Madinah. Total dua puluh satu tahun ia bermukim di dua kota suci. Di sana, ia mempelajari Al Quran, tafsir, dan qiraat sab‘ah dari banyak guru, di antaranya Syekh Abdullah Sanqara, Syekh Syarbini, Syekh Muqri, dan Syekh Yusuf Hajar. Setelah memperoleh ijazah mengajar tahfiz Al Quran, ia kembali ke Yogyakarta pada tahun 1911.

Baca Juga: Semangat Santri untuk Bangsa dan Demokrasi Indonesia

Otoritas Sanad dan Lahirnya Pesantren Krapyak

KH Muhammad Munawwir dikenal sebagai ulama Jawa pertama yang menguasai qiraat sab‘ah secara lengkap. Sanad tahfiznya bersambung jelas hingga Rasulullah. Rantai sanad ini menjadi dasar otoritas keilmuan beliau dan membentuk reputasi Pesantren Krapyak sebagai pusat pengajaran Al Quran yang ketat dan terpercaya.

Sekembalinya ke Tanah Air, KH  M Munawwir tidak membawa gagasan perubahan yang gaduh. Ia memilih jalur pendidikan. Pesantren menjadi medium utama. Baginya, menjaga kemurnian ilmu dan adab belajar adalah bentuk pengabdian paling nyata bagi umat. Sikap ini menjadi ciri khas Krapyak sejak awal.

Pesantren Krapyak dan Visi Pendidikan

Pesantren Krapyak dibangun dengan penekanan kuat pada ketepatan bacaan, pemahaman makna, dan kedisiplinan belajar. Sistem pendidikannya terbuka. Santri datang dari berbagai daerah dan latar sosial. Krapyak tidak hanya mencetak hafiz, tetapi membentuk ulama dengan cara berpikir tertib dan berakar pada tradisi.

Dalam perjalanannya, Krapyak berkembang menjadi ruang pembentukan karakter. Tradisi keilmuan dijaga, tetapi realitas sosial tidak diabaikan. Dari ekosistem ini lahir banyak tokoh penting NU.

Sejumlah nama besar pernah menyerap tradisi keilmuan Krapyak. Di antaranya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, dan KH Said Aqil Siradj. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Krapyak bukan sekadar pesantren tahfiz, tetapi ruang pembentukan nalar kritis yang tetap beradab.
Baca Juga: 20 Oktober: Awal Tradisi Demokrasi Baru dari Pelantikan Presiden Gus Dur

KH  M Munawwir dan Ruh Keilmuan NU

Walaupun NU berdiri secara organisatoris setelah masa awal Krapyak, nilai yang ditanamkan KH  M Munawwir sejalan dengan ruh NU. Penghormatan pada sanad, keterikatan pada mazhab, dan keseimbangan antara teks dan konteks menjadi benang merahnya.

KH  M Munawwir tidak dikenal sebagai tokoh politik. Namun kontribusinya terasa panjang. Ia menyiapkan manusia. Dalam tradisi NU, ulama besar sering bekerja di balik layar. Mereka memastikan transmisi ilmu berjalan utuh dari generasi ke generasi. Model ini menjadi fondasi NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah.
Baca Juga: KH. Wahid Hasyim : Ulama, Negarawan, dan Pelopor Semangat Demokrasi Indonesia

Jaringan Murid dan Pengaruh Lintas Generasi

Pengaruh KH  M Munawwir tidak berhenti pada murid langsung. Ia membangun ekosistem keilmuan yang hidup. Dari Krapyak, nilai-nilai itu menyebar melalui murid dan murid dari murid. Jaringan ini melahirkan ulama dan intelektual NU lintas zaman.

Gus Dur tumbuh dengan pemikiran kebangsaan dan pluralisme. Gus Mus dikenal dengan dakwah kultural yang menyejukkan. KH Said Aqil Siradj berperan di tingkat nasional. Semua lahir dari ekosistem pesantren yang menempatkan ilmu, adab, dan keterbukaan sebagai fondasi.

Relasi Krapyak dengan Gerakan Islam Modern

Yogyakarta awal abad ke-20 menjadi ruang perjumpaan pesantren, keraton, dan gerakan Islam modern. Dalam konteks ini, KH  M Munawwir   menjaga jarak yang sehat dengan dinamika organisasi. Ia tidak menutup diri dari dialog.

Hubungan personal dengan ulama lain, termasuk KH Ahmad Dahlan, menunjukkan bahwa perbedaan pendekatan tidak harus berujung konflik. Krapyak memilih jalur penguatan ilmu dan tradisi, sambil menghormati ikhtiar pembaruan di ruang lain. Sikap ini kelak menjadi karakter NU dalam menyikapi perbedaan.

Dari Krapyak Menuju Generasi Penerus

KH  M Munawwir mungkin tidak banyak disebut dalam sejarah populer. Namun jejaknya hidup dalam ribuan santri dan dalam tradisi keilmuan NU hari ini. Krapyak membuktikan bahwa perubahan besar sering lahir dari kerja sunyi.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 858 kali