Wamena Papua Pegunungan - Masyarakat suku Huwula di wilayah Pegunungan Tengah Papua hidup dalam harmoni dengan alam, tradisi leluhur, dan relasi sosial yang kuat. Mereka memiliki jalinan kehidupan yang sangat terkait dengan tanah, manusia, dan ciptaan lainnya. Dalam konteks pastoral Gereja Katolik dan khususnya Prasinode Keuskupan Jayapura, filosofi hidup Huwula menjadi sumber inspirasi untuk membangun pelayanan yang inkulturatif, kontekstual dan humanis.
Tiga filosofi utama masyarakat Huwula (Wam, Wen, dan Wene) menjadi pedoman hidup yang membentuk tatanan moral serta kebersamaan komunitas. Nilai-nilai ini tidak sekadar warisan budaya, tetapi juga sebagai wahyu hikmat yang dapat memperkaya perjalanan iman umat di Tanah Papua.
Filosofi Wen — Tanah sebagai Ibu Kehidupan
Wen menegaskan bahwa tanah bukanlah sekadar lahan fisik, tetapi merupakan “ibu kehidupan” bagi masyarakat Huwula sehingga tanah menyediakan pangan, tempat tinggal, dan identitas generasi sekarang maupun yang akan datang.
Masyarakat Huwula memandang tanah sebagai warisan leluhur yang mesti dijaga demi keberlanjutan hidup komunitas. Hubungan dengan tanah mencerminkan keselarasan dengan Sang Pencipta: manusia, tanah, dan alam berada dalam satu relasi. Dalam penggunaan sumber daya alam, tidak boleh ada eksploitasi yang merusak martabat manusia maupun alam.
Untuk Gereja, Wen memanggil agar kita menjadi penjaga rumah bersama dan memperjuangkan keadilan ekologis, selaras dengan ajaran sosial Gereja tentang lingkungan.
Filosofi Wene — Manusia sebagai Saudara
Wene menekankan relasi sosial antar manusia: persaudaraan, solidaritas, dan komunikasi yang jujur. Artinya setiap pribadi di dalam komunitas Huwula dipandang memiliki martabat yang setara. Koherensi relasi dalam keluarga, kampung, dan suku menjadi fondasi perdamaian dan keharmonisan sosial.
Bila terjadi konflik, penyelesaiannya dilakukan melalui dialog dan rekonsiliasi, bukan kekerasan. Nilainya dapat sejalan secara mendalam dengan ajaran sosial Gereja, yang menekankan cinta kasih, rekonsiliasi dan persaudaraan universal.
Filosofi Wam — Alam dan Makhluk Hidup sebagai Sahabat
Hewan atau Wam ini, dipelihara dengan penuh cinta persahabatan. Artinya relasi hewan dan manusia dapat menyatu dan hewan dan tumbuhan juga demikian. Persabatan ini terjadi karena interaksi alami dalam kehidupan bersama. Maka alam bukan hanya latar belakang atau sumber daya semata, melainkan bagian integral dari kehidupan komunitas Huwula.
Aktivitas seperti berburu, bertani, dan memanfaatkan sumber daya alam harus dilakukan dengan bijaksana: ada keseimbangan antara mengambil dan memulihkan.
Gereja mengajak kita untuk memahami spiritualitas ekologis: memuji Tuhan melalui ciptaan dan melindunginya, sebagaimana diungkapkan dalam dokumen Laudato Si’. Dengan demikian, pemikiran ekologi integral menjadi bagian tak terpisahkan dari pemberitaan Injil dan kehidupan umat.
Integrasi dalam Prasinode Keuskupan Jayapura
Proses prasinode di Keuskupan Jayapura hadir sebagai momentum strategis bagi Gereja untuk menggali dan mengangkat nilai budaya lokal—dalam hal ini filosofi Huwula—sebagai kekuatan evangelisasi yang autentik dan menghadirkan Gereja yang inkulturatif mampu berjalan bersama umat dalam konteks budaya dan realitas lokal Papua.
Berdaya dalam membangun umat sebagai penjaga kehidupan menjaga tanah (Wen), mengasihi sesama (Wene), merawat ciptaan (Wam).
Menata arah pastoral yang berpihak pada laki-perempuan, anak-anak, masyarakat adat, rakyat kecil, serta lingkungan hidup.
Menguatkan visi Gereja yang kontekstual, tidak sekadar “datang ke tanah Papua” tetapi “berjalan bersama di Tanah Papua”. Mendorong transformasi sosial dari sekadar budaya ke tindakan nyata—misalnya advokasi lingkungan, penyelesaian konflik antar komunitas, pendidikan berbasis kearifan lokal.
Dampak dan Tantangan
Dampak positif: Dengan mengangkat filosofi Huwula, Gereja mampu lebih relevan dan dipercaya dalam masyarakat. Nilai lokal memberi kerangka kuat untuk pemberdayaan umat dan perlindungan lingkungan.
Tantangan: Memastikan bahwa filosofi tidak hanya menjadi “slogan” tetapi benar-benar diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menghindari reduksi budaya ke komoditas—budaya harus dihormati, bukan hanya dipakai sebagai alat.
Menjaga bahwa inkulturasi tidak berarti kompromi terhadap ajaran iman, melainkan pengayaan yang sehat. Menghadapi tantangan eksternal seperti perubahan sosial, ekonomi, dan ekologi yang cepat—termasuk tekanan terhadap hak-hak tanah adat.
Dengan demikian nilai-nilai Wam, Wen, dan Wene bukan hanya filosofi antropologis, tetapi wahyu hikmat budaya yang mampu memperkaya iman Katolik di lingkungan Papua. Gereja dipanggil untuk berjalan bersama masyarakat Huwula, bersama seluruh masyarakat Papua, dalam semangat Menjaga Tanah — Mengasihi Sesama — Merawat Ciptaan demi terwujudnya damai sejahtera Allah di Tanah Papua Pegunungan.
Ditulis Oleh
Papson Hilapok